Sunan Gunung Jati

16 September 2012

Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

Mukjizat

16 Agustus 2012

1. Pengertian Mukjizat
Kata mukjizat diambil dari bahasa Arab a’jaza-I’jaz yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamakan mukjiz dan pihak yang mampu melemahkan pihak lain sehingga mampu membungkamkan lawan, dinamakan mukjizat. Tambahan ta’ marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah (superlatif).
Mukjizat didefenisikan oleh para pemeluk agama Islam, antara lain, sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada orang-orang yang ragu, untuk melalukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu. Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat di definisikan pula sebagai sesuatu luar biasa yang diperlihatkan Allah melalui para nabi dan Rasulnya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulannya.
Manna’ Al-Qaththan mendifinisikannya sebagai berikut :
 “suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan, dan tidak akan ditandingi.”
Unsur-unsur yang terdapat pada mukjizat, sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab, adalah sebagai berikut:
1.      Hal peristiwa yang luar biasa
2.        Terjadi atau di paparkan oleh seorang yang mengaku nabi
3.        Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian
4.        Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani.

2. Macam-Macam Mukjizat.
Secara garis besar, mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjiat yang bersifat  material, indrawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial, logis, dan dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka bresifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat mereka menyampaikan risalahnya.
Perahu nabi Nuh yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat; tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s. dalam kobaran api yang sangat besar; berubah wujudnya tongkat nabi Musa a.s. menjadi ular; penyembuhan yang dilakukan oleh nabi Isa a.s. atas izin Allah, dan lain-lain, kesemuanya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat mereka berada, dan berakhir dengan wafatnya mereka.ini berbeda dngan mukjizat Nabi Muhammad SAW. Yang bersifat bukan indrawi atau material tetapi dapat dipahami akal. Karena sifatnya yang demikian, ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu: mukjizat Al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun.    

Aqidah Imam Bukhari رحمه الله

09 Juli 2012

Imam Bukhari رحمه الله berkata:“Aku telah berjumpa dengan 1000 ulama lebih di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Washit, Baghdad, Syam dan di Mesir, berkali-kali kurun demi kurun. Kujumpai mereka semuanya semuanya selama 46 tahun. Ulama Syam, Mesir dan Jazirah 2 kali, Ulama Bashrah 4 kali bertahun-tahun, ulama Hijaz 6 tahun. Dan aku tak dapat menghitung berapa kali aku datang ke Kufah dan Baghdad menemui ahli hadits negeri Khurasan di antaranya: Makki bin Ibrahim, Yahya bin Yahya, Ali bin Hasan bin Syaqiq, Quiaibah bin Said dan Syihab bin Ma’mar.

Sedang di Syam di antaranya: Muhammad bin Yusul Al Firyabi, Abu Mushir Abdul A’la bin Mushir, Abul Mughirah Abdul Quddus bin Hajjaj, Abul Yaman Hakam bin Nafi’ dan ulama setelah mereka yang tidak sedikit.

Di Mesir di antaranya Yahya bin Katsir, Abu Shaleh sekretaris Laits bin Saad, Said bin Abu Maryam, Ashbagh bin Al Faraj dan Nu’aim bin Hammad. Di Makkah aku jumpai para pakar seperti Abdullah bin Yazid Al Muqri, Humaidi, Sulaiman bin Harb Qadi Makkah dan Ahmad bin Muhammad Azraqi.

Sedang di Madinah seperti Ismail bin Abi Uwais, Mutharrif bin Abdillah, Abdullah bin Nafi’ Az Zubairi, Ahmad bin abu Bakar Abu Mish’ab Az Zuhri, Ibrahim bin Hamzah Zubairy dan Ibrahim bin Hamzah Zubairi dan Mundzir Al Hizami.

Di Basrah aku dapati Abu Ashim Dhahhak bin makhlad Syaibani, Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik, Hajjaj bin Minhal dan Ali bin Abdullah bin Ja’far Al Madini. Adapun di Kufah di antara yang kujumpai adalah Abu Nuaim Fadhl bm Dukain, Abdullah bin Musa, Ahmad bin Yunus, Qubaisah bin Uqbah, Ibnu Numair dan Abdullah serta Usman yang keduanya ibnu Abi Syaibah.
Di Baghdad di antaranya Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main dan Abu Ma’mar, Abu Khaitsamah serta Abu Ubaid Qasim bin Sallam. Di Jazirah kujumpai Amr bin Khalid Al Khurani dan di Wasith Amr bin Aun dan Ashim bin Ali bin Ashim. di Marwu kudapati para ulama seperti Shadaqah bin Fadhl dan Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali.

Supaya ringkas, cukuplah kusebutkan nama-nama ini saja. Mereka semua, baik yang kusebutkan maupun yang tidak, tak ada yang berselisih pendapat dalam masalah-masalah berikut:

1. Dien(iman) itu ucapan dan amal, sesuai dengan firman Allah سبحانه و تعالي :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Dan mereka tidak diperintah melainkan untuk me­nyembah (beribadah) kepada Allah dengan memurnikan ketaatan pada-Nya dalam (menjalankan agama) dengan lurus dan supaya mereka menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al Bayyinah: 5).

2. Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, karena firman-Nya berikut ini:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dan (diciptakan-Nya) pula matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya….” (Q.S. Al -A’raf: 54).

Abu Abdillah bin Ismail berkata: “Ibnu Uyainah رحمه الله berkata ‘Maka Allah membedakan antara penciptaan dan perintah dengan firman-Nya:

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan alam semesta.” (Q.S. Al A’raf: 54).

3. Baik dan buruk itu ditakdirkan, berdasarkan firman-Nya :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ.

“Katakanlah, aku berlindung kepada Allah yang meng­uasai Shubuh. Dari kejahatan makhluk yang la ciptakan (Q.S. Al Falaq: 1-2).

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah telah menciptakan kamu dan amal perbu­atanmu. ” (Q.S. As Shaffat: 96).

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu me­nurut kadar (ukuran).” (Q.S. Al Qamar: 49).

4. Mereka semua tak mengafirkan seorangpun dari ahlulqiblat karena dosanya, karena ayat:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) menyekutukan Allah (syirik) dan mengampuni (dosa) selainnya kepada siapa saja yang la kehendaki.” (Q.S. An Nisa: 48).

5.  Dan aku tidak melihat seorangpun aku tak melihat seorangpun dari mereka yang mencela sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم. Aisyah رضي الله عنها berkata: Mereka disuruh untuk Istighfar (memohon ampun) buat mereka. Itulah maksud firman Allah:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Wahai Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara- saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dan kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian di hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr: 10).

6. Mereka menolak bid’ah, yakni ajaran yang tak dibawa oleh Nabi صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya, karena firman-Nya:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpegang teguhlah kamu semua dengan tali Allah, janganlah bercerai berai. ” (Q.S. Ali Imran: 103)

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“Dan jika kamu menaatinya, niscaya kamu mendapat hidayah.” (Q.S. An Nur: 54).

Mereka menganjurkan kita untuk menetapi ajaran yang dibawa Rasulullah صلي الله عليه وسلم. berdasarkan firman Allah تعالي :

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-berai-kan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintah kan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al An’am: 153).

7. Kita tidak boleh menentang waliyul amri (pemimpin) ka­rena Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

ثَلاَ ثٌ لاَيَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِيٍ مُسْلِمٍ: إخْلاَصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَطَاعَةُ وُلاَةِ الْأَمْرِ وَلُزُوْمُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Tiga hal yang tak didengki oleh kalbu seorang mukmin: ihklas beramal karena Allah, menaati pemimpin (waliyul amri) serta menetapi jamaah mereka, karena seruan (doa) para pemimpin tersebut mencakup orang yang di belakang (rakyat)-nya”

Ini diperkuat dengan firman Allah عزّوجلّ berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulul Amri (pemimpin) dari golonganmu.” (Q.S. An Nisa: 59).

Juga tak mengacungkan pedang kepada umat Muhammad صلي الله عليه وسلم. Fudhail bin Iyadh رحمه الله berkata: 

“Sekiranya aku punya doa yang makbul, niscaya tak kutujukan selain untuk Imam (pemimpin), karena jika sang pemimpin baik, maka aman dan sejahteralah rakyat dan negara.”

Yahya Bin Ma'in

Nama lengkap beliau adalah Yahya bin Ma`in bin `Aun bin Ziyad bin Bistham Al-Ghatfan Al-Baghdadi. Ayah beliau termasuk orang penting di negerinya, sehingga ketika ayahnya meninggal, beliau mendapatkan jatah warisan sebanyak satu juta dirham, dan beliau menggunakannya sebagai bekal mencari hadis. Beliau dilahirkan tahun 158 H. Kun-yah beliau adalah “Abu Zakariya”, namun beliau lebih dikenal dengan sebutan “Ibnu Ma`in”. Beliau termasuk pakar dalam masalah hadis dan pencatat sejarah para perawi hadis.


Guru Dan Murid Beliau

Beliau banyak melakukan petualangan mencari ilmu, sehingga guru beliau sangat banyak dari berbagai negeri. Di antara guru beliau adalah Abdullah bin Mubarak, Husyaim, Ismail bin `Ayasy, Abbad bin Abbad, Sufyan bin Uyainah, Ghundar, Hatim bin Ismail, Hafs bin Ghiyats, Jarir bin Abdil Hamid, Abdur Razaq, Marwan bin Mu`awiyah, Hisyam bin Yusuf, Isa bin Yunus, Waqi`, Yahya Al-Qaththan, Abdurrahman bin Mahdi, dan masih banyak ulama lainnya dari negeri Irak, Hijaz, Al-Jazirah, Syam, dan Mesir.

Sementara, di antara murid senior beliau adalah Imam Ahmad bin Hambal, Muhammad bin Sa`d, Abu Khaitsmah, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Abbas Ad-Duri, Abu Bakar Ash-Shaghani, Abdul Khalik bin Manshur, Utsman bin Sa`id Ad-Darimi, Abu Zur`ah, Abu Hatim Ar-Razi, Ibrahim bin Abdillah Al-Junaid, Ahmad bin Ali Al-Marwazi, Muhammad bin Wadhah, Ja`far Al-Firyabi, Musa bin Harun, Abu Ya`la Al-Mushili, dan masih banyak lagi.


Pujian Ulama Untuk Ibnu Ma'in

Beliau termasuk dalam jajaran ulama besar untuk masalah hadis, tidak hanya di antara ulama yang sezaman dengannya, namun juga termasuk di antara ulama pada zaman setelahnya. Di antara pujian para ulama untuk beliau adalah:

  1. An-Nasa`i mengatakan, “Abu Zakariya berstatus tsiqah dan amanah, serta termasuk salah satu pakar dalam hadis.”
  2.  Ali Al-Madini mengatakan, “Saya tidak pernah melihat, sejak zaman Adam, ada orang yang menulis hadis yang lebih bagus daripada tulisan Yahya bin Ma`in.” Beliau juga pernah mengatakan, “Puncak ilmu manusia ada pada Yahya bin Ma`in.”
  3. Yahya bin Ma`in sendiri pernah mengatakan, “Saya telah menulis dengan tanganku sebanyak satu juta hadis.”
  4. Yahya Al-Qaththan mengatakan, “Belum pernah ada orang yang mendatangi kami, seperti dua orang ini: Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma`in.”
  5. Imam Ahmad mengatakan, “Yahya bin Ma`in adalah orang yang paling mengerti tentang ‘ilmu rijal‘.”
  6. Imam Adz-Dzahabi menyebut beliau dengan “Sayyid Al-Hufazh” (pemimpin para pakar hadis).
  7. Ibnu Hajr Al-Asqalani menyebut beliau dengan “Imam Al-Jarh wa At-Ta`dil” (pemimpin dalam masalah jarh wa ta`dil).
Setelah menyebutkan biografi singkat tentang Ibnu Ma`in, Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Yahya terlalu terkenal untuk saya bahas tentang keuatamaanya.” Kemudian, beliau membawakan cerita dari Hubaisy bin Mubasyir, salah satu ulama terpercaya, “Saya bertemu dengan Yahya bin Ma`in dalam mimpi. Saya tanyakan kepadanya, ‘Apa yang Allah berikan kepadamu?’ Yahya menjawab, ‘Allah memberiku kenikmatan, menikahkanku dengan tiga ratus bidadari, dan menyiapkan untukku antara dua pintu.’”


Karya Ibnu Ma'in

Di antara karya Imam Yahya bin Ma`in adalah At-Tarikh wa Al-Ilal dan Ma`rifah Ar-Rijal.


Wafatnya Ibnu Ma'in

Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah di Madinah, ketika melaksanakan ibadah haji. Beliau meninggal di tahun 233 H. Semoga Allah merahmati beliau dan keluarganya.

Yahya Bin Muadz

Kitab-kitab tentang riwayat hidup para tokoh tidak ada yang menyebutkan keterangan yang lengkap lagi memuaskan tentang Yahya bin Mua’adz as., dan dia tidak mendapat perhatian dan sebutan yang cukup tentang riwayat hidupnya. Jika ada sebetan mengenai dirinya, hal itu hanya berupa petikan yang pendek-pendek terdiri dari sebaris, dua baris, atau tiga baris kalimat dan hanya inilah yang dapat aku temukan. Jika ternyata ditemukan sesuatu yang lain dari itu, hal tersebut merupakan karunia yang besar. Jelasnya, beliau wafat pada abad ketiga Hijriyah, tepatnya pada tahun 258 Hijriyah.

Abu Na’im Al-Ashfahani dalam bukunya yang berjudul Hilyatul Auliya mengatakan tentang Yahya bin Mu’adz sebagai berikut:

“Orang yang suka memuji lagi bersyukur, menerima apa adanya lagi penyebar, dan selalu berharap lagi suka memohon perlindungan kepada Allah, dialah Yahya bin Mu’adz, seorang juru nasihat lagi banyak berdzikir. Dia menetapi pekerjaan pande besi untuk menghindarkan diri dari pandangan para hamba (tidak ingin terkenal), tidak suka tidur malam hari demi meraih kecintaan Allah, dan tahan menghadapi berbagai kesulitan sebagai sarana untuk mendorong lebih bersyukur.”

Ibnul Jauzi dalam bukunya yang berjudul Shafwatush Shafwah mengatakan tentangnya:

“Dia tinggal di Ar-Ray, kemudian pindah ke Nisabur, lalu bertempat tinggal di sana hingga meninggal dunia. Mereka tiga bersaudara, yaitu Isma’il, Yahya, dan Ibrahim; Isma’il yang tertua, Yahya penengah; dan yang paling muda adalah Ibrahim. Ketiga-tiganya adalah ahli zuhud.”

Ibnul Imad dalam bukunya yang berjudul Syadzaraatudz Dzahab mengatakan:

“Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, seorang yang zuhud lagi Arif, orang yang bijak pada masanya, juru nasihat pada masa hidupnya, dan wafat di Naisabur.”

Al-Khathibul Baghdadi dalam bukunya yang berjudul Tarikh Baghdad mengatakan:

“Yahya bin Mu’adz alias Abu Zakaria Ar-Razi adalah seorang juru nasihat. Dia berpindah dari Ar-Ray, lalu tinggal di Naisabur hingga wafat. Dia pernah datang ke Baghdad, lalu bergabunglah dengannya para ahli ibadah. Merema membuatnya sebuah mimbar untuknya, lalu memdudukkannya dimimbar tersebut dan mereka duduk dihadapannya seraya memohon perlindungan kepada Allah.”

Al-Imam Adz-Dzahabi dalam karya tulisnya yang berjudul Sairu A’laamin Nubala (Perjalanan hidup para tokoh yang mulia) memberikan komentarnya tentang Yahya:

“Yahya bin Mu’adz Ar-Razi adalah seorang juru nasihat, termasuk salah seorang Syekh terkemuka. Ia mempunyai kalam yang baik dan nasihat-nasihat yang terkenal.”

Az-Zarkali dalam karya tulisnya yang berjudul Al-A’lam (para tokoh) mengataklan tentangnya:

“Yahya bin Mu’adz bin Ja’far Ar-Razi wafat pada tahun 258 Hijriyah. Ia seorang juru nasihat yang zuhud, tiada yang setara dengannnya pada masanya, termasuk penduduk Ar-Ray, dan tinggal di Balakh. Ia meninggal duni di Naisabur.”

Ibnu Khalkan dalam bukunya yang berjudul Wafiyyatul A’yaan (Kematian para tokoh) menyebutkan tentangnya:

“Yahya bin Mu’adz adalah orang yang langka pada masanya. Dia mempunyai lisan dalam subjek ar-raja (harapan), khususnya pembicaraan tentang makrifat. Ia keluar dari kampung halamannya menuju Balakh dan tinggal disana selama satu masa, lalu kembali ke Naisabur dan meninggal dunia disana.”

Ibnul Atsir dalam karya tulisnya yang berjudul Al-Kaamil mengatakan:

“Pada tahun 258 wafatnya Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, seorang juru nasihat, yaitu pada bulan Julmadil Ula. Dia adalah ahli ibadah yang shalih.”

Ibnul Mulaq dalam karya tulisnya yang berjudul Thabaqaatul Auliya mengatakan tentangnya:

“Yahya bin Mu’adz Ar-Razi seorang juru nasihat alias Abu Zakaria, salah seorang tokoh poros para wali. Dia seorang yang langka pada masanya dalam bidangnya. Dia wafat pada tahun 258 Hijriyah.”[*]

Yahya Bin Umar

A. Pemikiran Ekonomi
 
Yahya bin Umar merupakan salah satu fuqaha mazhab Maliki. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Yahya bin Umar bin Yusuf Ak Kannani Al Andalusi. Kitab yang berhasil dibuatnya adalah kitab al-Muntakhabah fi Ikhtisar al-Mustakhrijah fi al-Fiqh al Maliki dan kitab Ahkam al-Suq. Kitab Ahkam al-Suq dilatarbelakangi oleh dua persoalan mendasar, yaitu pertama, hukum syara’ tentang perbedaan kesatuan timbangan dan perdagangan dalam satu wilayah; kedua, hukum syara’ tentang harga gandum yang tidak terkendali akibat pemberlakuan liberalisasi harga, sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan kemudharatan bagi para konsumen.
 
Penekanan pemikiran ekonomi Yahya bin Umar adalah pada masalah penetapan harga (al-tas’ir). Ia berpendapat bahwa penetapan harga tidak boleh dilakukan. Hujjahnya adalah mengenai kisah para sahabat yang meminta Rosulullah untuk menetapkan harga karena melonjaknya harga barang namun ditolak oleh Rosulullah dengan alasan Allah-lah yang mengusai harga. Dalam konteks ini, penetapan harga yang dilarang oleh Yahya bin Umar adalah kenaikan harga karena interaksi permintaan dan penawaran. Namun jika harga melonjak karena human error maka pemerintah mempunyai hak intervensi untuk kesejahteraan masyarakat.
Lebih luas lagi mengenai larangan penetapan harga, Yahya bin Umar mengijinkan pemerintah melakukan intervensi apabila :
 
  1. Para pedagang tidak memperdagangkan barang dagangan yang dibutuhkan masyarakat sehingga dapat merusak mekanisme pasar
  2. Para pedagang melakukan praktik siyasah al-ighraq atau banting harga (dumping) yang dapat menimbulakan persaingan tidak sehat dan dapat mengacaukan stabilitas harga.
B. Wawasan Ekonomi Modern Yahya bin Umar
 
Berikut adalah wawasan modern Yahya bin Umar yang dikemukakan pada masanya :
 
  1. Ihtikar (Monopoly’s Rent-Seeking), Islam secara tegas melarang ihtikar yaitu mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi. Ihtikar akan merusak mekanisme pasar dan akan meberhentikan keuntungan yang akan diperoleh orang lain serta menghambat proses distribusi kekeyaan diantara manusia. Maka dapat disimpulkan bahwa cirri-ciri ihtikar adalah, pertama, objek penimbunan merupakan barang-barang kebutuhan masyarakat; kedua, tujuan penimbunan adalah untuk meraih keuntungan diatas keuntungan normal.
 
  1. Siyasah Al-Ighraq (Dumping Policy), berbanding terbalik dengan ihtikar, dumping bertujuan untuk meraih keuntungan dengan cara menjual barang pada tingkat harga lebih rendah daripada yang berlaku dipasar. Hal ini dilarang dengan keras karena dapat menimbulkan kemudharatan di tengah masyarakat luas.

Amru Bin Jamuh

Biografi

Amru bin al-Jamuh berasal dari Bani Salamah dan dikenal sebagai salah seorang pemimpin dalam kaumnya. Pada awalnya ia tidak memeluk agama Islam, ia sangat mempercayai berhala-berhala yang disembahnya. Sejak kedatangan Mus'ab bin Umair banyak dari orang Madinah memeluk Islam tak terkecuali tiga orang anaknya, Mu'awadz, Muadz dan Khalid, serta sahabat sebaya mereka yang bernama Muadz bin Jabal. Ibu mereka pun yang bernama Hindun, turut serta memeluk Islam atas ajakan Mus'ab. Meski demikian, Amru tidak mengetahui tentang keimanan yang telah dianut oleh mereka. Ketiga anak-anaknya sangat menginginkan ayahnya untuk segera memeluk Islam, maka dibuat rencana untuk membuat Amr bin Jamuh memeluk Islam.

Anak-Anak dari Amr bin Jamuh akan memindahkan berhala yang disembahnya ketempat lain. Kejadian ini pemindahan berhala terjadi berulang-ulang, hingga membuat Amr bin Jamuh kesal dan bertanya kepada berhalanya
"Apabila kamu memang berkuasa maka belalah dirimu sendiri, akan Aku persenjatai dengan pedang?"
Keesokan harinya berhala itu masih berpindah tempat, sehingga membuat Amir bin al-Jamuh berpikir atas kejadian itu dan kemudian menyatakan memeluk agama Islam. Amir bin al-Jamuh dikenal sebagai seorang yang dermawan dan mau membantu setiap orang. Ia tidak ikut Pertempuran Badar, karena ia diberi kemudahan untuk tidak mengikuti perang sebagai seorang yang telah tua.

Dalam Pertempuran Uhud, ia meminta kepada Nabi Muhammad agar diizinkan ikut berperang. Dalam pertempuran ini, ia diizikan berperang untuk keinginannya memperoleh mati syahid. Sebelumnya ia memang berdoa agar dalam pertempuran ini ia dapat memperoleh mati syahid dan tidak dikembalikan kepada keluarganya. Diakhir pertempuran, ia memperoleh mati syahid. Ia dimakamkan dalam satu kuburan dengan Abdullah bin Amr bin Haram, karena keduanya adalah sahabat dekat.

Malik Bin Annas

Mālik ibn Anas bin Malik bin 'Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), (Bahasa Arab: مالك بن أنس), lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan meninggal pada tahun 800 (179 H)). Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki.
  
Biografi

Abu abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirbin Amr bin al-Haris bin Ghaiman bin Jutsail binAmr bin al-Haris Dzi Ashbah. Imama malik dilahirkan di Madinah al Munawwaroh. sedangkan mengenai masalah tahun kelahiranya terdapat perbedaaan riwayat. al-Yafii dalam kitabnya Thabaqat fuqoha meriwayatkan bahwa imam malik dilahirkan pada 94 H. ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahawa imam malik dilahirkan pada 95 H. sedangkan. imam al-Dzahabi meriwayatkan imam malik dilahirkan 90 H. Imam yahya bin bakir meriwayatkan bahwa ia mendengar malik berkata :"aku dilahirkan pada 93 H". dan inilah riwayat yang paling benar (menurut al-Sam'ani dan ibn farhun).

Ia menyusun kitab Al Muwaththa', dan dalam penyusunannya ia menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan kepada 70 ahli fiqh Madinah. Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan Al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.

Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Al Kutub as Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi sebagai ganti Al Muwaththa’. Ketika melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum mnegetahui bandingannya.

Hadits-hadits yang terdapat dalam Al Muwaththa’ tidak semuanya Musnad, ada yang Mursal, mu’dlal dan munqathi. Sebagian ‘Ulama menghitungnya berjumlah 600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613 hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in, disamping itu ada 61 hadits tanpa penyandara, hanya dikatakan telah sampai kepadaku” dan “ dari orang kepercayaan”, tetapi hadits hadits tersebut bersanad dari jalur jalur lain yang bukan jalur dari Imam Malik sendiri, karena itu Ibn Abdil Bar an Namiri menentang penyusunan kitab yang berusaha memuttashilkan hadits hadits mursal , munqathi’ dan mu’dhal yang terdapat dalam Al Muwaththa’ Malik.

Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in, ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, az Zuhry, Abi az Ziyad, Sa’id al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling akhir adalah Hudzafah as Sahmi al Anshari.

Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali diantaranya ada yang lebih tua darinya seperti az Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya seperti al Auza’i., Ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Al Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij dan Syu’bah bin Hajjaj. Adapula yang belajar darinya seperti Asy Safi’i, Ibnu Wahb, Ibnu Mahdi, al Qaththan dan Abi Ishaq.

Malik bin Anas menyusun kompilasi hadits dan ucapan para sahabat dalam buku yang terkenal hingga kini, Al Muwatta.
Di antara guru beliau adalah 

1.Nafi’ bin Abi Nu’aim, 
2.Nafi’ al Muqbiri, 
3.Na’imul Majmar, 
4.Az Zuhri, 
5.Amir bin Abdullah bin Az Zubair,  
6.Ibnul Munkadir,
7.Abdullah bin Dinar, dan lain-lain.

Di antara murid beliau adalah Ibnul Mubarak, Al Qoththon, Ibnu Mahdi, Ibnu Wahb, Ibnu Qosim, Al Qo’nabi, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya al Andalusi, Yahya bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsaury, Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Abu Hudzafah as Sahmi, Az Aubairi, dan lain-lain.




Pujian Ulama Untuk Imam Malik

An Nasa’i berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, tepercaya periwayatan haditsnya melebihi Malik, kami tidak tahu dia ada meriwayatkan hadits dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”.

(Ket: Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah, karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui, Malik hanya sedikit mentahrijkan haditsnya tentang keutamaan amal atau menambah pada matan).

Sedangkan Ibnu Hayyan berkata,” Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.

Imam as-Syafi'i berkata : "Imam Malik adalah Hujjatullah atas makhluk-Nya setelah para Tabi'in.
 
Yahya bin Ma'in berkata :"Imam Malik adalah Amirul mukminin dalam (ilmu) Hadits"
Ayyub bin Suwaid berkata :"Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah (Imam madinah) dan as-Sunnah ,seorang yang Tsiqah, seorang yang dapat dipercaya".
Ahmad bin Hanbal berkata:" Jika engkau melihat seseorang yang membenci imam malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah ahli bid'ah"

Seseorang bertanya kepada as-Syafi'i :" apakah anda menemukan seseorang yang (alim) seperti imam malik?" as-Syafi'i menjawab :"aku mendengar dari orang yang lebih tua dan lebih berilmu dari pada aku, mereka mengatakan kami tidak menemukan orang yang (alim) seperti Malik, maka bagaimana kami(orang sekarang) menemui yang seperti Malik?"


Kitab Al Muwaththa

Al-Muwaththa bererti ‘yang disepakati’ atau ‘tunjang’ atau ‘panduan’ yang membahas tentang ilmu dan hukum-hukum agama Islam. Al-Muwaththa merupakan sebuah kitab yang berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pendapat para sahabat dan ulama-ulama tabiin. Kitab ini lengkap dengan berbagai problem agama yang merangkum ilmu hadits, ilmu fiqh dan sebagainya. Semua hadits yang ditulis adalah sahih kerana Imam Malik terkenal dengan sifatnya yang tegas dalam penerimaan sebuah hadits. Dia sangat berhati-hati ketika menapis, mengasingkan, dan membahas serta menolak riwayat yang meragukan. Dari 100.000 hadits yang dihafal beliau, hanya 10.000 saja diakui sah dan dari 10.000 hadits itu, hanya 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya setelah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran. Menurut sebuah riwayat, Imam Malik menghabiskan 40 tahun untuk mengumpul dan menapis hadits-hadits yang diterima dari guru-gurunya. Imam Syafi pernah berkata, “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini setelah al qur`an yang lebih banyak mengandungi kebenaran selain dari kitab Al-Muwaththa karangan Imam Malik.”
inilah karangan para ulama muaqoddimin


Wafatnya Sang Imam Darul Hijroh

Imam malik jatuh sakit pada hari ahad dan menderita sakit selama 22 hari kemudian 10 hari setelah itu ia wafat. sebagian meriwayatkan imam Malik wafat pada 14 Rabiul awwal 179 H.
sahnun meriwayatkan dari abdullah bin nafi':" imam malik wafat pada usia 87 tahun" ibn kinanah bin abi zubair, putranya yahya dan sekretarisnya hubaib yang memandikan jenazah imam Malik. imam Malik dimakamkan di Baqi

Enam Amalan Mengusir Petaka

Semua orang tentu sangat mendambakan berada dalam zona aman yang terliputi kebaikan dan kebahagiaan, sehingga apabila ada bencana yang mengancam mereka pun berusaha menangkalnya.

Dan, jika bencana sudah menimpa, berbagai cara pun ditempuh untuk menghilangkannya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang tidak memiliki pemahaman tauhid yang benar sangat rawan terjerumus dalam kesyirikan.

Seorang Muslim harus meyakini bahwa hanya Allah yang menguasai seluruh kebaikan dan mudharat, baik yang belum maupun yang sudah menimpa.

Allah SWT berfirman, 

“Katakanlah: Maka terangkanlah kepadaku ten tang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah ber hala-berhalamu itu dapat menghilang kan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apa kah mereka dapat menahan rahmat- Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS az-Zumar [39]: 38).

Ayat ini dan ayat-ayat yang semacam nya, memupus ketergantungan hati kepada selain Allah dalam meraih kebaikan atau menolak kemudharatan. Saatnya kita mengenali jalan-jalan yang bisa kita tempuh untuk menyelamatkan diri dari berbagai bencana dan balabala kehidupan.

Di antara jalan tolak bala bencana yang Allah tunjukkan kepada kita adalah 

Pertama, doa. 

“Ya Rabbana, jangan uji kami di luar batas kemampuan kami.” (QS al-Baqarah [2]: 286). 

Sebuah hadis menyebutkan,

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.”

Kedua
, kesungguhan takwa. Keterjagaan terhadap amalan takwa pada akhirnya menutup hal terburuk dan apa pun yang tidak dikehendaki olehnya. 

“Barang siapa yang bertakwa, maka Allah jadikan ada jalan keluar baginya.” (QS at-Thalaq [65]: 2-3).

Ketiga, restu dan rida orang tua. Tidaklah setiap kejadian dan peristiwa yang dialami oleh seseorang kecuali atas izin Allah SWT. Dan izin atau restu Allah bersama dengan restu orang tua, demikian sebut Nabi SAW yang diriwa yatkan Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim.

Keempat, sedekah. Orang-orang yang beriman sangat sadar terhadap ke kuatan sedekah sebagai ikhtiar me nolak bala, kesulitan, dan berbagai macam penyakit. Rasullullah SAW ber sabda, 

”Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Dan obatilah penyakitmu dengan sedekah.”

Kelima, perbanyak istighfar.

“Kami tidak akan menurunkan azab bencana selama mereka masih beristighfar (QS al-Anfal [8]: 33).

Keenam, silaturahim, lalu selalu berzikir dan membaca shalawat. 

“Petir menyambar kafir juga mukmin, tetapi petir tidak akan menyambar orang yang sedang berzikir.”

Berikutnya, kegemarannya adalah senantiasa berbuat baik (QS 55:60). Subhanallah. Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari berbagai bala bencana. Amin.
Wallahu a’lam.

Masjid Amru Bin Ash (Masjid Tertua Di Afrika)

KAIRO--Mesir merupakan negeri yang penuh dengan bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Amru bin Ash. Inilah masjid pertama berdiri di benua Afrika. Rumah Allah itu didirikan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga penakluk negeri Mesir, Amru bin Ash.

 

Masjid yang berdiri di kota Kairo itu dibangun pada tahun 641 M/21 H. Ketika saya berkunjung ke Negeri Kinanah, beberapa waktu lalu, untuk menghadiri Workshop Internasional dan Sosialisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kairo, sahabat saya, Mahir Mohamad Soleh, mahasiswa Universitas Al-Azhar, mengajak mengunjungi masjid tertua di Mesir yang juga tertua di benua Afrika itu.

Di Masjid Amru bin Ash, saya sempat melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Namun, shaf (barisan-red) shalat berjamaah itu tidak dilakukan di shaf yang paling depan, melainkan di shaf belakang. Menurut Mahir, hal ini dilakukan jika jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah sedikit, namun jika membludak maka shalat berjamaah biasa dilakukan mulai dari shaf yang paling depan.

Sebelum shalat kami mengambil wudlu. Tempat wudlu di masjid itu sangat menarik, karena dibagi menjadi dua. Tempat pertama diperuntukkan bagi yang menggunakan sandal, sementara yang menggunakan sepatu bisa melepasnya dan tanpa alas kaki langsung mengambil wudlu di tempat yang disediakan.

Usai shalat, saya merebahkan diri di atas lantai masjid yang terhampar karpet merah. Angin sepoi sepoi menyapa kami. Di antara jamaah shalat Ashar pun ada yang terlelap tidur. Meski musim panas, udara di dalam masjid itu tidak terasa panas. Bagian tengah masjid itu tidak beratap dan lantai marmernya pun tidak diberi karpet.

Di tengah-tengah bagian masjid yang terbuka itu, tersedia air siap minum. Di bagian depan masjid ada sekelompok orang yang sedang berdiskusi. Saya tak tahu apa yang mereka diskusikan. Tiang-tiang masjid yang tertata rapi membuat masjid itu jadi bernilai seni tinggi. Masjid itu sempat menjadi tempat syuting film Ketika Cinta Bertasbih yang diadopsi dari novel yang sama karya Habiburrahman El-Shirazy.

Mahir mengatakan, saat hari-hari besar umat Islam dan bulan puasa, masjid itu selalu penuh, bahkan hingga di luar masjid. Selain itu, masjid ini juga oleh mahasiswa Universitas Al-Azhar digunakan untuk belajar dan menghafal Alquran. Sayangnya, saat saya di sana tidak melihat maha siswa yang sedang belajar, sebab mereka sedang menikmati liburan musim panas sesudah bersusah payah menghadapi ujian kenaikan tingkat.

Masjid itu pertama kali dibangun pada tahun 21 Hijriah/641 Masehi. Banyak para sahabat dan tabi` in yang ikut serta dalam membangun mesjid ini, sehingga sampai delapan puluh sahabat menentukan arah Kiblat, diantaranya; Zubair Bin Awam, alMiqdad, Ubadah Bin Shamat, Abu Darda, dan yang lainnya. Masjid itu berbentuk memanjang, dengan panjang 28,9 meter, dan lebar sisinya 17,4 meter, dindingnya terbuat dari batu bata, atapnya terbuat dari pelepah pohon kurma, dan ting-tiangnya dari batang pohon kurma dan memiliki enam pintu.

Masjid ini telah berulang kali direnovasi dan diperluas. Di antaranya, pada tahun 53 Hijriyah (672 M) Pangeran Maslamah bin Mukhallad al-Anshori telah memperluas masjid, kemudian diperluas oleh Pangeran Abdul Aziz bin Marwan (Gubernur Mesir ketika itu ) tahun 79 Hijriyah (698 M).

Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, masjid itu di perbesar oleh Abdul Malik bin Thahir. Kini, panjang Mesjid Amru mencapai120 meter, dan lebarnya 100 meter. Masjid itu juga pernah diperbaiki oleh Sultan Shalahuddin al-Ayubi pada tahun 568 H/1172 M.

 

Masjid Amru begitu banyak mendapat perhatian dari kalangan pemerintah, dari masa pemerintahan Khulafau Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayubiyyah, Dinasti Mamalik, sampai Dinasti Usmaniyah. Masjid Amru Bin Ash bukan hanya tempat untuk shalat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Islam pertama di benua Afrika. Imam Syafii juga pernah mengajar di masjid itu. Hal itu menunjukan bahwa masjid Amru bin Ash telah menelurkan sarjana-sajana Muslim yang andal.