Abdullah Bin Umar (Penyayang Fakir Miskin Dan Anak Yatim)

09 Mei 2012

Abdullah bin Umar termasuk seorang sahabat yang memiliki keistimewaan dalam ilmu dan amal. Sejak masih kecil, ia sudah masuk Islam bersama Ayahnya, Umar bin Khattab. Ia termasuk anak cerdas dan hebat yang menjadi kesayangan orang tuanya. Ayahnya benar-benar mendidik kedisiplinan dan ketaatan kepada agamanya. Apalagi lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar sangat mendukungnya dalam hal-hal keislaman. Ia ikut hijrah (pindah) ke Kota Madinah bersama Ayahnya ketika usianya baru menginjak sepuluh tahun.

Ketika itu, Kota Madinah sedang memainkan peranan yang sangat menonjol sebagai pusat pemikiran dan intelektual Islam setelah masa Rasulullah SAW. Abdullah bin Umar mendengar, mencatat dan mempertimbangkan dengan sangat kritis semua cerita dan anekdot tentang Rasulullah yang dituturkan penduduk Madinah. Oleh karena itu, ia bersama sahabat Abdullah bin Abbas menjadi perintis paling awal yang membuka bidang kajian baru, yaitu hadis (tradisi) Rasulullah, disamping menghafal Al-Quran secara sempurna.

Abdullah bin Umar sering bergaul dan selalu dekat dengan Rasulullah. Kecintaannya kepada Rasulullah sangat mengagumkan. Kemana pun Rasulullah pergi, ia sering turut menyertainya. Ia memang tercatat masih ipar Rasulullah, karena saudari kandungnya yang bernama Hafsah binti Umar menjadi istri Rasulullah. Ia senantiasa berusaha mencontoh sifat, kebiasaan harian dan meniru segala gerak-gerik Rasulullah, seperti cara memakai pakaian, makan, minum, bergaul, dan hal lainnya. Atas dasar inilah, ia disegani dan dihormati banyak orang. Bahkan, ia pernah menjadi guru yang mengajari murid-muridnya yang datang dari berbagai tempat, meski tidak lama.

Keistimewaan Abdullah bin Umar 

Abdullah bin Umar adalah pemuda teladan yang tekun beribadah dan senang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apabila sedang membaca Al-Quran atau ketika shalat, dia tak sadarkan diri sampai menangis. Sebelum tidur, ia membentangkan sajadah untuk mengerjakan shalat. Setelah selesai, sajadah itu dibiarkan tetap terbentang di dekat tempat tidurnya. Sejenak ia tidur, lalu bangun lagi untuk mengambil air wudhu dan shalat malam. Hampir setiap malamnya tidak kurang dari empat atau lima rakaat. Begitu rutinitas setiap malam hingga waktu istirahatnya berkurang. Ia selalu memohon ampun kepada Allah. Semua itu dikarenakan rasa takwa dan takutnya kepada Allah.

Keistimewaan lain yang melekat pada diri Abdullah bin Umar ialah keluasan ilmu, kerendahan hati, kebulatan tekad dan ketegasan pendirian, kedermawanan, serta keteguhannya pada contoh yang telah diberikan Rasulullah. Kepribadiannya yang sungguh mengagumkan nyaris tanpa cela sedikit pun. Orang-orang yang semasa dengan Abdullah bin Umar umumnya mengatakan: “Tak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati agar tidak  terselip atau terkurangi sehuruf pun dalam menyampaikan hadis Rasulullah sebagaimana halnya Abdullah bin Umar.”

Ada lagi kehebatan Abdullah bin Umar. Dikisahkan dalam satu perjalanan, ia di tengah jalan tiba-tiba dihadang seekor singa besar dan galak. Singa itu mengaum berkali-kali, seperti hendak memangsanya. Suaranya menggelegar, membuat bulu kuduk merinding. Abdullah bin Umar menghentikan untanya, lalu turun menghampirinya. Mendadak singa itu diam saja dan menjadi penurut. Kedua telinganya kemudian digosok-gosok secara perlahan oleh Abdullah bin Umar.

Selang beberapa menit, singa itu mengibaskan ekornya, lantas pergi meninggalkan Abdullah bin Umar. Seseorang yang mengetahui peristiwa itu merasa takjub. Ia segera mendekat, lalu bertanya kepadanya, ”Bagaimana caranya agar singa itu tidak menerkam Anda?”. Abdullah bin Umar menjawab, dirinya pemah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Jika manusia hanya takut kepada Allah SWT, maka tidak ada hal lain yang bisa menguasainya.” Orang itu langsung menganggukkan kepalanya, sementara Abdullah bin Umar melanjutkan perjalanannya.

Kemurahan Abdullah bin Umar

Abdullah bin Umar termasuk orang yang hidup makmur, kaya raya dan berpenghasilan banyak. Ia pedagang dan saudagar yang jujur dan berhasil dalam sebagian besar kehidupannya. Di samping itu, gajinya dari Baitul maal (kas negara) tidak sedikit pula. Tetapi, tunjangan itu tidak satu dirham pun disimpannya, melainkan dibagi-bagi sebanyak-banyaknya kepada fakir miskin dan anak yatim. Ia banyak memberi kepada orang lain karena ia dikenal sangat pemurah. Bahkan, ia tidak peduli apakah kemurahannya itu akan menyebabkannya miskin atau kelaparan. Ia memang zahid, yakni orang yang tidak berminat terhadap pesona dunia.

Seseorang bernama Ayub bin Ma’il Ar Rasibi pernah menceritakan salah satu contoh kedermawanan Abdullah bin Umar. Pada suatu hari, Abdullah bin Umar menerima uang sebanyak 4.000 dirham dan sehelai baju dingin. Hari berikutnya, Ayub bin Ma’il melihatnya di pasar sedang membeli makanan untuk hewan tunggangannya secara berhutang. Maka, Ayub bin Ma’il pergi menemui keluarga Abdullah bin Umar.

“Bukankah kemarin Abdullah bin Umar menerima kiriman 4.000  dirham dan sehelai  baju dingin?” tanya Ayub bin Ma’il.
“Benar,” jawab salah seorang dari keluarga Abdullah bin Umar.
“Saya lihat ia tadi di pasar membeli makanan untuk hewan tunggangannya dan tidak punya uang untuk membayarnya,” kata Ayub bin Ma’il.

“Tidak sampai malam hari, uang itu telah habis dibagi-bagikannya. Mengenai baju dingin, mula-mula dipakainya, lalu ia pergi keluar. Saat ia kembali, baju itu tidak kelihatan lagi. Ketika kami tanyakan, jawabnya bahwa baju itu telah diberikannya kepada seorang miskin,” tutur keluarganya.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ayub bin Ma’il pamitan pulang. Dalam perjalanan, Ayub bin Ma’il berkata dalam hati, sungguh kedermawanan Abdullah bin Umar bukanlah sebagai alat untuk mencari nama, popularitas atau memperoleh penghormatan dari manusia. Semua niatan itu berasal dari dalam hatinya yang tulus dan semata karena Allah SWT. Pemberiannya pun hanya ditujukan kepada fakir miskin, anak yatim dan orang yang benar-benar membutuhkan. Ayub bin Ma’il menambahkan, jarang sekali ia makan seorang diri, karena pasti disertai anak-anak yatim dan kaum fakir miskin.

Satu waktu, Khalifah Utsman bin Affan pernah menawari Abdullah bin Umar untuk menjabat sebagai hakim. Tetapi ia tidak mau menerimanya. Ia lebih memilih menjadi warga biasa. Memasuki masa tua, Abdullah bin Umar mendapat cobaan dari Allah SWT, yakni kehilangan pengelihatannya. Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis –sejumlah 2.630 hadis setelah Abu Hurairah—ini kemudian wafat pada tahun 72 hijriyah dalam usia 84 tahun. Ia merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang paling akhir yang meninggal di Kota Mekkah Al-Mukarrammah.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق