Hindun Binti Amr Bin Haram (Keteguhan Sang Wanita Pengusung Jenazah)

17 Mei 2012

Dalam wacana keislaman baik itu dalam bentuk tulisan, diskusi, seminar, pengajian, dan lain sebagainya kita lebih sering mendengar bahwa para sahabat Nabi dan orang-orang yang memperjuangkan Islam pada waktu itu adalah dari kalangan laki-laki.

Padahal jika kita membuka kembali lembaran sejarah Islam, niscaya tidak sedikit wanita mukminah yang turut memperjuangkan Islam. Wanita mukminah merupakan bagian positif yang ikut serta memikul beban dan tanggung jawab dalam memerangi musuh Allah.

Salah satu diantaranya adalah Hindun. Ketika kita mendengar nama Hindun, pasti yang ada di dalam benak kita adalah wanita ‘Si Pemakan Jantung’ yang keji dan beringas terhadap umat Islam, namun akhirnya ia menghiasi dirinya dengan sinar Islam. Dialah Hindun bin Utbah. akan tetapi Hindun yang ini berbeda dengan Hindun yang memiliki julukan ‘Si Pemakan Jantung’. Kendatipun ia kurang begitu populer, tetapi peranannya cukup menghiasi lembaran sejarah Islam.

Hindun binti Amr bin Haram, adalah istri Amr bin Jamuh. Hatinya penuh dengan keimanan dan rasa cinta terhadap agama yang dipeluknya.

Karena itulah ia mengikhlaskan segala apa yang ia miliki sekalipun suami dan anak tercintanya ia korbankan demi memperjuangkan Al Islam. Suami Hindun seorang terkemuka dan terpandang di kalangan kaumnya.

Sekalipun suami Hindun seorang yang pincang, namun karena panggilan jihad dan dimotivasi istrinya, akhirnya ia terpanggil pula untuk membela agama Allah serta memerangi musuh Allah hingga ia mati syahid. Tidak hanya suaminya, anaknya juga yakni Khallad bin Amr bin Jamuh dan saudaranya yang bernama Abdullah bin Amr bin Haram, mati syahid pula dalam peperangan.

Ketegaran Hindun turut menghantarkan kepergian tiga orang yang dicintainya untuk menemui Kekasih dambaannya, Allah SWT. Lalu Hindun membawa mereka diatas unta menuju ke Madinah untuk dikuburkan di sana. Ketika Aisyah melhat Hindun, lalu ia bertanya, “Ya Hindun, semoga engkau memperoleh kebaikan. Apakah yang berada di belakangmu?’ Jawab Hindun, “Rasulullah adalah orang yang shaleh, dan setiap musibah selain kehilangan beliau adalah kecil. Dan Allah telah mengangkat beberapa orang mukmin sebagai syuhada.” Lalu Aisyah bertanya lagi, “Ya Hindun, akan engkau bawa kemana mereka itu?” Jawab Hindun, “Akan aku bawa ke Madinah dan hendak aku kuburkan di sana.”

Lalu Ummu Khallad ini pun memacu untanya, agar lebih cepat menelusuri jalan. Tetapi unta yang ditumpanginya tidak mampu melaju cepat. Akhirnya Hindun memutar halauan, menuju ke arah medan peperangan. Sungguh keajaiban yang luar biasa ketika itu unta yang ditumpanginya bergerak serta berjalan sangat cepat, hingga akhirnya sampai di Uhud. Akhirnya di Uhud, Hindun bertemu dengan Rasulullah. Lalu Rasulullah mendekati jenazahnya.

Seraya bersabda, “Sungguh aku melihatmu (Amr bin Jamuh) berjalan di dalam syurga dengan kakimu ini dalam keadaan sehat.” Lalu Rasulullah menyuruh para sahabatnya agar menguburkan mereka (Amr bin Jamuh, anaknya, dan saudaranya dalam satu liang kubur). Rasulullah berkata, “Ya Hindun, mereka akan bersahabat di dalam syurga. Amr bin Jamuh suamimu, Khallad puteramu, dan Abdullah saudaramu, semuanya akan menjadi penghuni syurga.”

Mendengar keterangan Rasulullah, Hindun merasa bangga dan bahagia. Lalu berkata, “Ya Rasulullah. do’akanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.”

Lalu Rasulullah berkata : “Wahai Hindun, engkau memiliki kesabaran yang tinggi, keimanan yang luhur dan kepercayaan yang kuat kepada apa yang berada di sisi Allah, engkau tidak pernah berkeluh kesah dalam menempuh kehidupan ini. Sebaliknya engkau sangat mencintai apa yang berada di sisi Allah.”

Kalau kita amati peristiwa yang telah dialami oleh Hindun, sungguh mengherankan. Seorang wanita yang kehilangan suami, anak, dan saudara kandungnya dalam sehari, namun hatinya tiada bergoncang dan air matanya tiada mengalir.

Itu semua karena keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya telah kokoh tertanam dalam hati, sehingga tidak ada lagi ruang dan relung hati untuk berduka cita. Semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya telah menjadi tujuan hidupnya. Sehingga segala apapun yang ia miliki semua itu dikorbankannya demi tegaknya panji Islam. Beliau memiliki putera empat orang dan semuanya diikutsertakannya dalam perang.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق