Uqa'il Bin Abi Thalib

20 Juni 2012

Pada suatu hari Uqa’il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Pada waktu itu Uqa’il telah melihat peristiwa ajaib yang menjadikan hatinya semakin bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam akan melaksanakan hajat yakni membuang air besar dan di hadapan beliau terdapat beberapa batang pohon. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada Uqa’il, “Hai Uqa’il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katakan kepadanya: bahwa sesungguhnya Rasulullah berkata agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, karena sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengambil air wudhu dan melaksanakan buang air besar.”

Uqa’il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hingga beliau selesai dari hajatnya. Maka Uqa’il kembali ke tempat pohon-pohon itu.

Peristiwa kedua adalah, bahwa Uqa’il merasa haus dan setelah mencari air ke mana pun namun tidak juga dia temui. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada Uqa’il bin Abi Thalib, “Hai Uqa’il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan: jika padamu ada air, berilah aku minum!”

Lalu pergilah Uqa’il mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Nabi. Maka sebelum dia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, “Katakanlah kepada Rasulullah, bahwa sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat yang bermaksud: “(Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (siksa) api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu), aku menangis dikarenakan takut jikalau aku menjadi batu itu, maka tidak ada lagi air padaku.”

Peristiwa yang ketiga ialah, bahwa ketika Uqa’il sedang berjalan dengan Nabi, tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah, unta itu pun lalu berkata, “Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu.” Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus.

Melihat orang Arab kampung itu, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Hendak apa kamu terhadap unta itu?”

Jawab orang kampung itu, “Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mau taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan).” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pun bertanya, “Mengapa engkau mendurhakai dia?”

Jawab unta itu, “Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak mendurhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku mendurhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Karena kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan sholat Isya’. Kalau sekiranya dia mau berjanji kepada engkau akan mengerjakan sholat Isya’ itu, maka aku berjanji tidak akan mendurhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah menurunkan siksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka.”

Akhirnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengambil perjanjian dengan orang Arab kampung itu, bahwa dia tidak akan meninggalkan sholat Isya’ lagi. Akhirnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menyerahkan unta itu kepadanya. Sehingga dia pun kembali kepada keluarganya.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق