Yahya Bin Muadz

09 Juli 2012

Kitab-kitab tentang riwayat hidup para tokoh tidak ada yang menyebutkan keterangan yang lengkap lagi memuaskan tentang Yahya bin Mua’adz as., dan dia tidak mendapat perhatian dan sebutan yang cukup tentang riwayat hidupnya. Jika ada sebetan mengenai dirinya, hal itu hanya berupa petikan yang pendek-pendek terdiri dari sebaris, dua baris, atau tiga baris kalimat dan hanya inilah yang dapat aku temukan. Jika ternyata ditemukan sesuatu yang lain dari itu, hal tersebut merupakan karunia yang besar. Jelasnya, beliau wafat pada abad ketiga Hijriyah, tepatnya pada tahun 258 Hijriyah.

Abu Na’im Al-Ashfahani dalam bukunya yang berjudul Hilyatul Auliya mengatakan tentang Yahya bin Mu’adz sebagai berikut:

“Orang yang suka memuji lagi bersyukur, menerima apa adanya lagi penyebar, dan selalu berharap lagi suka memohon perlindungan kepada Allah, dialah Yahya bin Mu’adz, seorang juru nasihat lagi banyak berdzikir. Dia menetapi pekerjaan pande besi untuk menghindarkan diri dari pandangan para hamba (tidak ingin terkenal), tidak suka tidur malam hari demi meraih kecintaan Allah, dan tahan menghadapi berbagai kesulitan sebagai sarana untuk mendorong lebih bersyukur.”

Ibnul Jauzi dalam bukunya yang berjudul Shafwatush Shafwah mengatakan tentangnya:

“Dia tinggal di Ar-Ray, kemudian pindah ke Nisabur, lalu bertempat tinggal di sana hingga meninggal dunia. Mereka tiga bersaudara, yaitu Isma’il, Yahya, dan Ibrahim; Isma’il yang tertua, Yahya penengah; dan yang paling muda adalah Ibrahim. Ketiga-tiganya adalah ahli zuhud.”

Ibnul Imad dalam bukunya yang berjudul Syadzaraatudz Dzahab mengatakan:

“Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, seorang yang zuhud lagi Arif, orang yang bijak pada masanya, juru nasihat pada masa hidupnya, dan wafat di Naisabur.”

Al-Khathibul Baghdadi dalam bukunya yang berjudul Tarikh Baghdad mengatakan:

“Yahya bin Mu’adz alias Abu Zakaria Ar-Razi adalah seorang juru nasihat. Dia berpindah dari Ar-Ray, lalu tinggal di Naisabur hingga wafat. Dia pernah datang ke Baghdad, lalu bergabunglah dengannya para ahli ibadah. Merema membuatnya sebuah mimbar untuknya, lalu memdudukkannya dimimbar tersebut dan mereka duduk dihadapannya seraya memohon perlindungan kepada Allah.”

Al-Imam Adz-Dzahabi dalam karya tulisnya yang berjudul Sairu A’laamin Nubala (Perjalanan hidup para tokoh yang mulia) memberikan komentarnya tentang Yahya:

“Yahya bin Mu’adz Ar-Razi adalah seorang juru nasihat, termasuk salah seorang Syekh terkemuka. Ia mempunyai kalam yang baik dan nasihat-nasihat yang terkenal.”

Az-Zarkali dalam karya tulisnya yang berjudul Al-A’lam (para tokoh) mengataklan tentangnya:

“Yahya bin Mu’adz bin Ja’far Ar-Razi wafat pada tahun 258 Hijriyah. Ia seorang juru nasihat yang zuhud, tiada yang setara dengannnya pada masanya, termasuk penduduk Ar-Ray, dan tinggal di Balakh. Ia meninggal duni di Naisabur.”

Ibnu Khalkan dalam bukunya yang berjudul Wafiyyatul A’yaan (Kematian para tokoh) menyebutkan tentangnya:

“Yahya bin Mu’adz adalah orang yang langka pada masanya. Dia mempunyai lisan dalam subjek ar-raja (harapan), khususnya pembicaraan tentang makrifat. Ia keluar dari kampung halamannya menuju Balakh dan tinggal disana selama satu masa, lalu kembali ke Naisabur dan meninggal dunia disana.”

Ibnul Atsir dalam karya tulisnya yang berjudul Al-Kaamil mengatakan:

“Pada tahun 258 wafatnya Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, seorang juru nasihat, yaitu pada bulan Julmadil Ula. Dia adalah ahli ibadah yang shalih.”

Ibnul Mulaq dalam karya tulisnya yang berjudul Thabaqaatul Auliya mengatakan tentangnya:

“Yahya bin Mu’adz Ar-Razi seorang juru nasihat alias Abu Zakaria, salah seorang tokoh poros para wali. Dia seorang yang langka pada masanya dalam bidangnya. Dia wafat pada tahun 258 Hijriyah.”[*]

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق