Fathimah Binti Walid (Memahami Arti Sebuah Persaudaraan)

17 Mei 2012

Beliau adl Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam bin Mughirah al-Makhzumiyah. Beliau adl putri dari saudaranya Abu Jahal Amru bin Hisyam yg menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya. Adapun ibu beliau bernama Fathimah binti al-Walid. 

Sesungguhnya Ummu Hakim diberi ni’mat berupa akal yg cemerlang dan hikmah yg fasih. Ayahanda beliau yakni al-Haris menikahkan beliau pada masa jahiliyah dgn putra pamannya yaitu Ikrimah bin Abu Jahal yg mana dia adl salah seorang dari orang-orang yg telah diumumkan Rasulullah utk dibunuh. Ketika kaum muslimin mendapat kemenangan dan kota Mekah telah dibuka Ikrimah bin Abu Jahal melarikan diri ke Yaman krn dia mendengar ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya. 

Manusia masuk agama Allah dgn berbondong-bondong masuk Islamlah al-Haris bin Hisyam dan juga putrinya yaitu Ummu Hakim dan baguslah keislamannya. Ummu Hakim termasuk wanita yg berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia merasakan manisnya iman yg telah memenuhi kalbunya sehingga kemudian ia ingin agar orang yg paling dia cintai dan paling dekat dengannya yaitu suaminya Ikrimah bin Abu Jahal merasakan manisnya iman sebagaimana yg beliau rasakan. Kebijakan dan kejernihan akalnya telah menuntun beliau utk menghadap Rasulullah saw utk meminta keamanan bagi suaminya bila dia masuk Islam. 

Alangkah girangnya hati beliau mendengar jawaban Rasulullah saw sang pemilik jiwa yg besar yg mau memaafkan dan menjamin keamanan jiwanya. Selanjutnya Ummu Hakim segera bertolak utk mengejar suaminya yg melarikan diri dgn harapan beliau dapat menemukannya sebelum kapal berlayar. Beliau menempuh jalan yg sulit dan membawa perbekalan yg minim namun tidak berputus asa beliau tidak merasa lemah krn tujuan yg agung telah meringankan penderitaan yg banyak dan banyak lagi. Takdir Allah menghendaki agar beliau dapat bertemu dgn suaminya di sebuah pantai yg tatkala itu kapal nyaris hendak berlayar. Selanjutnya Ummu Hakim berteriak kepada suaminya “Wahai putra pamanku?. aku datang kepada kamu krn utusan manusia yg paling suka perdamaian manusia yg paling berbakti sebaik-baik manusia maka janganlah engkau membinasakan dirimu aku telah meminta jaminan keamanan bagimu!” Ikrimah berkata “Apakah engkau benar-benar telah melakukannya?” “Benar” jawab Ummu Hakim. Kemudian beliau menceritakan kepada suaminya tentang akidah yg telah memenuhi kalbunya dan telah beliau rasakan manisnya dan bahwa beliau belum masuk Islam kecuali setelah beliau mengetahui bahwa ternyata Islam adl agama yg sempurna dan bahwa Islam itu tinggi tiada yg lbh tinggi darinya. Beliau ceritakan pula tentang pribadi Rasul yg mulia dan bagaimana pula beliau memasuki Mekah dgn menghancurkan berhala-berhala di dalamnya serta pemberian maaf beliau kepada manusia dgn jiwa yg besar dan jiwa beliau terbuka bagi tiap manusia utk memaafkan. Inilah kemenangan bagi Ummu Hakim ra yg telah menabur benih yg baik pada jiwa suaminya hingga selanjutnya beliau kembali bersama suaminya utk menghadap Rasulullah saw dan Ikrimah mengumumkan keislamannya di hadapan Rasulullah dan beliau memulai lembaran barunya dgn Islam yg hampir saja dia terdampar dalam kegelapan Jahiliyah dan paganisme. 

Maka Rasulullah saw membuka kedua tangannya utk menyambut kembalinya seorang pemuda secara total yg hendak menunjukkan loyalitasnya kepada Allah dan Rasulnya. Selanjutnya Ikrimah ra senantiasa meneguk dari sumber akidah Islamiyah hingga memancarlah pada jiwanya keimanan yg tulus dan kecintaan yg murni serta mendorong beliau terjun ke dalam kancah peperangan sedangkan di belakangnya adl pengikutnya yg masing-masing mampu memanggul senjata. 

Di dalam kancah pertempuran beliau membai’at kepada sahabat-sahabatnya utk mati di jalan Allah Azza wa Jalla dia tulus utk mencari syahid sehingga Allah mengabulkannya beliau berhasil meraih indahnya syahid di jalan Allah. Akan tetapi Ummu Hakim sebagai wanita mukminah sedikit pun tidak bersedih hati beliau tetap sabar meskipun saudara ayah dan bahkan suaminya telah syahid di medan perang. Sebab bagaimana mungkin beliau bersedih hati padahal beliau berangan-angan agar dirinya dapat meraih syahid sebagaimana yg telah berhasil mereka raih? Dan syahid adl angan-angan dan cita-cita tertinggi seorang mukmin yg shadiq. 

Setelah berselang beberapa lama dari kesyahidan suaminya yakni Ikrimah ra beliau dilamar oleh seorang panglima kaum muslimin dari Umawiyah yg bernama Khalid bin Sa’id ra. Tatkala terjadi perang Marajush Shufur Khalid hendak mengumpuli beliau namun Ummu Hakim menjawab “Seandainya saja engkau menundanya hingga Allah menghancurkan pasukan musuh.” Khalid berkata “Sesungguhnya saya merasa bahwa saya akan terbunuh.” Ummu Hakim berkata “Jika demikian silahkan.” Maka Khalid melakukan malam pengantin dgn Ummu Hakim di atas jembatan yg pada kemudian hari dikenal dgn jembatan Ummu Hakim. 

Pada pagi harinya mereka mengadakan walimah utk pengantin. Belum lagi mereka selesai makan. Pasukan Romawi menyerang mereka hingga sang pengantin laki-laki yg juga sebagai panglima perang terjun ke jantung pertempuran. Ia berperang hingga syahid. Maka Ummu Hakim mengencangkan baju yg beliau kenakan kemudian berdiri utk memukul pasukan Romawi dgn tiang kemah yg dijadikan walimatul urs dan bahkan beliau mampu membunuh tujuh orang di antara musuh-musuh Allah. Alangkah indahnya malam pertamanya dan alangkah indahnya waktu paginya. Begitulah para wanita mukminah mujahidah dan yg bersabar merayakan malam pertamanya di medan perang kemudian pagi harinya berjihad dan berperang.

Hal ini tidaklah mengherankan krn ternyata Ummu Hakim adl putri dari saudara wanitanya “saifullah al-maslul” seorang panglima yg pemberani yaitu Khalid bin Walid ra. Semoga Allah merahmati Ummu Hakim seorang wanita mukminah shadiqah pencetak para pahlawan setia dan tulus mengentaskan suaminya dari kesesatan dan kekafiran menuju cahaya Islam. Beliau juga berperang dgn jiwanya memerangi musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah membalas pengorbanannya terhadap diennya dgn balasan yg baik dan semoga Allah mejadikan putri-putri kita saudari-saudari kita dan istri-istri kita termasuk orang-orang yg mendengarkan perkataan kemudian mengikuti yg terbaik. Sumber Nisaa’ Haular Rasuuli Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Mushthafa Abu Nashr asy-Syalabi Al-Islam

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق