Khalifah Walid Bin Abdul Malik

20 Desember 2011


Khalifah al-Walid bin Abd al-Malik lahir tahun 50 H/670 M, putra tertua Khalifah Abd al-Malik bin  Marwan.  Dia  tumbuh  sebagai  pemuda yang shalih, bertakwa dan banyak membaca Alquran. Dia khatam Alquran dalam waktu tiga hari. Ada yang mengatakan tiap seminggu sekali. Khusus di bulan Ramadhan, dia bisa khatam hingga 17 kali.
Pada  zamannya  dikenal  dengan  era  penaklukan, kemewahan, dan kemakmuran, setelah kondisi keamanan dan  sistem  di  dalam  negeri  benar-benar  stabil. Administrasi pemerintahan diperbaiki. Pondasi struktur pemerintahan pun diletakkan dengan benar. Setelah itu dia pun menikmati hasilnya sehingga pembangunan di dalam  negeri  dan  penaklukan  ke  luar  negeri  bisa dijalankan.
Khalifah al-Walid mempunyai keinginan kuat untuk melakukan pembangunan di negerinya. Karenanya, berbagai fasilitas dan infrastruktur ia bangun. Dia menulis surat kepada walinya di Madinah, Umar bin Abd al-Aziz, untuk membangun pintu gerbang Madinah dan menggali sumber air untuk kebutuhan  penduduknya.  Hal  yang sama dia lakukan kepada para walinya yang lain. Pada zamannya, Masjid Nabawi diperluas. Dia pun memperluas Masjid Jami' al-Awawi. Khusus untuk Masjid Nabawi, dia perintahkan untuk menggusur beberapa rumah istri Nabi, dan  memasukkannya  dalam  komplek  masjid,  serta 
membeli  rumah-rumah  di  sekitarnya  untuk  perluasan masjid. Luasnya mencapai 200 dzira'. Bagi yang tidak mau, dia perintahkan agar rumahnya diberi ganti rugi yang adil. Dia  pun  mengirim  para  insinyur  bangunan  dari  Syam untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
Maka, Umar pun melaksanakan instruksi Khalifah dengan memasukkan semua rumah istri Nabi ke dalam Masjid Nabawi, kecuali kamar Aisyah yang di dalamnya ada tiga makam, yaitu makam Nabi, Abu Bakar dan Umar. Pada tahun 88-96 H/707-715 M, dia membangun masjid Jami' al-Amawi. Orang yang pertama kali mengarsitekinya adalah Abu Ubaidah al-Jarrah. Saking megahnya masjid ini,  sampai  ada  yang  menyatakan  bahwa  biaya  untuk membangun  masjid  ini  telah  menelan  7  tahun pendapatan  kharaj  negara.  Pembangunan,  termasuk desain eksterior dan interiornya didatangkan dari India, Persia, Konstantinopel, Mesir dan Maroko. Jumlah tenaga yang  diperlukan  untuk  menangani  proyek  tersebut sebanyak  12.000  orang.  Masjid  ini  merupakan  masjid termegah di negeri kaum Muslim hingga membuat takjub Khalifah  al-Mahdi  dan  al-Ma'mun, di era Khilafah Abbasiyah. “Bani Umayyah telah mendahului kami dalam tiga hal; masjid ini, di mana saya tidak tahu ada masjid lain yang  menyamainya  di  muka  bumi;  kecerdasan  para pendukungnya; dan Umar bin Abd al-Aziz, di mana tak akan pernah ada seorang pun seperti dirinya dari kami.” Demikian tutur al-Mahdi.
Di kota Damaskus, ibukota Khilafah saat itu, Khalifah al-Walid telah mempercantik kota ini dan membangun saluran air yang diambil dari sumber air sungai tawar kemudian disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Dari yang kecil hingga besar, semuanya mendapat saluran air bersih. Semuanya diperoleh oleh warganya dengan cuma-cuma. Tanpa sepeser pun bayaran dipungut oleh negara

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق