Aqidah Imam Bukhari رحمه الله

09 Juli 2012

Imam Bukhari رحمه الله berkata:“Aku telah berjumpa dengan 1000 ulama lebih di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Washit, Baghdad, Syam dan di Mesir, berkali-kali kurun demi kurun. Kujumpai mereka semuanya semuanya selama 46 tahun. Ulama Syam, Mesir dan Jazirah 2 kali, Ulama Bashrah 4 kali bertahun-tahun, ulama Hijaz 6 tahun. Dan aku tak dapat menghitung berapa kali aku datang ke Kufah dan Baghdad menemui ahli hadits negeri Khurasan di antaranya: Makki bin Ibrahim, Yahya bin Yahya, Ali bin Hasan bin Syaqiq, Quiaibah bin Said dan Syihab bin Ma’mar.

Sedang di Syam di antaranya: Muhammad bin Yusul Al Firyabi, Abu Mushir Abdul A’la bin Mushir, Abul Mughirah Abdul Quddus bin Hajjaj, Abul Yaman Hakam bin Nafi’ dan ulama setelah mereka yang tidak sedikit.

Di Mesir di antaranya Yahya bin Katsir, Abu Shaleh sekretaris Laits bin Saad, Said bin Abu Maryam, Ashbagh bin Al Faraj dan Nu’aim bin Hammad. Di Makkah aku jumpai para pakar seperti Abdullah bin Yazid Al Muqri, Humaidi, Sulaiman bin Harb Qadi Makkah dan Ahmad bin Muhammad Azraqi.

Sedang di Madinah seperti Ismail bin Abi Uwais, Mutharrif bin Abdillah, Abdullah bin Nafi’ Az Zubairi, Ahmad bin abu Bakar Abu Mish’ab Az Zuhri, Ibrahim bin Hamzah Zubairy dan Ibrahim bin Hamzah Zubairi dan Mundzir Al Hizami.

Di Basrah aku dapati Abu Ashim Dhahhak bin makhlad Syaibani, Abul Walid Hisyam bin Abdul Malik, Hajjaj bin Minhal dan Ali bin Abdullah bin Ja’far Al Madini. Adapun di Kufah di antara yang kujumpai adalah Abu Nuaim Fadhl bm Dukain, Abdullah bin Musa, Ahmad bin Yunus, Qubaisah bin Uqbah, Ibnu Numair dan Abdullah serta Usman yang keduanya ibnu Abi Syaibah.
Di Baghdad di antaranya Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main dan Abu Ma’mar, Abu Khaitsamah serta Abu Ubaid Qasim bin Sallam. Di Jazirah kujumpai Amr bin Khalid Al Khurani dan di Wasith Amr bin Aun dan Ashim bin Ali bin Ashim. di Marwu kudapati para ulama seperti Shadaqah bin Fadhl dan Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali.

Supaya ringkas, cukuplah kusebutkan nama-nama ini saja. Mereka semua, baik yang kusebutkan maupun yang tidak, tak ada yang berselisih pendapat dalam masalah-masalah berikut:

1. Dien(iman) itu ucapan dan amal, sesuai dengan firman Allah سبحانه و تعالي :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Dan mereka tidak diperintah melainkan untuk me­nyembah (beribadah) kepada Allah dengan memurnikan ketaatan pada-Nya dalam (menjalankan agama) dengan lurus dan supaya mereka menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al Bayyinah: 5).

2. Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, karena firman-Nya berikut ini:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dan (diciptakan-Nya) pula matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya….” (Q.S. Al -A’raf: 54).

Abu Abdillah bin Ismail berkata: “Ibnu Uyainah رحمه الله berkata ‘Maka Allah membedakan antara penciptaan dan perintah dengan firman-Nya:

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan alam semesta.” (Q.S. Al A’raf: 54).

3. Baik dan buruk itu ditakdirkan, berdasarkan firman-Nya :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ.

“Katakanlah, aku berlindung kepada Allah yang meng­uasai Shubuh. Dari kejahatan makhluk yang la ciptakan (Q.S. Al Falaq: 1-2).

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah telah menciptakan kamu dan amal perbu­atanmu. ” (Q.S. As Shaffat: 96).

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu me­nurut kadar (ukuran).” (Q.S. Al Qamar: 49).

4. Mereka semua tak mengafirkan seorangpun dari ahlulqiblat karena dosanya, karena ayat:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) menyekutukan Allah (syirik) dan mengampuni (dosa) selainnya kepada siapa saja yang la kehendaki.” (Q.S. An Nisa: 48).

5.  Dan aku tidak melihat seorangpun aku tak melihat seorangpun dari mereka yang mencela sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم. Aisyah رضي الله عنها berkata: Mereka disuruh untuk Istighfar (memohon ampun) buat mereka. Itulah maksud firman Allah:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Wahai Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara- saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dan kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian di hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hasyr: 10).

6. Mereka menolak bid’ah, yakni ajaran yang tak dibawa oleh Nabi صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya, karena firman-Nya:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpegang teguhlah kamu semua dengan tali Allah, janganlah bercerai berai. ” (Q.S. Ali Imran: 103)

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“Dan jika kamu menaatinya, niscaya kamu mendapat hidayah.” (Q.S. An Nur: 54).

Mereka menganjurkan kita untuk menetapi ajaran yang dibawa Rasulullah صلي الله عليه وسلم. berdasarkan firman Allah تعالي :

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-berai-kan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintah kan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al An’am: 153).

7. Kita tidak boleh menentang waliyul amri (pemimpin) ka­rena Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

ثَلاَ ثٌ لاَيَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِيٍ مُسْلِمٍ: إخْلاَصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَطَاعَةُ وُلاَةِ الْأَمْرِ وَلُزُوْمُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Tiga hal yang tak didengki oleh kalbu seorang mukmin: ihklas beramal karena Allah, menaati pemimpin (waliyul amri) serta menetapi jamaah mereka, karena seruan (doa) para pemimpin tersebut mencakup orang yang di belakang (rakyat)-nya”

Ini diperkuat dengan firman Allah عزّوجلّ berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulul Amri (pemimpin) dari golonganmu.” (Q.S. An Nisa: 59).

Juga tak mengacungkan pedang kepada umat Muhammad صلي الله عليه وسلم. Fudhail bin Iyadh رحمه الله berkata: 

“Sekiranya aku punya doa yang makbul, niscaya tak kutujukan selain untuk Imam (pemimpin), karena jika sang pemimpin baik, maka aman dan sejahteralah rakyat dan negara.”

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalam. Saya cuma ingin menasihatkan Tuan blog supaya menutup aurat dengan sempurna kerana menutup aurat itu adalah wajib. Sia-sia memberi pesanan hal agama kepada orang lain jika diri sendiri masih dalam keadaan berdosa...

Poskan Komentar

ترك التعليق