Ummu Sinan (Pejuang Wanita Sejati)

17 Mei 2012

Ummu Sinan Al-Aslamiyah adalah salah seorang mujahidah yang mulia. Ia juga seorang shahabiyah (sahabat wanita) yang mengikuti berbagai peristiwa bersama Rasulullah, baik dalam keadaan aman maupun jihad.

Pada saat Rasulullah dan kaum Muslimin akan berangkat ke Khaibar. Ummu Sinan mendatangi Rasulullah dan memohon izin untuk turut berjihad. "Wahai Rasulullah, aku akan berangkat bersamamu dalam menghadapi musuh. Aku bisa memberi minum orang yang kehausan, mengobati orang-orang sakit dan terluka," ujarnya.

Rasulullah pun mengizinkannya turut berjuang. "Baiklah, berangkatlah kau dengan barakah Allah. Kau juga mempunyai beberapa rekan yang akan turut serta. Aku telah mengizinkan mereka dari kalangan wanita dan beberapa orang lainnya dari kaummu. Terserah kau, apakah kau ikut bersama kaummu atau ikut rombongan kami?" kata Rasulullah.

Ummu Sinan menjawab, "Aku akan beserta rombonganmu."

"Baiklah, kau berangkat bersama Ummu Salamah, istriku," kata Nabi SAW.

Maka berangkatlah Ummu Sinan bersama Ummu Salamah menuju medan Perang Khaibar. Dia memiliki wawasan yang luas berkenaan dengan peran wanita ketika berada di tengah-tengah barisan para mujahidin.

Salah satu perannya adalah memberi minum para prajurit yang terluka dan mengobati mereka yang cedera. Bahkan Ummu Sinan memiliki keterampilan dalam menunggang kuda dan seni peperangan.

Berkat peran dan kontribusinya dalam jihad, tak jarang Ummu Sinan mendapatkan harta rampasan perang. “Ketika penaklukan Khaibar, Rasulullah mengucurkan sebagian harta rampasan perang. Beliau memberiku untaian kalung berwarna merah dan perhiasan dari perak yang didapat dari harta rampasan perang. Beliau juga memberiku kain beludru dan selimut dari Yaman serta kuali dari kuningan," tuturnya.

Setelah penaklukan Khaibar, Ummu Sinan pulang bersama Ummu Salamah. Ia mengendarai unta milik Nabi. Ketika hampir masuk Kota Madinah, Ummu Salamah berkata kepadanya, “Unta yang engkau tunggangi adalah milikmu, Rasulullah telah memberikannya kepadamu.”

Demikian pula, ketika meletus Perang Tabuk pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyah. Rasulullah menyeru dan mengimbau kaum Muslimin untuk berjihad dan mengeluarkan sedekah untuk biaya peperangan. Kaum Muslimin laki-laki berlomba-lomba menafkahkan harta semampu mereka.

Kaum wanita juga demikian, mereka mengirimkan apa yang mereka sanggup sumbang. Tak terkecuali Ummu Sinan. Dia juga berkontribusi besar dalam Perang Tabuk, sebagaimana para Muslimah yang lain.

“Aku menyaksikan kain terbentang di hadapan Rasulullah di rumah Aisyah, Ummul Mukminin. Di atas kain tersebut terdapat gelang, kalung, dan cincin. Dan para wanita pembantu dikirimkan untuk membantu para prajurit mempersiapkan segala perlengkapannya,” kata Ummu Sinan, mengenang persiapan Perang Tabuk.

Selain itu, Ummu Sinan juga memiliki keutamaan dalam meriwayatkan dan menghafal hadits dari Rasulullah. Beberapa orang dan anak perempuannya, Tsabitah binti Hantalah Al-Aslamiyah, juga meriwayatkan hadits dari Ummu Sinan.

Ummu Sinan adalah mujahidah pecinta akhirat. Ia tak segan-segan meninggalkan urusan duniawi demi menggapai kemuliaan di akhirat. Ia termasuk wanita yang namanya diabadikan dalam sejarah Islam.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق