Ghasab

30 April 2012

1.    Pengertian Ghashab
Ghashab menuru bahasa berarti mengambil secara dzalim. Adapun menurut syariat berarti menguasai harta orang lain dengan alasan yang tidak benar. 
 
Tindakan ini termasuk kedzaliman yang diharamkan di dalam al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’. Pelakunya harus mengembalikan apa yang dighashab, karena itu termasuk masalah mengembalikan kedzaliman kepada orang yang didzalimi.
 
Perbuatan Ghashab adalah kejahatan yang diancam hukuman pidana (hukuman dunia). Dalam syari’at Islam hukuman ghashab ialah dipotong tanggannya.
 
2.    Dasar Hukum Ghashab
·         Al-Qur’an
Ghashab, merampas hak orang lain adalah perbuatan zhalim, sedangkan perbuatan zhalim termasuk kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.
Allah swt berfirman:
 
Artinya   :  Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui. (QS al-Baqarah: 188).
 
Sebab turunnya ayat ini ialah seperti yang diriwayatkan Bahwa ibnu Asywa Al-Hadrami dan Imri’il Qais teribat dalam sesuatu perkara soal tanah yang masing-masing tidak dapat memberikan bukti. Maka Rasulullah saw. Menyuruh Imri’il Qais (sebagai terdakwa yang ingkar) supaya bersumpah. Tatkala Imri’il Qais hendak melaksanakan sumpah itu turunlah ayat ini.
 
Pada bagian pertama dari ayat ini Allah melarang agar jangan memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. Yang dimaksud dengan “memakan” disini ialah “mempergunakan” atau “memanfaatkan” sebagaimana biasa dipergunakan dalam bahasa Arab dan bahasa lainnya. Dan yang dimaksud dengan “batil” ialah dengan cara yang tidak menurut hukum yang telah ditentukan Allah.
 
Para ahli tafsir mengatakan banyak hal-hal yang dilarang yang termasuk dalam lingkungan bagian pertama dari ayat ini, antara lain :
a.       Memakan riba
b.      Menerima zakat bagi orang yang tidak berhak menerimanya.
c.       Makelar-makelar penipuan terhadap pembeli atau penjual.
 
Kemudian pada ayat bahagian kedua atau bahagian terakhir dari ayat ini Allah swt. melarang membawa urusan harta kepada hakim dengan maksud untuk mendapatkan sebahagian dari harta orang lain dengan cara yang batil, dengan menyogok atau memberi sumpah palsu atau saksi palsu.
  Hadits
 
عَنْ سَعِيْدِ بْنُ زَيْدٍ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ ص قَالَ (مَنِ اقْتَطَعَ شِيْرًا مِنَ اْلاَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقُهُ اللهُ اِيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ اَرَضِيْنَ). منتفق عليه.
 
Artinya   :  Dari Sa’id bin Zaid, bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabada “Barangsiapa ambil sejengkal dari bumi dengan kezhaliman, niscaya Allah kalungkan dia dengannya pada hari Qiyamat dari tujuh bumi”.
 
Pendapat علامة
 
Syaikhul islami ibnu Taimiyah berkata : “Jika yang haram bercampur dengan yang halal, seperti barang yang dikuasai dengan ghashab, riba dan judi, lalu tidak ada kejelasan ketika ia bercampur dengan yang lain (yang halal), maka tidak diharamkan untuk dicampur. Jika di suatu lahan ada gambaran seperti ini, tidak diketahui secara jelas garis perbedaannya, maka tidak diharamkan bagi seorang untuk membeli lahan itu. Tapi jika mayoritas harta seseorang diperoleh dengan cara haram, maka apakah menggunakan harta itu haram ataukah makruh? Jawabannya dapat dititik dari dua sisi, yang pasti, jika mayoritas hartanya halal, maka tidak diharamkan menggunakannya”.
 
Menurut Al-Qurtuby : dari hadits yang disebutkan bahwa dapat disimpulkan tentang kemungkinan masuknya meng-ghashab tanah dalam dosa-dosa besar”.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق