Kaulah Binti Azur (Wanita Pencatat Sejarah Gemilang Islam)

18 Juni 2012

Ketika terjadi pertempuran sengit antara tentara Islam yang dipimpin oleh Khalid ibnu Walid dengan tentara Romawi, terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan, yaitu munculnya seorang pejuang misteri yang menyerbu ke tengah barisan musuh dengan begitu berani, meluncur dengan kudanya meninggalkan para tentara berkuda yang lain di belakang dan melompat ke tengah medan perjuangan.
 
Pejuang misteri itu telah merobek musuh dengan pedang dan tombak yang dibawanya. Dengan sekali tebas, tiga orang musuh jatuh tersungkur ke atas bumi. Panglima Khalid ibnu Walid kagum dengan pejuang misteri itu. Beliau bertanya-tanya, siapakah pejuang yang begitu gigih dan berani menentang musuh?
 
Pejuang itu tinggi semampai, berpakaian serba hitam, yang kelihatan hanya kedua belah matanya yang sangat tajam pandangannya. Di pinggangnya terselip pisau belati dengan baju besinya yang hampir tidak kelihatan karena tertutup oleh pakaian jubahnya.
 
Khalid segera memacu kudanya dengan diikuti oleh tentara-tentara muslimin yang lain ke tempat pejuang misteri yang sedang menggasak musuh dan membuat pihak lawan gempar dan bimbang. Masing-masing lari menyelamatkan diri.
 
Tentara Islam bangga sekali dengannya, begitu juga panglima Khalid ibnu Walid. Mereka kagum dengan pejuang misterius itu. Masing-masing menggeleng kepala takjub bercampur syukur karena dikaruniakan pejuang yang berani seperti itu.
 
Khalid mengikuti pejuang misteri yang sudah memperlihatkan contoh itu, diikuti oleh orang-orang Islam lainnya. Ditariknya tali kekang kuda dan dihunuslah tombak untuk melindungi dan memberikan bantuan kepada pejuang misterius itu.
 
Pejuang itu terus berperang dan menghabiskan semua musuhnya sehingga dapat kembali ke tengah pasukan tentara Islam dengan pakaiannya yang berlumuran darah.
 
“Allahu akbar!” pekik Khalid.
 “Allahu akbar!” pekik tentara Islam semuanya, maka medan pertempuran dan peperangan itu bergetar dengan pekikan takbir. Mereka menghampiri pejuang misterius itu.
“Demi Allah yang telah melindungi seorang pejuang yang telah membela agamaNya dan menentang orang musyrik habis-habisan. Tolong bukalah tutup wajahmu,” kata mereka.
 
Tetapi pejuang misterius itu tidak peduli dan tidak menjawab, dia terus menyerbu ke tengah-tengah pasukan kafir itu, sehingga seakan-akan bagai nyala api atau angin puting beliung di tengah-tengah pasukan musuh. Khalid terus mengejarnya, sambil mendekat ia meminta, “Hai, siapa engkau sebenarnya?”
 
“Aku adalah Khaulah binti Azur. Aku melihat kakakku, Dhirar, tertangkap. Lalu aku datang untuk menolongnya dan membebaskan dia yang berperang karena Allah,” jawabnya.
 
Semua tentara Islam, tidak menyangka bahwa pejuang misteri itu adalah seorang wanita. Ketangkasan dan keberaniannya telah mengalahkan 1.000 orang lelaki kafir.
 
Khaulah terus berjuang tanpa henti-hentinya bersama-sama tentara Islam yang lainnya sehinggalah berakhir pertempuran itu dengan kemenangan mutlak di tangan tentara Muslimin. Namun Khaulah pulang dengan perasaan sedih, karena tidak memperoleh berita tentang saudaranya. Ia bertanya kepada setiap orang Islam tentang saudara kandungnya, namun tidak ada yang bisa menjawabnya. Kesedihan itu tidak dapat ditanggung lagi, lalu menangislah ia.
 
Tiba-tiba dengan takdir Allah datang serombongan pasukan Romawi menuju arah mereka. Khaulah, Khalid dan seluruh pasukan tentara Islam pun bersiap sedia. Tetapi rombongan itu menjatuhkan senjata mereka. Mereka meminta damai. Permintaan itu diterima tanpa syarat.
 
Khalid bertanya kepada ketua rombongan itu tentang Dhirar bin Azur. Ketua itu berkata bahwa Dhirar telah berhasil menewaskan seorang putera raja dan sejumlah besar pasukan mereka, lalu mereka menghadapinya bersama-sama. Dhirar akhirnya ditangkap dan dikirim kepada raja mereka.
 
Dhirar ditawan dan sedang dibawa ke Homs, dengan pengawalan seratus tentara berkuda. Dengan segera ia memanggil Rafi’ bin Umairah, karena dia paham betul tentang kondisi padang pasir disamping ia seorang yang bijak dalam mengatur siasat dan teknik pertempuran. Khaulah mendengar berita tentang rencana penyerangan itu, lalu dengan segera ia memakai baju besi, memasang pedangnya dan menggenggam tombaknya lalu meminta kepada panglima Khalid agar dia diizinkan ikut bersama.
 
Dengan membaca Bismillah, pasukan itu berangkat. Mereka mengambil jalan pintas dan akhirnya bertemulah mereka dengan pasukan musuh. Ketika rombongan itu sudah dekat, tampaklah di mata Khaulah sosok kakaknya, Dhirar, sedang dikawal ketat oleh tentara musuh.
Maka wanita itu pun bertakbir. Takbirnya itu disambut oleh pasukan berkuda yang lain, maka bergemalah lembah itu dengan takbir. “Allahu akbar!”
 
Maka kemenangan pun berhasil mereka raih. Khaulah segera mendapatkan Dhirar dan melepaskan belenggu yang mengikatnya, sementara tentara-tentara Islam merampas semua yang mereka bawa dan kemudian pulanglah mereka kepada Khalid ibnu Walid.
 
Sewaktu menyertai perang Sahura, Khaulah dan beberapa orang wanita berhasil ditawan oleh musuh. Mereka dikurung dan dikawal rapi beberapa hari lamanya tanpa senjata untuk melepaskan diri.
 
Tetapi Kahulah bukanlah seorang wanita lemah yang mudah diperdayakan. Pikirannya bergerak cepat dan senantiasa berusaha mencari jalan untuk melepaskan diri. Menurutnya, tidak ada cara lain yang paling tepat selain membakar semangat sahabat-sahabatnya agar dapat bertindak cepat sebelum musuh dapat berbuat jahil kepada mereka. Khaulah sadar Allah sendiri memberi jaminan bahwa kekuatan jiwa bisa mengalahkan kekuatan senjata. 

Maka Khaulah pun berdiri dan berkata, “Wahai sahabat-sahabatku yang sedang berjuang di jalan Allah, apakah saudara semua mau menjadi tukang pijit tentara Romawi? Apakah saudara semua mau menjadi hamba-hamba orang kafir yang dilaknati? Relakah saudara nanti dihina dan dicaci maki oleh bangsa Romawi yang durjana ini? Di manakah letaknya harga diri saudara sebagai wanita Muslim?”
 
Seorang daripada mereka menjawab, “Sesungguhnya apa yang engkau katakana itu benar. Demi Allah kami semua mempunyai harga diri. Pedang lebih berguna dalam keadaan begini. Kalau kita lalai, musuh akan menyerang kita. Tetapi apa boleh buat, kita umpama kambing yang tidak bertanduk karena tidak mempunyai senjata.”
 
Setiap diantara mereka mengemukakan berbagai pendapat masing-masing dan semuanya menunjukkan ingin mati syahid. Tiada seorang pun yang mau menjadi tukang pijit orang Romawi. Tetapi malangnya mereka tidak mempunyai senjata. Bahkan sebilah pisau pun tidak ada. Tetapi Khaulah tidak kehilangan akal.
 
“Wahai wanita-wanita Muslimin sekalian, tiang-tiang dan tali kemah ini sangat berguna bagi kita dan cukuplah ini saja senjata kita. Yang penting kita punya keyakinan agar dapat keluar dari tempat ini. Syahid lebih baik bagi kita dan inilah cara yang terbaik untuk melepaskan diri dari kehinaan ini.
 
“Sebelum mereka dapat menyentuh kita atau menyentuh salah seorang dari kita. Mari kita bersumpah untuk bersatu dalam hal ini dan menyerahkan diri kepada Allah, sesungguhnya Allah akan menolong orang-orang yang menolongNya.”
 
Mereka pun menjawab, “Demi Allah, segala perkataanmu itu benar. Kami tidak rela hidup di hina. Syahid lebih baik bagi kami daripada hidup menanggung malu.”
 
Tekad para tawanan itu sudah bulat. Setelah menetapkan harinya, mereka pun melaksanakan keputusan yang dibuat. Sebelum itu mereka berdoa sungguh-sungguh pada Allah dan bertaubat dari segala dosa yang pernah dibuat.
 
Khaulah telah memimpin segala urusan dalam melaksanakan pekerjaan berat itu. Dia menyandang tiang kayu siap untuk berjuang. Akhirnya, dia member tausiyah kepada anak-anak buahnya, “Wahai saudara-saudari, jangan sekali-kali gentar dan takut. Kita semua harus bersatu dalam perjuangan ini tanpa terkecuali. Patahkan tombak mereka, hancurkan pedang mereka, ucapkan takbir banyak-banyak dan yang penting, saudara harus menguatkan hati. Insya Allah pertolongan Allah sudah dekat.”
 
Begitulah keyakinan Khaulah. Berkat keberaniannya, mereka semua selamat dari segala bentuk bencana itu. Setelah mengikat segala yang perlu, dia diikuti oleh Ifra binti Ghaffar, Umi binti Utbah, Salmah binti Zari, Ran’ah binti Amalun, Salmah binti Nu’man dan seluruh wanita lainnya. Khaulah mendahului memukul seorang pengawal dengan tiang yang dibawanya, hingga pengawal tersebut mati.
 
Melihat itu, wainta-wanita lain terpacu untuk menyerang pengawal-pengawal yang lain dan bertempurlah mereka dengan gagah berani.
 
Orang-orang Romawi ketakutan karena serangan yang datang secara tiba-tiba. Khaulah berhasil merampas sebatang tombak, lalu digunakan untuk bertempur, sedangkan di tangan kanannya digunakan sebagai pelindung dirinya dari tusukan tombak dan tebasan pedang.
 
Akhirnya dia dan semua wanita itu berhasil mencerai-beraikan pasukan Romawi dan dapat melepaskan diri dari kafir durjana serta berhasil kembali ke pasukan Islam dengan selamat. Begitulah kisah seorang mujahidah Islam yang begitu gagah berani berjuang dan bertempur karena Allah. Sehingga dia mendapat gelar tertinggi dari Allah. Jika Khalid ibnu Walid mendapat gelar Pedang Allah di kalangan laki-laki, maka Khaulah binti Azur adalah Pedang Allah dari kalangan wanita. Khaulah meninggal dunia di akhir pemerintahan Usman bin Affan.

0 komentar:

Poskan Komentar

ترك التعليق