Zubir Bin Awam

19 Desember 2011

Zubir bin Al-Awwam tergolong salah seorang pahlawan Islam yang gagah perkasa dan handal di zaman Rasulullah s.a.w. Keberaniannya dapat disamakan dengan Saiyidina Ali r.a. atau Saiyidina Hamzah bin Abdul Mutalib.

Kisah yang paling herois dan sangat monumental adalah ketika beliau memimpin pasukan tentara Islam yang hanya berjumlah kurang lebih 25000 pasukan untuk melawan pasukan tentara Romawi yang berjumlah 250.000 lebih dan lengkap dengan alat perangnya yang dikenal dengan perang Yarmuk. Dari segi jumlah Umat Islam sangat sedikit dibandinkan tentara Romawi. Dengan melihat begitu besarnya pasukan tentara Romawi tidak membuat nyali Zubair ciut justru ia semakin bersemangat untuk memulai perang. Singkat cerita ketika pasukan islam sudah berhadapan dengan pasukan tentara Romawi, kedua belah pihak sudah siap melakukan peperangan, tiba-tiba sebagian perajurit atau pasukan umat islam ada yang ragu apakah mampu untuk melawan tentara Romawi yang begitu banyak jumlahnya.

Zubair Bin Al Awwam sebagai panglima perang selalu memberikan motivasi dan meyakinkan para sahabatnya untuk tetap tegar dan bersabar menghadapinya. Salah seorang sahabat berkata, wahai panglima apa mungkin kita mengalahkan mereka? Sangat mungkin!’’ karena Allah SWT bersama kita” yakinlah akan pertolongan-Nya. Setala Zubair berkata demikian iapun segera memacu kudanya sekencang-kencangya melesat bagaikan anak panah, dengan pedang terhunus maju sendiri menuju kearah pasukan tentara Romawi yang masih berbaris rapi beserta panglima perangnya. Melihat Zubair sendiri pergi tanpa ada pengawal para sahabat merasa cemas, namun itu keraguan itu semua ditepis oleh Zubair dengan gagah berani ia menyerang barisan tentara Romawi yang begitu besar dan mampu menembus blockade tentara Romawi sampai kebarisan atau pertahan paling belakang kemudian kembali berputar kedepan sehingga pasukan Romawi terbelah barisannya menjadi dua dan beliaupun kembali kepada pasukan Islam dengan cepatnya tanpa sedikitpun pedang musuh mengenai tubuhnya.

Ketika ia sudah kembali bergabung bersama tentara Islam para sahabat pun pada ta’jub melihat kecepatan dan kegesitan Zubair untuk menembus blocakade musuh dengan hanya seorang diri. Dalam kondisi pasukan yang masih heran” Zubair berkata sudah saya bilang kita mampu untuk melawan mereka. Karena masih ada pasukan Islam yang sedikit ragu akhirnya Zubair kembali pergi menyerang sendirian namun pada kali yang kedua ia sempat terkena sabetan pedang musuh tapi akhirnya dapat kembali berkumpul dengan pasukan Islam dengan selamat. Dan pada akhir peperangan Yarmuk ini umat islam memenangkan peperangan. 

Dari perang yarmuk ini betapa beliau adalah salah satu Panglima tangguh yang pernah ada pada zaman Rasulullah SAW, maka kemudian perang ini juga dinamakan perangnya Zubair Bin Al Awwam

Kemudian kisah yang kedua adalah ketika terjadi perang Uhud pada saat itu seorang pahlawan musyrik telah keluar dari tempat pertahanannya ke tengah-tengah medan pertempuran untuk berlawan pedang satu sama satu dengan tentera Islam. Ia menyeru pahlawan-pahlawan Islam datang kepadanya. Tiga kali ia menyeru namun tentera Islam masih berdiam diri juga.

Demi untuk membela kehormatan tentera Islam, Zubir lantas melompat ke atas untanya, lalu pergi menghadapi musuh yang sudah lama menanti. Sesudah dekat dengan unta musuh, segeralah ia melompat ke atasnya. Maka terjadilah pergelutan yang dahsyat. Tidak lama kemudian, Zubir dapat menggulingkan musuhnya ke bawah. Lantaran itu mudahlah baginya menyembelih leher musuh itu.

Melihat kejadian itu baginda Rasulullah s.a.w. amat gembira sekali seraya berkata: "Setiap nabi mempunyai pembantunya sendiri dan Zubir adalah pembantuku." Kemudian Rasulullah menyambung lagi, katanya: "Sekiranya Zubair tidak segera keluar mendapatkan musyrik itu, tentulah aku sendiri yang terpaksa keluar mendapatkannya."

Dan pada akhirnya Zubair Bin Al-Awwam juga panglima Islam yang kemudiannya berhasil menaklukan kota Babylon yang termashur dalam sejarah Islam.

Kisah Raja Yang Adil
Dalam kisah ini kita dapat menghayati bagaimana perjuangan Rasulullah dalam mempertahankan akidah dan keselamatan nyawa kaum muslimin Mekkah pada permulaan Islam. Umat Islam pada waktu itu adalah kaum minoritas. Dakwah Rasulullah dan keberadaan mereka telah menimbulkan kekhawatiran dan kamarahan tokoh-tokoh musyrikin Mekkah. Mereka berusaha menggagalkan perjuangan Nabi dengan berbagai fitnah dan tindakan kekerasan. Mereka tidak segan-segan melakukan penyiksaan dan intimidasi agar semangat para pengikut Nabi menjadi pudar hingga mereka mau kembali ke agama yang mereka anut sebelumnya.

Akhirnya Rasulullah memutuskan untuk menghijrahkan mereka dan mempersilakan siapa saja yang bersedia untuk meninggalkan sementara kota Mekkah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Arti hijrah secara terminologi adalah “berpindah”. Hijrah di sini maksudnya adalah berpindah ke tempat lain yang lebih kondusif untuk tujuan penyelamatan dan penyusunan strategi serta kekuatan untuk menguasai kembali daerah yang ditinggalkan. Pilihan Rasulullah jatuh pada negara Habsyah (Ethiopia) yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang raja yang terkenal bijaksana bernama Najjasyiy.

Dalam Zabur disebutkan bahwa Najjasyiy adalah penganut agama Nabi Isa a.s. (Nasrani). Keadilan Najjasyiylah yang menjadi pertimbangan Rasulullah untuk menganjurkan para sahabat dan pengikut-pengikutnya berhijrah ke sana meskipun beliau tahu pemimpinnya adalah seorang non-muslim. Faktor lain yang membuat Rasulullah lebih yakin dengan keputusannya adalah adanya kesamaan visi antara dakwah Nabi dan Najjasyiy, yakni menjunjung tinggi keadilan. Li anna fiha malikan la yudhlamu ‘indahu ahadun… tidak ada seorang manusia pun yang terzalimi di bawah pimpinan Najjasyiy.

Rombongan pertama berjumlah 15 orang terdiri dari sebelas laki-laki dan empat perempuan. Di antara mereka terdapat Usman bin Affan dan istri beliau Ruqayyah yang juga putri Rasulullah Saw, Zubir bin Awwam dan Abu Huzaifah beserta keluarganya. Di sini saya ingin menjelaskan sedikit tentang sosok Zubair bin ‘Awwam yang sangat jarang kita dengar kisahnya padahal kedudukan dan kapasitas ilmu pengetahuan beliau setara dengan para Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali). Zubir bin Awwam adalah salah seorang dari sepuluh sahabat (termasuk para khulafaurrrasyidin) yang mendapatkan jaminan masuk surga berdasarkan hadits shahih. Mereka ini dinamakan dengan al mubasysyaruna bil Jannah.

Adapun yang tinggal dan bertahan di Mekkah pada waktu itu adalah mereka yang bertekad mempertahankan nyawa dan imannya di tengah ancaman dan intimidasi yang dilakukan kaum Quraisy, termasuk Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan lain-lain.

Setelah keberangkatan rombongan pertama, kaum muslimin yang menyusul dan pindah ke Ethiophia pun bertambah. Bahkan, jumlah mereka mencapai 101 orang yang terdiri dari 83 laki-laki dan 18 perempuan.

Reaksi Quraisy
Perkembangan tersebut ternyata menimbulkan kekhawatiran di kalangan kaum musyrikin Mekkah terutama para tokohnya. Akhirnya mereka mengirimkan dua orang utusan ke Ethiopia, yaitu ‘Amru bin ‘Ash (sebelum ia masuk Islam) dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Misi dari para utusan tersebut adalah untuk bernegosiasi dengan Najjasyiy supaya memulangkan orang-orang yang mendapat suaka politik darinya.

Selanjutnya, untuk memuluskan rencana mereka, para pemuka Quraisy mengirimkan bersama utusan mereka hadiah-hadiah berharga yang diperuntukan kepada raja Najjasyiy dan para menterinya…wa hammalathuma bikatsirin min al-hadaya ats-tsaminah……(Mereka berdua dibekali dengan hadiah-hadiah yang berharga).

Setibanya di Ethiopia mereka kemudian berhasil menghadap sang raja. Di hadapan Raja, ‘Amru bin Ash berkata, “Ayyuhal malik al-’adhim…Wahai raja yang agung, apakah Anda kedatangan rombongan dari Mekkah yang meminta suka politik ke negara Anda? Mereka adalah para pengacau dan pembangkang Mekkah yang tidak mau bergabung dengan kami dalam satu keimanan, yaitu menyembah patung. Orang-orang itu mengaku dirinya sebagai pengikut Muhammad bin Abdullah yang menyembah Allah. Wahai Sang Raja yang besar dan agung….walam yadkhulu fi dinika…. mereka yang datang bersuaka politik ke sini juga tidak punya keinginan sedikit pun untuk memeluk agama yang anda anut (Nasrani)”.

“…waja-u bi dinin jadidin la na’rifuhu..Wahai yang mulia. mereka datang dengan pemikiran dan agama baru yang tidak kami ketahui sumber dan asal-usulnya. Kami tidak bisa menerima agama dan pemikiran baru yang dibawa oleh Muhammad itu. Ji’na ilaika niyabatan ‘an asyrafil qaumihim….kami datang mewakili tokoh-tokoh dari kaum mereka dan memohon dengan segala hormat dan kemurahan hati Anda untuk mengembalikan mereka kepada kami. Tujuan kami hanyalah untuk menyelamatkan persatuan dan kesatuan kota Mekkah.”

Sikap Najjasyiy
Mendengar permintaan kedua utusan tersebut, Najjasyiy tidak dengan serta merta memenuhi permintaan mereka. Beliau adalah seorang yang bijaksana dan hatinya dipenuhi bibit-bibit keadilan. Beliau tidak mau hanya mendengar argumen dari sebelah sepihak, tetapi beliau juga ingin mendengar langsung pendapat dari kaum muslimin.

Akhirnya muslimin memilih juru rundingnya, yaitu Ja’far bin Abi Thalib, saudara kandung dari Ali bin Abi Thalib. Di hadapan Najjasyiy Jafar berkata, “… Kunna qauman ahlu jahiliyah…. benar kami mengakui dulunya kami adalah orang-orang jahiliyah 100 persen …na’budu al- ashnam…….kami menyembah dan menghormati patung yang kami buat dengan tangan kami sendiri .…Wanakkulu al- mayyita….. dalam kehidupan kami sebelumnya hanya bangkai yang kami makan……..wana’ti al fawahisya… dulunya kami sangat gemar melakukan perbuatan yang tercela…wanaqtha’ ar rahma.. Kalau ada perbedaan pendapat sekali pun itu antara kakak beradik, nafsulah yang mengendalikan kami sehingga tidak ada di antara kami yang mengalah sampai salah seorang dari kami terbunuh. …wa nusi-u al jiwara…kami terbiasa berbuat hal-hal yang menyakiti tetangga kami sendiri…wa yakkulu al qawi minna adh dha’if …siapa yang kuat dialah yang menang dan yang lemah menjadi magsa bagi yang kuat.

Begitulah kondisi kami sebelumnya, sampai muncul sosok bernama Muhammad yang berakhlak mulia. Sosok yang kami tahu asal asulnya, dari keturunan baik-baik dan tidak pernah berbuat zalim kepada sesama. Muhammad memberikan kami pencerahan dan mengajak kami …illa ‘ibadatillah…untuk menyembah Allah, tidak lagi menyembah patung dan batu yang tidak dapat memberikan kami manfaat apapun, …wa amarana bi shidqi al- haditsi… mengajarkan kami agar bersikap sopan dan berkata jujur, …wa shilaturahim… menjaga hubungan silaturrahmi, …wa hushnu al jiwari…berbuat baik kepada tetangga-tetangga kami, menghentikan pertumpahan darah, mencegah kami dari perbuatan keji dan tercela. Dia memerintahkan kami agar hanya menyembah Allah yang Esa, serta menyuruh kami mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat dan berpuasa. Lalu kami percaya kepadanya dan beriman kepada Allah dan ajaran-ajaran-Nya yang disampaikan kepada kami oleh Muhammad. Kaum kami menjadi marah, lalu kami dikejar-kejar dan disiksa agar kami kembali kepada agama nenek moyang kami yang menyeru kepada penyembahan berhala. Karena kami tidak tahan dengan segala kekerasan dan intimidasi yang mereka lakukan, lalu kami datang ke sini meminta perlindungan Anda. Kami tahu anda adalah seorang bijaksana dan tidak akan pernah menyakiti kami”.

Najjasyiy terpana mendengar argumentasi dan gaya bicara Ja’far bin Abi Thalib. Lalu ia berkata “…asmi’ni syai-an mimma yaquluhu rasulukum…”, tolong perdengarkan kepadaku sedikit saja tentang perkataan dan bahasa yang disampaikan kepada kalian oleh Muhammad. Ja’far mengatakan, “Muhammad tidak meperdengarkan apapun kepada kami kecuali ayat-ayat Allah.” Lalu ia membaca salah satu ayat dari Surah Maryam sampai pada kalimat …fa-asyarat ilaihi qalu kaifa nukallimu man kana fi al mahdi shabiyya…yang artinya ..”maka Maryam memberi isyarat kepadanya (Isa). Lalu kaumnya Maryam berkata: bagaimana kami bisa berbicara dengannya sedangkan dia masih bayi?” Begitu mendengar ayat-ayat Al-Quran yang menceritakan tentang Nabi Isa dan Maryam, yaitu dua sosok yang sangat dikagumi oleh Najjasyiy, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Air matanya berurai sampai membasahi jenggotnya yang panjang. Para menteri yang hadir juga ikut menangis. Najjasyiy lalu berkata, “Ini adalah sebuah kebenaran tentang Isa. Wahai Amru dan Abdullah pergilah kalian dari sini, saya tidak akan mengembalikan kaum muslimin kepada kalian, karena saya tahu kalian akan menyakiti dan membunuh mereka. Kaum muslimin berada pada posisi yang benar.”

Inilah keputusan sang raja yang adil, namun kedua utusan tersebut tidak langsung pulang ke Mekkah. Keesokan harinya mereka kembali membujuk Najjasyiy, namun mereka gagal karena keputusan Najjasyiy sudah bulat. Akhirnya mereka pulang dengan tangan hampa.

Kesimpulan
Mempertahankan akidah adalah perjuangan yang melebihi segala-galanya. Tempat tinggal, harta, bahkan keluarga ditinggalkan demi mempertahankan akidah. Itulah yang dilakukan oleh Rasululullah dan para sahabat sebagai suri teladan bagi umat Islam sesudahnya. Bila berhijrah adalah satu-satunya jalan, maka pilihlah wilayah tujuan di mana pemimpinnya adil dan jujur.

Untuk merebut kembali rakyatnya yang “membelot”, Quraisy menggunakan segala upaya termasuk mencoba mempengaruhi Raja Najjasyiy dengan menyuapnya dan orang sekelilingnya. Ternyata, siasat suap-menyuap telah menjadi kebiasaaan manusia sejak dahulu yang dilakukan demi mendapatkan apa yang diinginkan. Suap-menyuap adalah pangkal kezaliman dan ketidakadilan.

Dalam konteks politik (bukan konteks akidah), peristiwa negosiasi antara pihak Quraisy and Ethiopia di atas persis seperti kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu di mana sekitar 40 orang Papua masuk ke Australia untuk meminta suaka politik. Pemerintah Indonesia pun turun tangan dengan mengirimkan utusan untuk bernegosiasi dengan pemerintah Australia agar menyerahkan orang-orang Papua tersebut kepada pihak Indonesia.

Apa yang dilakukan pemerintah Indonesia dan pemerintah lainnya di dunia bukanlah hal baru. Jauh sebelumnya, yaitu 14 abad yang lalu, politik negosiasi telah diterapkan oleh para juru runding Rasulullah dan utusan kaum Quraisy. Orang yang mempelajari sejarah Islam dan perjuangan Rasullullah akan mengerti bahwa Islam bukan sebuah agama yang hanya mencakup ritual ibadah, tetapi juga merupakan sebuah sumber perundang-undangan, strategi kenegaraan, dan hukum tatanegara yang penuh dengan hikmah. Maka keliru siapa saja yang menganggap bahwa Negara Islam itu bukan negara politik. Telah terbukti bahwa Rasulullah adalah seorang politikus ulung yang jauh melebihi para politisi di abad ke-21 ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق