Khabbab bin Art

13 Mei 2012

Sahabat yang telah masuk Islam dari sejak dini ini berkesempatan mengikuti semua peperangan yang diikuti Rasulullah . Dalam mempertahankan agama yang dianutnya ini, beliau menerima banyak cobaan. Rasulullah mempersaudarakan beliau dengan Jubair bin Atiq. Beliau meninggal di kota Koufah.

Panasnya api tak membuat luluh keimanannya. Justru ia kian merasa bahagia atas luka-lukanya membela Nabi Allah. Direlakannya lehernya sebagai jaminan kebenaran dan kemuliaan risalah yang dibawa Rasulullah .

Dialah Khabbab bin Arats, seorang pandai besi yang meskipun tadinya ia seorang budak, ia bisa bergaul dengan semua kalangan. Pemuka-pemuka Quraisy pun seringkali memesan pedang kepadanya. 

Suatu hari, datang ke rumahnya beberapa orang Quraisy mengambil pesanan senjata. Kebetulan Khabbab sedang tidak ada. Setelah ditunggui beberapa lama, akhirnya Khabbab datang. dengan penuh suka cita, ia langsung saja bercerita bahwa ia baru saja pulang dari rumah Arqam, di sana ia bertemu dengan Rasulullah. Dengan kegembiraan yang terpancar dari wajahnya, diceritakannya perilaku Rasulullah yang begitu menarik hingga membuatnya terkagum-kagum dan mendorongnya untuk masuk Islam. Khabbab pun sempat mengucapkan syahadat di hadapan teman-teman Quraisy-nya itu. 

Kegembiraannya ini menjadikannya lupa sedang berada dimana dirinya. Ia tidak sadar dengan apa yang terjadi dengannya. Tahu-tahu ia telah terkapar pingsan. Begitu terbangun, didapatinya sekujur tubuhnya telah bersimbah darah karena luka. Sambil menahan nyeri ia bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang akan dihadapinya setelah itu. 

Sya’bi, salah satu kawan sependeritaan Khabbab, menggambarkan kegilaan orang-orang Quraisy yang menyiksa Khabbab. ‘Orang-orang kafir itu datang kepada Khabbab dan menyeretnya keluar kemudian menindihnya dengan batu yang membara, hingga meluluhkan dagingnya. Namun hati Khabbab tak sedikitpun terpengaruh, justru membuat ia semakin yakin akan kebenaran risalah yang diikutinya.’

Sahabatnya yang lain menceritakan bahwa orang-orang kafir itu datang ke rumah Khabbab. Mereka membakar besi-besi yang hendak dijadikan pedang. Kemudian setelah membara mereka guanakan untuk tiang mengikat tangan, kaki, berikut tubuh Khabbab. 

Rasulullah pernah menyaksikan kekejaman orang kafir terhadap Khabbab, namun pada saat itu tidak ada yang bisa diperbuat mengingat umat Islam masih sangat minoritas. Rasulullah hanya bisa berdo’a agar Allah memberikan pertolongan-Nya sambil meminta yang bersangkutan bersabar. Harapan Rasulullah terbukti. Ummi Ammar yang seperti kesetanan menyiksa Khabbab, tak lama kemudian terkena penyakit panas yang aneh. Penyakit itu bisa berkurang kalau setiap pagi dan petang punggung dan kepalanya disetrika dengan besi yang membara. 

Khabbab termasuk salah satu generasi pertama sahabat Rasul. Selain ahli ibadah, ia juga seorang guru ngaji yang Rasulullah sendiri pernah mengatakan, “Barang siapa ingin membaca al Qur’an, hendaklah ia meniru bacaan Khabbab Ibnu Ummi Abdin”. Khabbab mendapatkan kelebihannya itu untuk mengajar orang-orang yang masuk Islam. Khabbab jugalah yang mengajar Fatimah binti Khattab (saudara perempuan Umar bin Khattab) dan suaminya membaca Al Qur’an. 

Sampai akhir hayat Rasulullah, Khabbab tidak pernah ketinggalan untuk pergi berperang. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dimana saat itu keadaan baitul maal sudah membaik, Khabbab mendapatkan gaji yang cukup besar. Walaupun begitu ia tidak pernah lupa untuk bersedekah. sampai-sampai ia membuat tempat untuk menyimpan uang tepat di ruang tamu dan tidak pernah ia tutup dengan selembar benang pun, karena memang disediakannya untuk para tamu yang membutuhkannya.

Ada kebiasaan aneh yang tetap tak bisa dihindarinya dalam kondisi banyak harta seperti itu. Ia begitu sering menangis. Masih kurangkah gajinya? “Sesungguhnya saya tidak merasa kekurangan. Justru kelebihan itulah yang mengingatkan saya kepada para sahabat yang telah meninggalkan kita dengan membawa semua amalnya, sebelum mendapatkan ganjaran di dunia. Sedangkan kita masih hidup dan mendapat kekayaan yang melimpah hingga tak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali di tanah…”

Subhanallaah… kalau iman yang berkata, seolah dunia ini tidak ada apa-apanya, yang ada hanya Allah dan Rasul-Nya.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق