Suhaib Bin Sinan (Ar-Rumi)

21 Desember 2011

Siapa di antara kaum muslimin yang belum kenal dengan Suhaib Ar-Rumi dan belum mengetahui secuil pun dari riwayatnya?
Yang tidak di ketahui oleh kebanyakan dari kita adalah bahwa sesungguhnya Suhaib bukanlah Ar-Rumi (orang Romawi). Dia adalah Arab asli. Berayah dari suku Numair dan ibu dari suku Tamim. Nama Suhaib di nisbahkan kepada Romawi karena suatu kisah yang sulit dilupakan oleh sejarah. 

Alkisah kurang lebih dua tahun sebelum bi'tsah (diutusnya) Rasulullah, penguasa kota Ubulah (kota lama yang sekarang termasuk wilayah Bashrah) adalah Sinan bin Malik An-Numairi. Sinan mempunyai anak yang sangat di cintainya seorang bocah berusia lima tahun yang diberi nama Suhaib
 
Suhaib adalah seorang anak yang berwajah ceria, berambut pirang, gesit, lucu, lincah, dan sorot matanya menunjukkan kecerdasan. Keberadaannya membahagiakan hati ayahnya dan melenyapkan semua duka citanya. 

Pada suatu kesempatan, Suhaib dan ibunya bepergian ke desa At-Taniya di daerah Iraq untuk tetirah. Mereka ditemani oleh beberapa pembantu dan pengawal.
Tanpa disangka-sangka, desa tersebut diserang oleh pasukan Romawi. Para pengawal berhasil dilumpuhkan, kemudian harta benda mereka dirampas, dan mereka sendiri ditawan. Termasuk di antara para tawanan ini adalah si kecil Suhaib

Kini berubahlah seluruh kehidupan Suhaib. Dia dijual di pasar budak Romawi. Silih berganti tangan yang menguasainya. Berpindah dari satu majikan ke majikan yang lain. Ini merupakan kebiasaan kehidupan para budak yang ribuan jumlahnya memenuhi istana-istana Romawi. 

Ternyata Suhaib selalu menarik hati tuan-tuannya. Dari situ dia bisa melihat sendiri kehidupan di dalam istana-istana Romawi yang penuh dengan kebejatan moral. Dengan telinganya dia mendengar berbagai macam kejahatan dan kezhaliman. Oleh sebab itu dia membenci dan menghinakan masyarakat itu dan berkata dalam hati “Masyarakat yang seperti ini tidak bisa dibersihkan kecuali dengan angin topan….” 

Suhaib tumbuh di negeri Romawi dan dewasa di antara para penduduknya. Dia nyaris melupakan bahasa Arab kini. Namun demikian tak pernah lenyap dari ingatannya bahwa dia adalah seorang anak Arab, keturunan padang pasir. Kerinduannya akan hari kebebasannya tak pernah padam. Dia selalu berharap bisa kembali kepada suku bangsanya. 

Kerinduan itu semakin membuncah tatkala mendengar seorang “dukun” Nasrani berkata kepada tuannya, “Telah tiba masanya seorang nabi datang dari Makkah di jazirah Arab. Dia membenarkan risalah Isa bin Maryam dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang.” 

Beruntunglah, suatu ketika datang kesempatan bagi Suhaib untuk melarikan diri. Begitu lepas dari tuan-tuannya, dia langsung menuju Makkah, Ummul Qura, yang merupakan pusat kediaman bangsa Arab dan tempat munculnya nabi yang dinanti-nanti. 

Begitu menginjakkan kaki di sana, orang-orang memanggilnya Suhaib Ar-Rumi -Suhaib si orang Romawi- karena lidahnya kaku bila berbahasa Arab, lagi pula rambutnya pirang. 

Selanjutnya Suhaib berdagang bersama seorang tokoh Makkah, Abdullah bin Jad'an. Dia mendapatkan untung besar, maka dalam waktu singkat menjadi kaya raya. Tapi benaknya terus mengingat kata-kata si “dukun” Nasrani di Romawi dulu. Dia bertanya-tanya pada diri sendiri, “Bilakah hal itu terjadi?” 

Jawaban datang tak lama setelah itu.
Pada suatu hari dia pulang ke Makkah dari bepergian. Segera didengarnya berita bahwa Muhammad bin Abdullah telah diutus. Dia menyampaikan dakwahnya, menyeru orang-orang agar beriman kepada Allah semata, mendorong pada keadilan dan kebaikan, serta melarang kejahatan dan kemungkaran. 
 
“Bukankah dia yang biasa dijuluki Al-Amin?” tanya Suhaib.
“Benar,” jawab lawan bicaranya. “Dimana tempatnya?”
“Di rumah Arqam bin Abi Arqam di Shafa. Tapi jangan sampai orang-orang Quraisy melihatmu. Engkau bisa dicincang habis oleh mereka. Apalagi engkau seorang asing. Tak ada sanak keluarga atau kaum yang melindungimu.” 

Suhaib pergi dengan sangat hati-hati. Sebentar-sebentar dia menengok ke belakang. Ketika sampai di depan pintu rumah kawannya, Ammar bin Yasir, dia ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mengentuk. 

“Tidakkah engkau ingin sesuatu, Ammar?” tanya Suhaib.
“Apa yang engkau inginkan?” Ammar balik bertanya.
“Aku ingin menemui orang itu dan mendengarkan ajaran yang dikatakannya.”
“Aku juga begitu,” kata Ammar.
“Kalau begitu, mari kita berangkat bersama-sama dengan berkah Allah.” 

Suhaib bin Sinan dan Ammar bin Yasir pergi menjumpai Rasulullah dan mendengarkan seruan beliau. Cahaya iman menyinari kalbu keduanya. Mereka mengulurkan tangan untuk bai'at syahadat “Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah”. Seharian mereka berdua tinggal di sisi Nabi untuk mengambil tuntunannya dan mengakrabkan persahabatannya. 

Begitu malam turun dan keadaan mulai sepi, Suhaib dan Ammar keluar dalam lindungan kegelapan. Masing-masing membawa cahaya di hatinya, yang cukup terang untuk menyinari alam semesta. 

Suhaib ikut memikul bagiannya dari siksaan Quraisy bersama Bilal, Ammar, Sumayyah, Yasir, Khabrah, dan puluhan muslimin lainnya. Seandainya penganiayaan Quraisy tersebut ditimpakan pada sebuah gunung, niscaya akan runtuh. Namun orang-orang ini menerima semua itu dengan jiwa yang mantap dan penuh kesabaran, karena mereka tahu bahwa jalan ke surga penuh dengan kepedihan. 

Setelah Rasulullah mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke Madinah, Suhaib juga ingin berangkat menyertai Rasulullah dan Abu Bakar. Tapi malang, Quraisy mencium rencana itu. Mereka menghalang-halanginya dengan memasang pengawas di jalan-jalan untuk mencegah jangan sampai harta benda yang diperolehnya lepas dari tangan mereka. 

Suhaib menanti-nanti kesempatan untuk menyusul Rasulullah serta sahabat-sahabatnya, tetapi gagal karena pengawasan terhadapnya sangat ketat. Tak mungkin dia lolos kalau tidak dengan tipu muslihat. 

Pada suatu malam yang sangat dingin, Setelah orang-orang itu kelihatan tidur kembali, pelan-pelan Suhaib merangkak menjauh. Dia langsung menuju ke arah Madinah.
Para pengawas Quraiys baru menyadari apa yang terjadi setelah Suhaib tak kunjung kembali. Mereka terbangun dengan kebingungan, kemudian bergegas mengejar dengan kuda-kuda mereka. Suhaib berhasil ditemukan di jalan menuju Madinah. 

Melihat datangnya bahaya, Suhaib segera mencari tempat yang menguntungkan, lalu menyiapkan busur dan panah. Ia menggertak, “Hai orang-orang Quraisy, kalian tahu aku sangat mahir membidik dengan panah. Jangan harap kalian bisa menyentuhku sebelum habis anak panah di bahuku ini. Satu bidikan untuk satu orang bagi kalian. Akan kugunakan pula pedangku yang tajam ini selama masih berada di tanganku.” 

Salah satu dari mereka berkata, “Demi Tuhan, kami tidak bisa membiarkan engkau pergi bersama hartamu. Dulu engkau datang kemari dalam keadaan miskin, lalu menjadi paling kaya raya.”
Suhaib berusaha menawar, Apakah kalian bersedia melepasku kalau harta benda itu kutinggalkan?”
“Ya.”
Tanpa pikir panjang dia menunjukkan tempat penyimpanan hartanya di Makkah. Mereka pun pergi mengambilnya dan membiarkan dia pergi. 

Suhaib mempercepat parjalanan. Dengan agamanya, dia melarikan diri untuk menuju Allah tanpa menghiraukan harta kekayaan yang dikumpulkannya semenjak muda. Tak sedikit pun dia menyesali. 

Setiap kali rasa capai menggoda, dia mengingat-ingat rasa rindunya kepada Rasulullah. Bila sudah begitu, bangkit lagi semangatnya untuk melanjutkan perjalanan. 

Sesampainya di Quba', Rasulullah menyambut Suhaib Ar-Rumi dengan wajah berseri-seri seraya berkata berulang-ulang, “Ya Abu Yahya (maksudnya Suhaib Ar-Rumi) untung besar perniagaanmu…” 

Bukan main suka cita hati Suhaib. Wajahnya cerah ketika berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada orang yang mendahuluiku. Berarti tak ada yang memberitahu Anda Kecuali Jibril 

Benar. Suhaib mendapatkan untung dalam perniagaannya. Wahyu dari langit membenarkannya, disaksikan oleh Jibril ketika membawa firman Allah: 

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah: 207).
Untung besar bagi Suhaib, dan itulah sebaik-baik perniagaan dan keuntungan…

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق