Marwan Bin Al-Hakam (Sahabat Yang Menyuruh Yazid Untuk Membunuh Imam Husain)

09 Juli 2012

Marwan bin al-Hakam bergelar Marwan I (623 – 685) ialah Khalifah Bani Umayyah yang mengambil alih tampuk kekuasaan setelah Muawiyah II menyerahkan jabatannya pada 684. Naiknya Marwan menunjukkan pada perubahan silsilah Bani Umayyah dari keturunan Abu Sufyan ke Hakam, mereka ialah cucu Umayyah (darinya nama Bani Umayyah diambil). Hakam ialah saudara sepupu Utsman bin Affan.

Selama masa pemerintahan Utsman, Marwan mengambil keuntungan dari hubungannya pada khalifah dan diangkat sebagai Gubernur Madinah. Bagaimanapun, ia diberhentikan dari posisi ini oleh Ali, hanya diangkat kembali oleh Muawiyah I. Akhirnya Marwan dipindahkan dari kota ini saat Abdullah bin Zubair memberontak terhadap Yazid I. Dari sini, Marwan pergi ke Damsaskus, di mana ia menjadi khalifah setelah Muawiyah II turun tahta.

Masa pemerintahan singkat Marwan diwarnai perang saudara di antara keluarga Umayyah, seperti perang terhadap Ibnu Zubair yang melanjutkan pemerintahan atas Hejaz, Irak, Mesir dan sebagian Suriah. Marwan sanggup memenangkan perang saudara Bani Umayyah, yang berakibat naiknya keturunan Marwan sebagai jalur penguasa baru dari Khalifah Umayyah. Ia juga sanggup merebut kembali Mesir dan Suriah dari Ibnu Zubair, namun tak sanggup sepenuhnya mengalahkannya. Marwan bin al-Hakam digantikan sebagai khalifah oleh anaknya Abdul Malik bin Marwan.

Utsman bin Affan menjadi khalifah pada usia 74, sekali lagi muncul pertanyaan mengapa dia lebih disukai ketimbang sahabat-sahabat lainnya yang lebih muda dan lebih mampu? Apakah ini merupakan siasat Umar bin Khathab untuk memberikan kekuasaan mutlak kepada klan Bani Umayyah?
.
Strategi ini memuluskan berdirinya kekuasaan Utsman yang notabene adalah Bani Umayyah.
.
Utsman juga mengangkat Marwan bin Hakam dengan sepenuh keyakinan, yang oleh Baladzuri dikatakan: 

“…dia (Hakam) memeluk Islam setelah penaklukan kota Makkah, namun dia tetap terus menghina Nabi, yang mengakibatkan Hakam dan anaknya (Marwan) diusir dari kota Madinah. Pengasingan ini tetap dilaksanakan Abu Bakar dan Umar. Namun ketika Utsman berkuasa, dia mengabaikan hukum yang telah ditetapkan Nabi Saw, dia justru memanggil balik Marwan dan Hakam ke Madinah, bahkan menjadikan Marwan sebagai Asistennya dan Kepala Hakim Pengadilan”. [Al-Baladzuri, Ansab al-Ashaf, Jil. 5, hlm. 17].

Bahkan seorang sarjana ternama Muslim Sunni, Al-Syahid Sayyid Quthb, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas fakta sejarah ini. Sayyid Quthub menulis, 

Adalah celaka sekali bahwa kekuasaan kekhalifahan diberikan kepada Utsman yang pada saat itu telah tua renta, lemah semangat juangnya untuk menegakkan Islam, tak berdaya menentang tipu daya pembantunya, Marwan bin Hakam serta pendukungnya, kaum keluarga Ummayyah.” [Sayyid Quthb, Keadilan Sosial Dalam Islam, hlm. 270, Penerbit Pustaka Bandung, Cet. I, 1984.].

“…tetapi sejarah juga sulit untuk memaafkan kesalahannya (Utsman bin Affan) akibat usianya yang telah sangat tua dan fisiknya yang sudah lemah, terombang-ambing dalam pengaruh buruk Bani Umayyah.” [Ibid, hlm. 272.].

Ketika para shahabat yang shalih masih hidup mengapa kedudukkan-kedudukkan penting justru diberikan kepada orang-orang berperilaku buruk seperti itu? Jawaban obyektifnya adalah agar sang khalifah dengan mudah mempunyai kesempatan untuk memberikan kekuasaan yang langgeng bagi Bani Umayyah. Inilah suatu kaum yang di dalam sejarahnya berambisi untuk memadamkan Cahaya Islam, yang mendapatkan kesempatan secara mulus dari para khalifah-khlaifah sebelumnya untuk berkuasa dan menghancurkan Islam dari dalam.

Dan saat itu pula musuh bebuyutan mereka, Bani Hasyim tidak lagi memiliki kekuatan yang berarti setelah pertahanan ekonomi mereka (Fadak) dirampas, dan posisi-posisi penting mereka dan para pendukung mereka berhasil digusur. Kemutlakan pilih kasih telah diberikan kepada Bani Umayyah dan menghapus segala kemungkinan Bani Hasyim dapat meraih kekhalifahan.

Utsman telah memberikan khumus (20%) dari rampasan perang dari expedisi pertama ke Afrika kepada saudara lelakinya, Abdullah ibn Abu Sarh. Marwan bin Hakam memperoleh khumus (20%) dari expedisi ke 2 Afrika. Dan akhirnya khalifah memberikan kepadanya keseluruhannya (100%). [Tarikh Ibn al Athir Volume 3 page 49 publishers, Dar ul Kitan al Lubnani, 1973.]

* Tanah Fadak yang merupakan milik Rasulullah Saw, yang disita Abu Bakar dari tangan Sayyidah Fathimah, akhirnya diberikan Utsman kepada Marwan.
[Ibn Qutayba, Al Ma'arif, p. 190 edited by Tharwat 'Ukasha, Cairo edition 1960.]

* Utsman juga memberikan sepupunya, Harits hadiah yaitu, unta-unta yang telah dikumpulkan sebagai zakat dan pajak, lalu membawa unta-unta itu ke Madinah. [Ansab al-Ashraf, Baladhuri, Vol 5 p 28, edited by S.D.F. Goitein Jerusalem 1936.]

* Apakah hal ini tidak mengundang keingintahuan, bahwa Abu Bakar telah menetapkan Fadak menjadi milik negara, lalu ‘diberikan’ kepada Marwan? Utsman telah memberikan Zakat dari Qud’ah yang berjumlah 300.000 dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 1, p. 193, Dar al- Ma’arif, Egypt, 1953] dan Abdul Rahman bin Auf 3 juta dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 3, p. 126, Dar al-Ma'arif, Egypt 1953]

Mungkin menurut Umar bin Khaththab hal ini dipandang sebagai alternatif, setelah menyadari ketamakan Bani Umayyah, dengan dalih agar tidak terjadi perang saudara (antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim) dan menjaga persatuan umat Islam secara keseluruhan.
Tidak bisa dibantah, mengapa Umar bin Khaththab tidak menganugerahkan kekhilafahan kepada putranya, Abdullah bin Umar? Ternyata Umar mempunya visi yang terlalu jauh untuk ini.

Dia menyadari jika dia memberikan kekhalifahan kepada putranya, Abdullah bin Umar, dia akan mendapatkan ancaman kekuasaan dari Bani Umayyah, sehingga dengan terpaksa dia memberikannya kepada Banu Umayyah, yang dia ketahui sangat haus kekuasaan. Pada kenyataannya, dia telah membuat putranya sendiri, Abdullah bin Umar mesti memutuskan pemilihan suara dalam Dewan Syura yang sudah disiapkan Umar bin Khaththab sedemikian rupa agar Utsman bin Affan unggul dalam pemilihan tersebut.

Dengan cara ini, putra Umar, Abdullah bin Umar menjadi sekutu dekat dengan Bani Umayyah dan menjadi seorang musuh yang pahit bagi putra-putra Imam Ali, khususnya Imam Husain (as)

Usman memberi keutamaan kepada anggota sukunya atau menunjuk keluarga nya untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, Ia hidup dalam  kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman, juga royal dan sangat berlebihan.

Bani Umayah seperti Muawiyah dan Marwan yang benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Utsman dan juga kematiannya. Kisah Ibnu Saba dalam hal ini berfungsi sebagai topeng bagi wajah-wajah yang haus kekuasaan, yang juga merupakan cara lain untuk menyerang Ali bin Abi Thalib dan pengikut-pengikut setianya.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman. Khalifah Usman bin Affan membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah.

Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham. la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertinggi nya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerah kan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib.

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata,

“Sesungguhnya engkau telah membuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, 

“Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

c.  Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang. Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq.

Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu.

Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah. Usman  malah menggantikan Jabatan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

d. Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan USMAN hanya melakukan hal yang sama.”

Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata: Sesungguh nya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402)
.
Utsman bin Affan tidak seperti pendahulunya yang cerdik dalam politik dan mampu mengatur pemerintahnya lebih baik. Setelah Abdurrahman bin Auf menyerahkan suaranya kepada Utsman dan ia terpilih sebagai khalifah, Utsman diarak menuju masjid Rasulullah saw. untuk mengumumkan kebijakan politiknya demi memperbaiki kondisi yang ada. Utsman naik ke atas mimbar dan duduk di atas tempat yang biasa diduduki Nabi semasa hidupnya, padahal Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak berani melakukannya ketika mereka menjabat sebagai khalifah. Mereka berdua hanya berani duduk di undakan yang menuju tempat duduk Nabi. Di atas tempat duduk Nabi itulah Utsman berpidato. Sebagian sahabat berkata: “Hari ini kepongahan telah lahir”.

Utsman bin Affan bukan seorang yang pandai pidato. Ia tidak mampu berkata banyak di atas mimbar Nabi. Ia berkata: “Amma Ba’du (selanjutnya), sesungguhnya pertama kali mengendarai sesuatu adalah saat yang sangat sulit. Di sisi lain, aku bukanlah seorang orator. Allah Maha Mengetahui. Sesungguhnya masalah yang berada di antara seseorang dan Adam adalah seorang ayah yang telah meninggal dan perlu dinasehati”.

Al-Ya’qubi menulis: “Utsman bin Affan berdiri dan untuk sementara waktu ia tidak berkata apapun. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bin Khatthab telah menyiapkan posisi ini sebelumnya. Kalian lebih membutuhkan seorang khalifah yang adil daripada seorang khalifah yang hanya bisa berpidato. Bila kalian masih hidup, ucapan dan pidatoku akan mendatangi kalian. Kemudian Utsman turun dari mimbar”.[33]
Utsman bin Affan mulai menjalankan pemerintahannya dan melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas kaum muslimin marah dan membencinya kecuali keluarganya, yaitu Bani Umayyah. Ia secara transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan kecondongannya kepada keluarga, sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Ia mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Posisi penting mulai diisi oleh Bani Umayyah tanpa mampu ditolak oleh kaum muslimin.

Utsman bin Affan telah melampaui batas dalam kebijakan rasisnya; melebihi apa yang telah ditanamkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatthab. Quraisy tidak lagi memegang kendali pemerintahan, namun dibatasi oleh Utsman pada Bani Umayyah saja.

Utsman bin Affan tidak lagi  peduli pada nasihat dan peringatan-peringatan para sahabat dan di atas mereka semua Ali bin Abi Thalib. Benar, Utsman telah menguasai kekuasaan, namun ia lupa berkaca kepada pendahulunya dalam menjalankan pemerintahan di atas metode yang sah dan berdasarkan pemerintahan Islam. Elemen-elemen penting dan baik semakin lemah untuk dapat mengubah kebijakan pemerintah secara langsung. Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab pada masa pemerintahan mereka cukup berhasil menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari kekuasaan dan kepercayaan rakyat pada pandangan dan tuntunannya. Akibatnya, penyelewengan dan penyimpangan dari pemerintahan islami dan munculnya arus kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait semakin kuat. Kondisi ini sangat menyulitkan usaha Ali agar khalifah baru mau mendengarkan nasihat. Kondisi dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekkah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya.

Sikap Abu Sufyan setelah pembaiatan Utsman bin Affan

Setelah selesai pembaiatan Utsman bin Affan, Abu Sufyan berjalan mendekati rumah Utsman bin Affan, dan secara berdesak-desakan dengan keluarga dan teman-teman Utsman ia maju dan menyampaikan awal kemenangan menguasai kekuasaan. Tampak wajahnya berbinar-binar menerima kemenangan ini dengan terpilihnya Utsman sebagai khalifah kaum muslimin. Mulutnya terbuka lebar untuk menandakan kebenciannya. Tampak kegeramannya mengingat Islam telah menghina tokoh-tokoh Bani Umayah. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan kemudian berkata kepada segenap yang hadir di rumah Utsman bin Affan: “Apakah ada orang lain selain keluarga dan teman-teman Bani Umayyah?” Mereka serentak menjawab: “Tidak”. Abu Sufyan melanjutkan: “Wahai Bani Umayyah! Dengan cepat kalian telah meraih dan menguasai kekuasaan seperti menangkap bola. Demi Zat yang Abu Sufyan bersumpah atasnya! Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak pula ada perhitungan di Hari Kiamat, dan tidak ada juga yang namanya pembalasan. Sejak dahulu aku selalu mengharap kekuasaan ini untuk kalian. Jadikan ini sebagai warisan untuk anak cucu kalian”.

kemudian ia berjalan menuju kuburan pemimpin para syahid, Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ia berhenti di samping kuburan sambil menendang kuburan Hamzah dengan kakinya dan berkata: 

“Wahai Abu ‘Imarah! Apa yang selama ini engkau perjuangkan dengan pedangmu sekarang telah berada di tangan anak keturunan kami. Mereka menjadikannya sebagai barang mainan”.

Dampak Negatif Kebijakan Pemerintahan Utsman bin Affan

Selama hidup dengan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib a.s. tidak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya secara terbuka. Demikian ini tidak lain karena penyimpangan yang terjadi juga tidak secara terang-terangan. Bahkan dalam banyak kesempatan, Ali terlibat dalam usaha memperbaiki sikap dan posisi khalifah bila terjadi kesalahan dan itu diterima oleh keduanya. Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak khawatir karena Ali memainkan peranannya hanya sebatas tokoh agama di hadapan umatnya dan sebagai pemilik yang sah kekhalifahan dan pemimpin oposisi bersama sebagian sahabat besar lainnya. Ali siap untuk tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah dan memberikan ketenangan kepada masyarakat, sekalipun ia tidak akan mundur dari prinsip yang diwarisinya dari Rasulullah saw. sebagai penjaga dan pelindung akidah Islam.

Sikap yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib berbeda ketika Utsman bin Affan mengambil alih pemerintahan sebagai khalifah baru. Pada pemerintahan Utsman, perilaku korup telah menyebar luas dan secara perlahan-lahan korupsi itu masuk dalam struktur pemerintahan secara terang-terangan. Kerusakan moral ini akhirnya menjalar dan merasuki masyarakat Islam. Di sini, Ali bin Abi Thalib kemudian mengambil sikap dan secara terang-terangan menentang kepemimpinan Utsman bin Affan. Banyak sahabat besar yang mendukung sikap Ali seperti: Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lain, bahkan dukungan juga mengalir dari mereka yang sebelumnya mengingkari hak Ali sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka tidak setuju dengan kebijakan Utsman dalam pengelolaan negara dan kerusakan moral pemerintahannya. Di sini dapat dilihat secara global pemerintahan Utsman dan dampak buruknya.

Utsman bin Affan menerima tampuk pimpinan ketika ia telah berumur tujuh puluh tahun; batasan umur di mana seseorang sangat mencintai keluarga dan mau berkorban untuk mereka. Diriwayatkan ucapannya: 

“Seandainya aku memiliki kunci-kunci pintu surga, niscaya aku akan memberikannya kepada Bani Umayyah sehingga mereka semua memasukinya”.

Begitu juga sebelum Islam, Utsman bin Affan hidup dalam kondisi yang serba ada dan kondisi itu berlangsung setelah memeluk Islam. Oleh karenanya, ia tidak dapat merasakan betapa sulitnya orang-orang fakir miskin menjalani kehidupan mereka. Kepribadiannya betul-betul teruji ketika harus bersikap dengan sekelompok besar orang-orang miskin yang meminta keadilan dan persamaan hak darinya. Ia memperlakukan mereka dengan keras dan kasar sebagaimana perlakuannya kepada Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lainnya.

Dari sisi keluarga, Utsman bin Affan sangat dekat dan bahkan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting. Ia mengangkat Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith sebagai gubernur Kufah, padahal Al-Walid termasuk orang yang diberitakan oleh Rasulullah sebagai penghuni neraka. Utsman juga mengangkat  Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam dan Abdullah bin ‘Amir sebagai gubernur Bashrah. Ia juga telah mencopot Al-Walid bin ‘Uqbah dari jabatannya sebagai gubernur Kufah dan menggantikannya dengan Said bin Al-’Ash. 
 
Utsman bin Affan adalah orang yang lemah, terutama bila berhadapan dengan Marwan bin Al-Hakam. Ia senantiasa mendengar ucapan dan menuruti keinginan Marwan. Hal itu terus berlangsung bahkan ketika terjadi konspirasi untuk menggulingkannya dan kondisi yang betul-betul gawat. Ketika keadaan telah kritis, Ali bin Abi Thalib melibatkan diri untuk meredakan ketegangan sampai berhasil memulangkan orang-orang yang melakukan demonstrasi menuntut perubahan dan perbaikan kebijakan pemerintahan sekaitan dengan kolusi dan korupsi yang telah menggerogoti pemerintah, bahkan permintaan untuk menggantikan sebagian gubernur di beberapa daerah. Ali berhasil mendapatkan janji Utsman untuk tidak lagi mendengar dan mengikuti ucapan Marwan bin Al-Hakam dan Said bin Al-’Ash.

Sayangnya, tatkala situasi mereda dan normal, Marwan dan Said kembali mendekati Utsman bin Affan dan memaksanya keluar dari rumah disertai pengawal pribadi. Melihat hal itu, Ali bin Abi Thalib a.s. menemui Utsman dengan penuh kemarahan sambil berkata: “Kau setuju dengan perkataan Marwan, namun ia tidak pernah puas padamu. Yang diinginkan darimu adalah agar engkau menyimpang dari agama dan akalmu seperti unta yang dicocok hidungnya ikut ke mana saja pemiliknya pergi. Demi Allah! Marwan bukan orang yang agama dan jiwanya baik”.

Pada kesempatan lain, Utsman bin Affan sangat marah kepada para saksi yang menyaksikan Al-Walid bin ‘Uqbah yang dituduh meminum khamar sehingga Utsman mengusir mereka. Mengetahui kejadian tersebut, Ali bin Abi Thalib memperingatkan Utsman akan akibat yang bakal terjadi dari perbuatannya ini. Ali memerintahkan Utsman untuk menghadirkan Al-Walid agar diadili dan dihukum bila terbukti tuduhan tersebut. Ketika Al-Walid dihadirkan dihadirkan dalam sidang dan terbukti melakukan demikian atas kesaksian para saksi, Ali sendiri yang melaksanakan hukumannya yang membuat Utsman semakin marah. Ia berkata kepada Ali: “Engkau tidak punya hak untuk melaksanakan hukum tersebut atas Al-Walid”. Ali menjawab dengan logika yang kuat dan berlandaskan syariat Islam: “Bahkan yang lebih buruk dari ini adalah bila seseorang yang berbuat kefasikan dan mencegah hak-hak Allah berlaku kepada orang yang berbuat fasik”.

Kebijakan Utsman bin Affan di bidang keuangan adalah kepanjangan dari kebijakan yang diberlakukan sebelumnya oleh Umar bin Khatthab, yaitu kebijakan  yang menciptakan sistem kasta. Umar membagikan kekayaan negara secara tidak adil kepada sebagian kelompok dan tidak kepada sebagian lainnya. Ketimpangan itu yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk yang lebih ekstrim di zaman Utsman bin Affan. Ia memberikan perhatian khusus kepada Bani Umayyah.

Suatu waktu, penjaga khazanah Baitul Mal mengajukan keberatannya kepada Utsman mengenai kebijakan keuangannya. Mendengar itu, Utsman menjawab: “Engkau adalah penjaga Baitu Mal kami. Bila kami memberikan sesuatu kepadamu maka ambillah, dan bila kami diam maka engkau juga harus diam”. Penjaga Baitul Mal kemudian menjawab: “Demi Allah! Aku bukan penjaga Baitul Mal khalifah dan keluarganya melainkan penjaga harta kaum muslimin”.

Pada hari Jumat, ketika Utsman berkhotbah, penjaga Baitul Mal itu berkata: “Wahai kaum muslimin, Utsman bin Affan menganggap bahwa aku adalah penjaga Baitul Malnya dan keluarganya. Aku ingin mengatakan di sini bahwa aku adalah penjaga Baitul Mal kaum muslimin. Ini adalah kunci-kunci Baitul Mal milik kalian”. Ia kemudian melemparkan kunci-kunci tersebut ke hadapan Utsman.

Sikap Ali terhadap Utsman bin Affan

Kaum muslimin semakin membenci Utsman bin Affan karena perilakunya. Sahabat-sahabat terbaik Rasulullah saw. semakin bersatu terhadap penyimpangan khalifah dan pejabat yang berada di bawahnya. Di seberang sana, Utsman bin Affan mengerti dan mulai menyiksa para penentang kebijakannya yang menyimpang. Penyiksaan yang dilakukan sudah tidak lagi memandang para sahabat Rasulullah saw. Dari situ, ia menyiksa Abu Dzar; salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, karena seringnya melakukan protes terhadap kebijakan Utsman yang buruk. Utsman membuangnya ke Syam. Muawiyah sebagai gubernur Syam juga tidak mampu menahan protes Abu Dzar sehingga ia mengirimkan Abu Dzar kembali ke Madinah.

Di kota Madinah, Abu Dzar kembali melakukan perjuangan dengan memprotes kebijakan buruk Bani Umayyah. Utsman semakin terpojok dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Abu Dzar.  Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk mengasingkan Abu Dzar ke daerah bernama Rabadzah (sebuah tempat di Lebanon sekarang ini) dan melarang siapa pun untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun, Ali bin Abi Thalib mengantarkan Abu Dzar untuk mengucapkan selamat tinggal. Ali ditemani kedua anaknya Hasan dan Husein, Aqil, dan Abdullah bin Ja’far. Marwan bin Al-Hakam gusar terhadap perlakuan baik Ali tersebut. Ia melakukan protes kepada Utsman bin Affan agar menahan mereka untuk tidak memberi ucapan selamat dan mengantarkan Abu Dzar. Ali bangkit dan menyerang Marwan. Ia berhasil memotong kedua telinga binatang tunggangan Marwan. Setelah itu, Ali berteriak kepadanya: “Coba halangi! Semoga Allah mengirimmu ke Neraka”.

Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras untuk mengucapkan perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar sambil berkata kepadanya: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau bila marah karena Allah, aku berharap kemarahanmu ditujukan kepada mereka. Orang-orang takut kepadamu karena urusan dunia dan harta mereka, sementara engkau takut kepada mereka karena masalah agama mereka. Tinggalkanlah apa yang mereka takutkan atasmu buat mereka (harta dan dunia). Pergilah engkau bersama ketakutanmu atas mereka (agama). Mereka lebih butuh kepada apa yang engkau larang (cinta dunia). Apa yang mereka larang kepadamu lebih berharga (agama). Engkau akan tahu siapa yang lebih beruntung di Hari Kiamat dan siapa yang lebih dengki!”

Sekembalinya dari mengantar Abu Dzar untuk mengucapkan salam perpisahan, orang-orang menyambut Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Utsman bin Affan sangat marah denganmu”. Ali menjawab: “Biarkan kuda marah karena kekangannya”.

Dampak Negatif Pemerintahan Utsman terhadap Umat Islam

Pemerintahan Utsman bin Affan merupakan kelangsungan dari garis politik pemerintah yang melalaikan kandungan risalah Islam, baik secara praktis maupun teoritis. Kondisi ini meninggalkan efek-efek negatif dalam perjalanan pemerintahan Islam dan umat sebagai kesatuan. Hal itu ditambah dengan kerusakan dan tuduhan keji terhadap transparansi pemerintahan Islam di hadapan umat Islam yang tidak pernah hidup di bawah seorang pemimpin yang maksum (Nabi Muhammad saw) kecuali selama satu dekade. Pada sepuluh tahun itulah umat melihat pemimpinnya sekaligus penguasa dan pendidik. Sementara, api fitnah semakin berkobar luas di pinggiran negara Islam yang akan membawa malapetaka kepada umat Islam. Dengan memeriksa data-data sejarah, dapat ditemukan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.  Kebijakan pemerintahan Utsman bin Affan tidak sesuai dengan syariat Islam. Hukum-hukum tidak dijalankan secara baik, kebusukan dan kebobrokan semakin meluas sehingga para pejabat pemerintahan tidak mampu memperbaiki kondisi yang telah buruk itu. Ini semua menjadikan keonaran dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya memunculkan semangat untuk tidak lagi taat kepada hukum. Dampak buruk dari munculnya kebusukan ini adalah kecerobohan dan acuh terhadap nilai-nilai moral dan hukum-hukum Islam. Di rumah-rumah gubernur dan pejabat-pejabat tinggi, dapat ditemukan dengan mudah pesta pora yang diisi dengan acara musik dan nyanyian yang di sela-sela itu minuman keras dihidangkan.

2.  Pemerintah Utsman bin Affan memfokuskan kebijakannya atas dasar semangat kesukuan yang sejak awal telah ditanamkan oleh Abu Bakar dalam kebijakan politiknya. Kekuasaan yang didasari oleh kesukuan semakin transparan dalam kekuasaan Bani Umayyah. Mereka bagaikan sebuah keluarga besar menguasai semua jabatan-jabatan penting, karena mereka menganggap bahwa mereka adalah penguasa besar yang menguntung Islam dan sekarang kekuasaan ini kembali kepada pemiliknya. Di sini sudah tidak ada lagi prinsip-prinsip syariat Islam. Bani Umayyah muncul sebagai haluan politik yang kuat; haluan yang memusuhi Islam dan khususnya Ahlul Bait Nabi. Mereka telah menjelma menjadi penghalang terbesar yang dapat menahan Ali bin Abi Thalib untuk dapat mengambil kembali haknya yang terampas. Mereka kemudian membentuk front di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menghadapi Ali.

3.  Pemerintahan Utsman bin Affan menganggap bahwa kekuasaan adalah hak dan sebuah pemberian dan tidak seorang pun berhak untuk merampasnya dari mereka. Kekuasaan dijadikan alat untuk memenuhi keinginan dan kerakusan mereka yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang sesat. Menurut mereka, kekuasaan bukan untuk memperbaiki masyarakat dan menyebarkan Islam di muka bumi.[43] Pandangan seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi banyak orang untuk berlomba-lomba berusaha menguasai pemerintahan, karena kekuasaan akan memberikan keuntungan, kekuatan dan derajat. Amr bin Al-Ash, Muawiyah, Thalhah dan Zubeir termasuk dalam kelompok ini. Mereka tidak lagi berusaha meraih kekuasaan dengan alasan mewujudkan tujuan kemanusiaan atau sosial yang menguntungkan umat Islam.

4.  Pemerintahan Utsman bin Affan berhasil menciptakan masyarakat kelas kaya yang cukup luas. Kelas ini selalu terancam kepentingannya bila pemerintahan bermaksud untuk menjalankan kebenaran dan hukum Islam. Arus tuntutan gerakan kaum miskin muslimin ialah perubahan sistem keuangan dan lajunya kehidupan ekonomi serta pembatasan intervensi ke dalam kehidupan pribadi. Gerakan Abu Dzar menentang pemerintah karena kebusukan kebijakan moneter merupakan sebuah bukti betapa dalamnya kegusaran masyarakat miskin di tengah umat.

5.  Penggunaan kekerasan untuk meredam kritik bahkan penghinaan yang dilakukan menimbulkan reaksi yang tersumbat dan pada waktunya muncul sebagai kudeta militer. Pembunuhan Utsman bin Affan adalah titik geser dalam konflik yang melingkar di antara pandangan yang ada di kaum muslimin. Masyarakat menjadikan tindakan kekerasan sebagai solusi kebuntuan selama ini. Hal ini ditambah dengan sikap keras kepala Bani Umayyah dan pejabat-pejabat mereka yang senantiasa menantang kebenaran, keinginan dan tuntutan masyarakat luas untuk munculnya sebuah perubahan dan perbaikan.

Kondisi ini sekali lagi membuka kesempatan kepada kaum oportunis agar dapat merebut kekuasaan dengan kekerasan dan kekuatan senjata setelah umat Islam tercerai berai dan saling berselisih. Setiap kelompok menginginkan kekuasaan untuknya.

6.  Pembunuhan Utsman bin Affan meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Fitnah yang setiap saat dapat memanas dan membakar siapa saja setiap saat, dan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan mereka yang keluar dari baiat sebagai semboyan untuk menyulut peperangan dan pertumpahan darah guna menghadapi pemerintahan sah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib lewat pemilihan oleh masyarakat Islam. 

Fitnah ini kemudian dikemas sedemikian rupa kemudian menjadi sempurna di tangan Muawiyah. Ia memerangi Ali dan terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan banyak kaum muslimin yang tewas. Tidak itu saja, dengan fitnah itu, mereka memanfaatkannya untuk menyesatkan perhatian kaum muslimin kepada agama yang benar melalui budaya yang digerakkan oleh sebuah masyarakat dengan tujuan melanjutkan kekuasaan kerajaan. Luasnya wilayah pemerintahan Islam sangat membantu mereka dan betapa banyaknya jumlah kelompok dalam masyarakat Islam yang tidak memahami akidah Islam secara benar dan sadar.

7.  Salah satu hasil dari kudeta yang dilakukan terhadap Utsman bin Affan adalah munculnya kelompok-kelompok bersenjata di sekitar kota-kota Islam yang kemudian mengepung Madinah. Mereka menunggu nasib dan arah perjalanan pemerintahan Islam. Kejadian-kejadian yang ada memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan aksi-aksi militer demi mengubah pemerintahan. Semua ini menjadi basis kekuatan yang berpotensi untuk menekan pemerintah yang baru.

Nabi Dan Rosul Ulul Azmi

Para Rasul yang memiliki julukan Ulul Azmi itu adalah:
  1. Nuh AS.
  2. Ibrahim AS.
  3. Musa AS.
  4. Isa AS.
  5. Muhammad SAW.
Kriteria Ulul Azmi

Ada beberapa kriteria yang menjadi acuan untuk mendapatkan gelar ini, antara lain adalah:
  1. Memiliki kesabaran yang tinggi ketika berdakwah
  2. Senantiasa memohon kepada Allah agar tidak menurunkan azab kepada kaumnya
  3. Senantiasa berdoa agar Allah memberi hidayah kepada kaum mereka
Kisah Ulul Azmi

Nuh adalah rasul pertama yang diutus Allah untuk meluruskan akidah dan akhlak umat yang telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar. Kualifikasi Nuh sebagai ulul azmi di antaranya karena kesabarannya dalam berdakwah dan mendapat hinaan dari kaumnya. Nuh tanpa menyerah terus menerus mendakwahi keluarga, kerabat dan masyarakat umum, untuk kembali kejalan yang lurus. Hampir 1000 tahun usianya jumlah umat yang mengikutinya tidak lebih dari 200 orang. Bahkan istri dan anaknya yang bernama Kan’an termasuk penentangnya. Atas kehendak Allah umat Nuh yang membangkang ditenggelamkan dengan gelombang air bah dan semuanya hancur, kecuali Nuh dan pengikutnya yang beriman.

2. Ibrahim As

Sejak masih  bayi Ibrahim harus diasingkan ke dalam gua, yang disebabkan oleh perintah Raja Namrudz untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir. Setelah dewasa, ia harus berhadapan dengan raja dan masyarakat penyembah berhala termasuk kedua orang tuanya yang pembuat berhala. Bahkan ia harus menerima siksaan yang pedih, yaitu dibakar hidup-hidup dan diusir dari kampung halamannya. Sudah hampir seratus tahun usia dan pernikahannya dengan Sarah, ia belum dikaruniai anak hingga istrinya meminta ia menikahi seorang budak berkulit hitam bernama Hajar untuk dijadikan istri.

Akhirnya Hajar dapat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim untuk “membuang” istri dan anak yang baru lahir dan sangat dicintainya itu ke tanah gersang di Makkah. Karena kesabaran dan kepatuhannya, perintah itu dilaksanakan. Namun, perintah lebih berat diterima Ibrahim, yaitu harus mengorbankan Ismail yang baru beranjak remaja. Hal ini pun ia laksanakan, meskipun akhirnya yang disembelih adalah seekor domba. selain itu ujian Ibrahim yang lain adalah membangun Ka’bah, membersihkan ka’bah dari kemusyrikan, menghadapi Raja Namrudz yang zalim.

Musa termasuk orang sabar dalam menghadapi dan mendakwahi Firaun. Selain itu, dia juga mampu untuk bersabar dalam memimpin kaumnya yang sangat pembangkang. Ketika Musa akan menerima wahyu di Bukit Sinai, pengikutnya yang dipimpin Samiri menyeleweng dengan menyembah berhala emas anak sapi. Harun yang ditugasi mengganti peran Musa, tidak sanggup untuk menghalangi niat mereka, bahkan ia diancam hendak dibunuh. Tetapi, Musa pernah tidak dapat bersabar ketika berguru kepada Khidir.
4. Isa As

Banyak hal yang menunjukkan bahwa Isa memiliki kesabaran dan keteguhan dalam menyampaikan ajaran Allah. Terutama, ketika Isa sabar menerima cobaan sebagai seorang yang miskin, pengkhianatan seorang muridnya, menghadapi fitnah, penolakan, hendak diusir dan dibunuh oleh kaum Bani Israil. Kehidupan Isa menggambarkan kezuhudan dan ketaatan dalam beribadah.
Isa menemui kaumnya dengan memakai pakaian dari wol. Ia keluar dalam keadaan tidak beralas kaki sambil menangis serta wajahnya tampak pucat karena kelaparan dan bibirnya tampak kering karena kehausan. Isa berkata, “Salam kepada kalian wahai Bani Israil. Aku adalah seseorang yang meletakkan dunia di tempatnya sesuai dengan izin Allah, tanpa bermaksud membanggakan diri. Apakah kalian mengetahui di mana rumahku?” Mereka menjawab: “Di mana rumahmu wahai Ruhullah?” Isa menjawab: “Rumahku adalah tempat ibadah, wewangianku adalah air, makananku adalah rasa lapar, pelitaku adalah bulan di waktu malam dan shalat ku di waktu musim dingin di saat matahari terletak di Timur, bungaku adalah tanaman-tanaman bumi, pakaianku terbuat dari wol, syiarku adalah takut kepada Tuhan Yang Maha Mulia, teman-temanku adalah orang-orang yang fakir, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang miskin. Aku memasuki waktu pagi dan aku tidak mendapati sesuatu pun di rumahku begitu juga aku memasuki waktu sore dan aku tidak menemukan sesuatu pun di rumahku. Aku adalah seseorang yang jiwanya bersih dan tidak tercemar. Maka siapakah yang lebih kaya daripada aku?”
5. Muhammad Rosulullah SAW

Sejak kecil sampai dewasa, Muhammad selalu mengalami masa-masa sulit. Pada usia 6 tahun dia sudah menjadi yatim piatu. Setelah dewasa ia harus membantu meringankan beban paman yang merawatnya sejak kecil. Tantangan terberat yang dihadapi adalah setelah diangkatnya menjadi seorang rasul. Penentangan bukan saja dari orang lain, tetapi juga dari Abu Lahab, pamannya sendiri. Muhammad juga harus ikut menderita takala Bani Hasyim diboikot (diasingkan) di sebuah lembah dikarenakan dakwahnya.
Tokoh-tokoh Quraisy mempelopori pemboikotan tersebut yang isinya antara lain melarang berhubungan jual beli, pernikahan, dan hubungan sosial lainya kepada Bani Hasyim. Pemboikotan yang berjalan sekitar 3 tahun itu dan telah menghabiskan hartanya dan istrinya, Khadijah.

Biografi Syaikh Yahya Bin Asy-Syaikh Utsman Al-Mudarris

Beliau adalah Abu Zakariya Yahya bin asy-Syaikh Utsman bin al-Husain 'Azhim Abadi al-Makky al-Mudarris (أبو زكريا يحيى بن الشيخ عثمان بن الحسين عظيم أبادي المكي المدرس).

'Azhim Abadi (عظيم أبادي) adalah sebuah kota besar di India dan sekarang dikenal dengan nama Batnah (ببتنة). Al-Mudarris adalah laqab (julukan) ayahnya, demikian juga laqab asy-Syaikh. Asy-Syaikh lahir di Makkah di rumah mereka di Mahlah Ajyat pada hari Jum'at 25/8/1354H.

Mencari Ilmu:

Asy-Syaikh -حفظه الله- adalah termasuk "rumah ilmu" dan memiliki sifat 'adalah ('adil) dan amanah. Beliau belajar langsung (talaqqy) ilmu dari tangan-tangan 'Ulama di Masjid al-Haram dan Ma'had Darul Hadits ketika masih belajar di sana maupun waktu sudah lulus dari ma'had.

Ulama terkemuka yang menjadi gurunya:

1- والده الشيخ العلامة المحدث.
2-
الشيخ العلامة العلم الجليل الموحد سليمان بن عبدالرحمن الحمدان.
3-
الشيخ العلامة المحدث أبو محمد عبدالحق الهاشمي.
4-
العلامة أبو السمح عبدالمهيمن محمد نور الفقيه المصري إمام وخطيب المسج الحرام.
5-
الشيخ العلامة المحقق المدقق صاحب – مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح- أبو الحسن عبيدالله الرحماني.
6- الشيخ العلامة محمد بن عبدالرزاق حمزة وهو غني عن التعريف.
7- الشيخ العلامة المدرس بدار الحديث والمسجد الحرام محمد عبدالله نور إلهي الهندي.
8- الشيخ العلامة المحدث المعمر محمد بن عبدالله الصومالي.
9- الشيخ محمد بن عمر الشايقي السوداني .

dan Ulama lain selain mereka.

Pekerjaan Syaikh:

Sebagai Pengajar di Ma'had Darul Hadits al-Khairyah dari 1377H (1957M) s/d 1390H (1970M). Kemudian Syaikh Abdullah bin Humaid memanggilnya untuk mengajar di Ma'had Haram al-Makki, maka iapun pindah ke ma'had dan bekerja sebagai tenaga pengajar di sana.

Syaikh Yahya pernah hampir dua bulan menggantikan Syaikh Abu Samhi untuk mengimami shalat Shubuh dan Ashar di Masjidi al-Haram.

Kitab-kitab yang diajarkan Syaikh Yahya:
Kitab-kitab Tauhid

Di antaranya Fathul Majid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (Cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) (Syarah Kitab Tauhid Karya Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab)
Kitab 'Aqidah Tadmuryah Karya Karya Syaikh Islam Ibn Taimyah
Kitab 'Aqidah Hamuwiyah Karya Karya Syaikh Islam Ibn Taimyah
Kitab 'Aqidah Al-Wasityah Karya Syaikh Islam Ibn Taimyah
Kitab-Kitab Hadits: Shahih al-Bukhary, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Kitab Musthalah Hadits
Nuzhatu an-Nadhar Ibnu Hajar al-Atsqalany, Manzhumah al-Baiquniyah
Kitab Tafsir – Tafsir Ibn Katsir
Kitab Fiqh - As-Salsabil fi Ma'rifati ad-Dalil Syaikh Shalih Barahim al-Balihy

Murid-muridnya:

1- الشيخ عبدالله التنبكتي والشيخ منصور الدعجاني والشيخ سيد أحمد والشيخ أحمد رقيبة وهؤلاء كلهم مدرسون بمعهد الحرم
.
2- والشيخ محمد بن عمر بازمول.
3- والشيخ عمر بن محمد السبيل إمام الحرم.
Sanjungan 'Ulama Kepada Beliau:

الشيخ عبدالوكيل الهاشمي: Orang tuaku telah berkata tentangnya: Dia pencari ilmu yang bersungguh-sungguh lagi shaleh dan banyak lagi sanjungan yang lain dari ayahku.  الشيخ عبيدالله الرحماني: Seorang yang 'Alim, bangsawan, utama, dimulyakan, dialah Syaikh Yahya Bin 'Utsman.  الشيخ صالح المقوشي : Ia adalah rujukannya para pengajar di Ma'had. Ia sangat ahli.

الشيخ يوسف الوابل : Syaikh adalah salah seorang 'ulama yang mendalam ilmunya, dan ia menerangkan keadaan Syaikh Yahya sebagai orang yang zuhud dan wara'.  الشيخ موسى سكر : Sesungguhnya beliau termasuk 'ulama salaf yang tersisa.

الشيخ محمد صادق لأنصاري
: Syaikh Yahya bagaikan bersegeranya Raja yang berjalan di bumi. الشيخ وصي الله عباس : Dia salah satu 'ulama Makkah yang utama, eorang salafy baik aqidahnya dan 'amalannya, bersemangat di dalam menyebarkan 'aqidah.

Kitab-kitabnya:

Syaikh Yahya tidak menyusun sebuah kitabpun, dikarenakan kesibukannya dalam mengajar, sebagaimana beliau sendiri katakan: "Aku suka untuk mengajar (حبب إليَّ التدريس)".

Semoga Allah memanjangkan dan memberkahi umur Syaikh Yahya, dan semoga Allah menempatkan amalannya di dunia di dalam timbangan yang baik di akhirat kelak.

Penyebab Tidak Dikabulkan Do'a

Setiap kita tentunya biasa berdoa kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar hajat dan keinginan kita Ia kabulkan. Ketika kita benar-benar butuh, tidak jarang kita berdoa sambil mengiba kepada Allah. Namun barangkali tidak jarang kita merasa doa kita tidak dikabulkan, atau setidak-tidaknya tidak segera dikabulkan.

Ketika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan, tidak jarang sejak saat itu ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda,

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). 

Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Muslim)
Kita semestinya menyadari bahwa ada banyak sebab mengapa sebuah doa tidak segera dikabulkan oleh Allah. Kita juga hendaknya paham bahwa hikmah besar pasti selalu ada di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut :

Pertama, bisa jadi penyebab tertundanya pengabulan doa kita adalah karena kita belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Misalnya, kita tidak menghadirkan hati, tidak khusuk dan tidak merendahkan diri saat berdoa, kita berdoa bukan pada waktu dimana doa akan mudah dikabulkan, atau kita belum memenuhi syarat-syarat doa penting lainnya.

Kedua, terkadang doa tidak terkabul dikarenakan sebab tertentu seperti karena dosa yang kita belum bertaubat dari-Nya, karena dosa di mana kita tidak bertaubat dengan jujur darinya, karena makanan kita mengandung syubhat, atau karena ada hak milik orang lain pada diri kita dan kita belum mengembalikannya. Karena itu, kita hendaknya bertaubat dengan taubatan nashuhah, dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya terlebih dahulu hak orang lain tersebut masih ada pada diri kita. Inilah sebab terpenting tidak dikabulkannya doa. Disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.” 

Juga disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwasanya Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, ‘Ya Allah, ya Allah.’ Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). 

Oleh karena itu, kita harus berusaha membersihkan diri dari segala kotoran dosa yang bisa menjadi menghalangi ‘jalan-jalan’ terkabulnya doa.

Ketiga, bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa kita karena Ia sengaja hendak menyimpan pahala doa kita tersebut untuk Ia berikan kepada kita di akhirat kelak atau karena Ia hendak menghilangkan keburukan dari kita. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Jika di atas bumi ada seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, maka Ia akan mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya, selagi ia tidak mengerjakan dosa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata, “Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim). 

Dalam riwayat Al-Hakim ada tambahan: “Atau Allah akan menyimpan pahala seperti doanya itu untuknya.” (HR Al-Hakim). 

Bisa jadi, ini lebih baik bagi kita, sebab dengan disimpannya pahala doa kita di akhirat dan baru diberikan kepada kita saat itu, maka hal itu akan mengangkat derajat dan martabat kita di akhirat. Saat itu, kita akan berbahagia dan bahkan berharap sekiranya seluruh pahala doa kita disimpan dan baru dibagikan di akhirat.

Keempat, penundaan terkabulnya doa merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah kepada seseorang. Allah ingin menguji iman orang itu. Ketika doa tidak segera dikabulkan, syetan membisikkan pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang kita minta itu ada pada Allah. Tetapi mengapa doa kita tidak segera dikabulkan?” Begitu pula, syetan akan menyusupkan bisikan-bisikan jahat lainnya. Setiap muslim harus melawan bisikan-bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus sadar bahwa bisa jadi Allah tidak segera mengabulkan doanya karena Allah hendak menguji imannya. Ketika doa tidak segera dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihatlah perbedaan antara orang beriman sejati dengan orang beriman gadungan. Sikap seorang mukmin tidak akan berubah terhadap Tuhannya hanya karena doanya tidak segera dikabulkan dan malah ia semakin rajin beribadah kepada-Nya.

Kelima, tidak segera dikabulkannya doa semestinya membuat seorang muslim tahu dan menyadari sebuah hakikat penting. Yaitu bahwa ia adalah hamba Allah, sementara Allah adalah pemilik segala-galanya. Pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya, baik memberi ataupun tidak memberi. Jika Allah mau memberi, maka itu salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Sedangkan jika Ia tidak memberi, itupun salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia juga pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Ada baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah Perdamaian Hudaibiyah yang sepintas lalu merugikan Rasulullah dan kaum muslimin. Ketika itu beliau bersabda,

”Aku Rasulullah dan Allah tidak akan pernah akan menelantarkan aku.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Keenam, terkadang doa yang tidak segera dikabulkan justru akan membuat kita semakin dekat kepada Allah, terus bersimpuh di hadapan-Nya, selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya. Sebaliknya, tidak jarang jika permintaan kita dikabulkan, maka kita menjadi lebih sibuk, lalu kita tidak lagi ingat kepada Allah, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya adalah inti ibadah. Inilah realitas sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan maka kita tidak berlindung kepada Allah.

Ketujuh, bisa jadi terkabulnya doa kita justru akan menjadikan kita berbuat dosa, akan berdampak buruk pada agama kita, atau akan menjadi fitnah bagi kita. Atau bisa juga apa yang kita minta itu sepintas lalu baik bagi kita padahal sebenarnya tidak baik bagi kita. Yang demikian ini terutama bagi seseorang yang mengajukan permintaan tertentu yang sangat spesifik kepada Allah dan tidak berdoa dengan doa-doa yang telah dituntunkan dalam Al-Qur’an atau yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena itu hendaknya kita memperhatikan doa-doa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. 

Kedelapan, setiap doa punya ketentuan dan takaran. Adalah tidak masuk akal, hari ini seseorang yang amat miskin dan tidak melakukan usaha yang signifikan berdoa agar ia menjadi milyarder kaya raya pada esok paginya. Doa memiliki takaran, syarat, sebab, prolog, kerja keras, dan bahkan pengorbanan yang besar. 

Kita harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kehilangan anak kesayangannya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Tapi pengabulan doa beliau tertunda hingga waktu yang lama, hingga ada yang mengatakan, “Nabi Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.” Penderitaan dan cobaan yang dialami Nabi Ya’qub ‘alaihissalam semakin meningkat. Anaknya yang lain, Bunyamin, juga hilang, sampai-sampai kedua matanya buta karena kesedihan yang mendalam. Kendati demikian, beliau tetap optimis bahwa semua penderitaan tersebut suatu saat akan berakhir. Ketika itulah, beliau berkata,

“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83).

Demikian pula, Nabi Musa ‘alaihissalam pernah berdoa kepada Allah 

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan pada kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kuncilah mati hati mereka, karena mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus: 88). 

Namun konon Allah baru mengabulkan doa beliau tersebut, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah 

“Sesungguhnya permohonan kalian berdua dikabulkan” (Yunus: 89), 

setelah empat puluh tahun lamanya! Padahal yang berdoa adalah Nabi Musa ‘alaihissalam, salah seorang dari rasul-rasul Ulul ‘Azmi, sedangkan yang mengamininya adalah Nabi Harun ‘alaihissalam, seorang nabi yang mulia. Keduanya telah memenuhi semua syarat dan etika berdoa. Sementara pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan konco-konconya, yang sudah jelas manusia paling dzalim, fasik, dan kafir saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa tidak segera dikabulkan Allah, sebab doa tersebut adalah doa yang tidak sembarang doa. Diperlukan kerja keras dan pengorbanan untuk mewujudkannya. Itulah yang dimaksud dengan takaran doa. Dan ini harus benar-benar kita pahami.

Itulah beberapa hal yang menjadi penyebab sebuah doa tidak terkabul, berikut hikmah yang ada dibaliknya. Dengan mengetahui penyebab-peyebab dan hikmah-hikmah tersebut, semoga kita menjadi orang-orang yang tidak pernah bosan berdoa, karena doa adalah inti ibadah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Mengenai Do'a

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: 

"Barangsiapa yang diberi sesuatu kebaikan -seperti pemberian dan lain-lain- oleh orang lain, lalu ia mengucapkan kepada orang yang melakukannya itu: "Jazakallahu khairan" -Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu-, maka benar-benar ia telah mempersangatkan pujiannya itu -maksudnya hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya". (Diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits Hasan Shahih).

Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: 

"Janganlah engkau semua berdoa untuk bahayanya diri sendiri, janganlah pula berdoa untuk bahayanya anak-anakmu semua dan jangan pula berdoa untuk bahayanya harta-hartamu semua -yakni mendoakan supaya diri sendiri, anak atau hartanya itu mendapat bahaya atau kecelakaan-, sebab tiada mencocoki doa-doa itu akan sesuatu saat yang di waktu itu Allah akan dimintai untuk mengabulkannya, maka Allah pasti mengabulkan doamu tersebut," -yakni apabila diucapkannya doa itu tepat pada waktu yang mustajab, maka dikhawatirkan bahwa doa-doa untuk memohonkan bahaya dan kecelakaan tadi akan benar-benar terlaksana. (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: 

"Sedekat-dekat seorang hamba itu dari Tuhannya ialah dalam keadaan ia bersujud, maka dari itu perbanyakkanlah berdoa -ketika bersujud itu-." (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: 

"Akan dikabulkanlah sesuatu doa bagi seorang diantara engkau semua, selama ia tidak tergesa-gesa, lalu ia mengucapkan: "Saya sungguh-sungguh telah berdoa kepada Tuhanku, Tuhan tidak suka mengabulkan permohonanku itu." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak henti-hentinya sesuatu doa bagi seorang hamba itu akan dikabulkan, selama ia tidak berdoa untuk terjadinya sesuatu dosa atau untuk pemisahan kekeluargaan dan selama ia tidak tergesa-gesa." Beliau s.a.w. ditanya: "Ya Rasulullah, bagaimanakah artinya tergesa-gesa itu?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu jikalau orang itu berkata: "Sungguh-sungguh saya telah berdoa dan benar-benar saya sudah memohonkan, tetapi saya tidak mengetahui -tidak meyakinkan- bahwa Tuhan akan mengabulkannya," selanjutnya orang itu lalu merasa menyesal di saat itu dan akhirnya meninggalkan berdoa."

Dari Abu Umamah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. ditanya: "Manakah doa yang lebih pasti untuk didengar itu -lalu dikabulkan-?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu di tengah malam yang terakhir dan sehabis shalat-shalat yang diwajibkan." (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan).

Dari 'Ubadah bin as-Shamit r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda: 

"Tiada di atas bumi ini seorang Muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan sesuatu permohonan, melainkan Allah pasti akan memberikan itu padanya, ataupun akan memalingkan dari dirinya dari keburukan yang seumpama dengan itu, selama ia tidak berdoa untuk terlaksananya sesuatu dosa atau untuk pemisahan kekeluargaan." Kemudian ada seorang lelaki dari golongan kaum berkata: "Jikalau demikian, kita akan memperbanyakkan permohonan -yang baik-baik- itu, bagaimanakah?" Beliau s.a.w. menjawab: "Allah adalah Maha Lebih Banyak karunianya -untuk mengabulkan permohonan yang banyak tadi-." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Hakim dari riwayat Abu Sa'id dan di situ ditambahkan sabda Nabi s.a.w.: "Atau orang yang berdoa itu menabung pahala seumpama dengan doanya itu untuk dirinya sendiri."

Dari Ibu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu ketika ditimpa oleh kesempitan -yakni di waktu hati kesal dan ingin marah-, Beliau s.a.w. mengucapkan: "La ilaha illallahu 'azhimul halim; La ilaha illallahu rabbul 'arsyil 'azhim; La ilaha illallahu rabbus samawati wa rabbul ardhi wa rabbul 'arsyil karim." Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Agung lagi Penyantun. Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Menguasai 'arasy yang agung. Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Menguasai langit-langit dan Menguasai Bumi dan Menguasai 'arasy yang mulia. (Muttafaq 'alaih)

Misteri Ka'bahtullah

06 Juli 2012

Telah banyak bukti keagungan dan kekuasaan ALLAH Subhana wa Ta’ala yang menyebar di luar angkasa. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Makkah adalah pusat planet bumi. Fakta tersebut juga didukung dan diteliti dalam sebuah penelitian ilmiah, Tatkala Neil Amstrong untuk waktu pertama kalinya yang melakukan perjalan ke luar angkasa dan mengambil gambar dari planet Bumi. Dia berkata “bahwa planet bumi tampak menggantung di suatu area yang sangat gelap, pertanyaannya..lalu siapakah yang menggantung planet bumi tersebut..??

Setelah itu para astronot berikutnya yang kembali melakukan perjalan ke luar angkasa, kembali menganalisa keadaan planet bumi tersebut. Merekapun berpendapat bahwa planet bumi mengeluarkan seperti radiasi yang berpusat dari kota Makkah, lebih tepatnya berasal dari Ka’bah. Dengan secara resmi merekapun mengumumkan berita penemuan itu melalui media internet dalam website maupun situs – situs yang mengupas tentang teknologi, akan tetapi sangat disayangkan setelah 21 hari kemudian website maupun situs tersebut raib dan hilang dari peredaran, sepertinya ada unsure kesengajaan dan alas an yang tersembunyi dibalik penghapusan website terssebut.Yang juga cukup membuat geger para peneliti adalah bahwa radiasi yang berpusat dari Ka’bah tersebut, radiasi yang tampak tersebut bersifat tidak berujung (Infinite), dan hal ini lebih meyakinkan para peneliti tentang radiasi tersebut ketika mereka mengambil fhoto planet mars dan radiasi tersebut tampak masih berlanjut terus menerus. Seolah dalam hal ini, para peneliti Muslim meyakini bahwa radiasi tersebut memiliki suatu karakteristik yang menghubungkan antara ka’bah diplanet bumi dengan ka’bah dari negeri akhirat.

Kemudian para peneliti tersebut melanjutkan lagi penelitian mereka, bahwa ditengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, terdapat suatu area yang di beri nama “Zero Magnetism Area”, yang berarti apabila kita menggunakan kompas pada area tersebut maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak atau berfungsi sama sekali oleh karena daya tarik antara kedua kutub tersebut (utara dan selatan) sama besar kekuatannya.

Hal ini menjadi penyebab bahwa orang-orang yang tinggal di Makkah, dipercaya bahwa mereka cenderung lebih sehat dibanding orang-orang dari Negara yang lain karena kehidupan mereka tidak banyak  dipengaruhi oleh kekuatan gravitasi. Dan kerena itulah apabila kita mengelilingi Ka’bah, seolah-olah kita seperti discharge ulang oleh suatu energy misterius entah darimana asalnya dan hal ini adalah merupakan fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah. Dalam penelitian yang lain mengungkapkan bahwa batu yang bernama Hajar Aswad, adalah merupakan batu yang tertua di dunia dan mengapung apabila diletakkan di atas air.

http://tausyah.wordpress.com/hajar-aswad

Hajar Aswad

Dalam sebuh Museum di Inggris , terdapat tiga potongan batu tersebut yang berasal dari Ka’bah serta pihak Museum tersebut juga mengatakan bahwa bongkahan-bongkahan batu tersebut bukan berasal dari system tata surya kita.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“Hajar Aswad itu diturunkan dari Surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu adamlah yang menjadikannya hitam”

Dengan demikian telah membuktikan bahwa tidak ada keraguan lagi atas apa-apa yang ALLAH Ta’ala turunkan dalam kitabnya yaitu Al Qur’an yang mengandung banyak pengetahuan sains dan modern, demikian pula dengan sunnah – sunnah Rasulullah yang menerangkan atas kalimat-kalimat wahyu dari ALLAH Subhana wa Ta’ala Rabb sekalian alam. Wallahu Ta’ala A’lam

Baitul Maqdis (Kota Purba Direbutkan Oleh Tiga Agama)

 

Bulan Rajab memang telah berganti dengan Sya’ban. Namun peristiwa Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa dikenang. Membuat kaum muslimin semakin merindukan bahkan mengimpi-impikan untuk dapat menziarahi salah satu tempat yang menjadi persinggahan Rasulullah, yaitu Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis, Yerusalem.

Ini merupakan wilayah terpanas di dunia, yang tak pernah reda oleh pertikaian berdarah. Saat ini, kota tua ini dikuasai oleh Yahudi. Menziarahinya sangat sulit. Jika bukan karena keimigrasian, ya karena faktor keamanan, yang membahayakan jiwa para peziarah. 

Untuk mengisi kerinduan itu, ada baiknya kita mengikuti kota purba yang konon sudah ada sejak zaman Sam, putra Nabi Nuh AS, yang kemudian menjadi rebutan tiga agama.

Dari akar sejarahnya, berdasarkan penemuan arkeologi, kota tersebut telah berperadaban kuno sejak 3.000 SM. Yang pertama kali bermigrasi ke kota ini adalah bangsa Semit, yaitu bangsa Kanaan, suku-suku pertama yang bermigrasi dari Semenanjung Arabia. Ini bisa dilihat dari penamaan kota-kota tersebut, misalnya Jericho, Beit-Syam, Mejeddo, dan Juzer. 

Di Jericho dan Majeddo terdapat peninggalan paling tua dari bangsa Kanaan berupa kuil-kuil kuno yang dibangun sekitar 3.000 SM. Kota Yerusalem sendiri merupakan bukti yang paling baik dari kekunoan permukim-permukim bangsa Arab-Semitik purba di Palestina. 

Kota itu didirikan oleh suku-suku Jebus, yaitu cabang dari bangsa Kanaan, sekitar 5.000 tahun yang lalu. Sebuah naskah kuno di Tell el Amarna yang ditulis 1400 SM menyebut kota itu dengan nama Urusalim. 

Jadi jelaslah bahwa kota tersebut telah ada jauh sebelum bangsa Israel memasuki Palestina. Yang pertama merencanakan dan mendirikan Yerusalem adalah seorang raja bangsa Jebus-Kanaan: Melchisedec, yang percaya akan ke-Esa-an Tuhan, walaupun rakyatnya kebanyakan musyrik.

Ibn Al-Firkah, sejarawan berdarah Arab, dalam bukunya Baith Alnufus ila’Ziyarat Al-Quds Al Mahrus menulis bahwa Sam bin Nuh sangat mungkin merupakan pendiri Kuil Yerusalem. Kuil Yerusalem ini dalam bahasa Arab disebut Baitul Maqdis, Rumah Suci. Beberapa nabi Allah meneruskan upaya Sam bin Nuh AS untuk memeliharanya. 

Pada tahun 2000-1500 SM, Nabi Ibrahim AS bersama istrinya, Sarah, bapak, dan saudara sepupunya, Luth AS, hijrah dari Baitul Maqdis.
Nabi Ibrahim AS dari Siti Hajar mempunyai anak

Nabi Ismail AS, dan dari Siti Sarah mempunyai anak Nabi Ishaq AS. Nabi Ishaq tetap tinggal di Palestina, hingga beliau memiliki keturunan bernama Nabi Ya’qub, yang mempunyai julukan “Israil”, yang artinya “Hamba Tuhan”. 

Nabi Ya’qub mempunya 12 putra, salah satunya Nabi Yusuf AS, yang ketika kecil dibuang oleh saudara-saudaranya, yang dengki kepadanya. Nasibnya yang baik membawanya ke tanah Mesir dan kemudian dia menjadi bendahara kerajaan Mesir. 

Ketika masa paceklik, Nabi Ya’qub beserta putra-putranya bermigrasi ke Mesir. Di Negeri Piramida ini keturunan Nabi Ya’qub pun berkembang, yang kemudian dinamakan Bani Israil.
Pada tahun 1550 SM, politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi Mesir. Banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun, bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.

Pada tahun 1200 SM, Nabi Musa AS memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di Gurun Sinai menuju tanah yang dijanjikan, asalkan mereka taat kepada Allah SWT – dikenal dengan cerita Nabi Musa AS membelah laut ketika bersama bangsa Israel dikejar-kejar oleh tentara Mesir menyeberangi Laut Merah. Namun saat diperintah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka membandel dan berkata,

“Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.” (QS 5: 24).

Akibatnya mereka dikutuk Allah SWT dan hanya berputar-putar di sekitar Palestina. Belakangan agama yang dibawa Nabi Musa AS disebut Yahudi, sesuai salah satu marga bangsa Israel yang paling banyak keturunannya, yakni Yehuda. Dan akhirnya bangsa Israil – tanpa memandang warga negara atau tanah airnya – disebut juga orang-orang Yahudi.

Pada tahun 1000 SM, keturunan Nabi Musa AS, yaitu Nabi Daud AS, mengalahkan Goliath (Jalut, Quran) dari Palestinan. Palestina pun direbut dan Daud dijadikan raja. Dua belas suku Israel disatukan di bawah pemerintahan Nabi Daud, menjadi bangsa yang kuat. Allah SWT meridhai Nabi Daud karena keimanannya.

Wilayah kerajaannya membentang dari tepi Sungai Nil hingga Sungai Eufrat di Irak. Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel seperti yang dipimpin Raja Daud, sebagai Israel Raya. Bendera Israel adalah dua garis biru (Sungai Nil dan Eufrat) dan Bintang Daud. 

Kepemimpinan Daud AS diteruskan oleh anaknya, Nabi Sulaiman AS, dan Masjidil Aqsha pun dibangun kembali.Kerajaan Israel mencapai zaman keemasannya di bawah kepemimpinan putranya, Nabi Sulaiman AS, yang memerintah sekitar 970-930 SM. 

Nabi Sulaiman inilah yang membangun kanisah atau sinagoga yang terkenal dengan sebutan Haykal Sulaiman I (atau Solomon Temple, Kuil Sulaiman). 

Ada hal yang menarik dalam kisah Nabi Sulaiman ini. Suatu ketika, Nabi Sulaiman memasuki mihrabnya untuk i'tikaf, beribadah menyembah Allah. Mihrab yang terletak di puncak Gunung Moria itu sedang dalam proses didirikan oleh bala tentarannya dari bangsa jin. Bangunannya sangat megah nan indah, dindingnya terbuat dari permata dan emas, yang didatangkan dari Thirsis, dan batu mulia, dari Yaman.

Duduk khusyu’, sambil memegang tongkat kesayangannya, Nabi Sulaiman tenggelam dalam tafakur memuji kebesaran-Nya. Ia berdzikir kepada Allah SWT hingga rasa kantuk menguasainya. 

Tak lama setelah itu malaikat maut menemuinya. Nabi Sulaiman pun dijemput menghadap-Nya. Sementara di luar sana jin, yang sedang asyik bekerja, terus menyelesaikan tugasnya. Hari berganti hari, tak ada yang mengetahui kepergian Nabi Sulaiman, hingga datang binatang rayap yang sedang lapar mencari makanan. Hewan kecil itu mulai memakan tongkat Nabi Sulaiman. Perlahan tapi pasti, tongkat itu pun menjadi rusak, dan akhirnya jatuh dari tangan Nabi Sulaiman. 

Tubuh mulia nan gagah itu kehilangan keseimbangan dan terhempas ke bumi. Tatkala tubuh suci itu tersungkur, datanglah anak buah dan bala tentarannya, mulai dari golongan manusia, binatang, hingga jin. Mereka baru menyadari bahwa Nabi Sulaiman telah menghadap Sang Pencipta sekian lama, tapi jasadnya tetap utuh. 

Ya, Nabi Sulaiaman, pewaris kerajaan Nabi Daud AS, pemilik kerajaan dan kekuasaan yang tak seorang pun menyerupainnya, berkat izin dan kuasa-Nya, seperti doa yang dia panjatkan, “Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun sesudahku” (QS Shad: 35), tetap khusyu’ beribadah di tengah nikmat yang berlimpah, hingga ajal menjemput. 

Tentu keindahan dan kebesaran yang dimilikinya tidak dimaksudkan memalingkan manusia dari menyembah Allah SWT. Dan kebesaran bangunan itu merupakan simbol kekuatan negara dan sekaligus kekuatan aqidahnya. 

Sayang, mihrab, Baitullah, atau yang lebih dikenal dengan Haikal Sulaiman, yang megah, hancur lebur oleh tentara Babilonia, di bawah Raja Nebukadnezar, saat merebut paksa Yerusalem pada tahun 586 M.


Skenario Allah

Para mufassir menafsirkan bahwa penghancuran Haikal Sulaiman adalah bagian dari skenario Allah sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran surah Al-Isra ayat 4 sampai 6, lantaran sepeninggal Nabi Sulaiman bangsa Yahudi banyak yang berpaling dari ajaran Allah. Keindahan dan kebesaran kerajaan serta Haikal Sulaiman membutakan mata hati Bani Israel dan akhirnya berpaling dari-Nya. Mereka hanya mengagumi kulit, tapi meninggalkan hakikat.

Seiring berjalannya waktu, tentara Persia menguasai Babilonia. Raja Persia memperbolehkan bangsa Israel, Yahudi, kembali ke Yerusalem pada tahun 614 SM hingga 629 SM. Dan Haikal Sulaiman dibangun kembali oleh Koresy yang Agung di lokasi bekas reruntuhannya. 

Setelah kematian Koresy yang Agung, kota ini jatuh ke tangan Roma pada tahun 70 M Semasa pemerintahan Roma, masyarakat Yahudi di Yerusalem memberontak. Namun tentara Roma mematahkan pemberontakan tersebut dan memusnahkan Haikal Sulaiman II. Bahkan Kaisar Bizantium Romawi, Constantine, menjadikan Yerusalem sebagai pusat keagamaan Kristen, dengan membangun Church of the Holy Sepulcher pada tahun 335 M. 

Mengingat lokasi suci Haikal Sulaiman, yang juga diyakini sebagai tempat i’tikaf Siti Maryam, ibunda Nabi Isa As, yang selalu mendapat hidangan (al-maidah) dari langit setiap hari. Juga sebuah mihrab Nabi Zakariya AS, tempat yang selalu digunakan untuk beribadah kepada Allah, juga bermunajat dan meminta diberi keturunan yang shalih, meski usianya tak lagi muda.

Dari bangunan Haikal Sulaiman II, yang tersisa hanyalah sebagian dinding pembatas luar, yang dikenal sebagai Tembok Barat, sekitar 60 m. Kini dinding itu dikenal dengan sebutan ”Tembok Ratapan”, lantaran di tempat itulah bangsa Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa, mereka juga menuliskan doa dan harapan pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding yang dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah untuk memisahkan laki-laki dan perempuan.


Tujuan Mi’raj 


 
Kawasan Haikal Sulaiman II, yang kini lebih dikenal sebagai Kompleks Al-Haram Asy-Syarif, Tanah Haram yang Mulia, disebut pula Al-Quds (yang tersucikan) atau Baitul Maqdis, yang berada di kota lama Yesrusalem, Yerusalem Timur, memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
Begitu sucinya Baitul Maqdis, Allah juga menjadikan tempat itu sebagai tujuan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebagimana dikisahkan dalam Al-Quran, surat Al-Isra ayat 1, “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masdil Aqsha....”

Rasulullah berangkat dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha yang berada di kawasan Kompleks Baitul Maqdis pada tahun 621 M. Di kompleks itu pula terdapat sebuah batu karang yang dijadikan pijakan Rasulullah sesaat sebelum Mi’raj ke Sidrathul Muntaha. Batu dengan sepuluh anak tangga yang sangat elok rupanya itu dengan izin Allah dapat bergerak naik dan turun, dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya.

Rentetan sejarah bernilai spiritual tersebut menjadikan tempat itu diperebutkan oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, tahun 638 M, umat Islam berhasil menaklukkan Yerusalem tanpa peperangan. Sayyidina Umar sempat membersihkan dan melakukan shalat di Masjidil Aqsha, saat mengunjungi Yerusalem. 

Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Dinasti Umayyah, sekitar tahun 66 H hingga tahun 73 H, Masjdil Aqsha, yang hanya berupa mihrab tempat beribadah, direnovasi. Dan cucunya, Al-Walid, memperluas bangunan Masjid Aqsha menjadi sangat megah, dengan arsitektur Islam klasik seperti sekarang.

Sementara pada batu karang yang berada di sebelah utara Masjidil Aqsha, masih di kawasan Al-Haram Asy-Syarif, dibangun sebuah kubah bernama Qubbatush Sakhra, lebih terkenal di dunia internasional dengan nama The Dome of the Rock. Qubbatush Sakhra sengaja dibangun untuk melindungi batu karang pijakan kaki Rasulullah sesaat sebelum Mi’raj itu. 

Selain mengabadikan sejarah bernilai spiritual, pembangunan kubah yang kini menjadi lebih indah itu juga menghindari perbuatan-perbuatan yang merusak aqidah, yang banyak dilakukan wisatawan ziarah. 

Kemudian pada masa Khalifah Abdul Malik, putra Marwan, tahun 685-705 M, Qubbatush Sakhra direnovasi. Dua bangunan tersebut, Masjdil Aqsha dan Qubbatush Sakhra, kini ibarat dua sejoli. Keduanya menjadi mata rantai lintasan sejarah Islam. Terutama dalam peristiwa Isra Mi’raj. Bahkan, Sakhra pernah menjadi patokan arah kiblat umat Islam selama 13 tahun, 17 bulan, sebelum kiblat dialihkan ke Ka’bah di Makkah, sesuai perintah Allah SWT. 

Belakangan bangsa Yahudi kerap mengekspos Qubatus Sakhara sebagai Masjidil Aqsha. Sebagian besar umat Islam menilai, itu semua untuk mengelabui umat Islam. Mengingat, hingga kini bangsa Yahudi masih menginginkan kawasan Al-Haram Asy-Syarif untuk kembali dibangun Haikal Sulaiaman.

Terlepas dari sejarah panjang kawasan suci yang disucikan itu, hinga kini, di tengah proses perdamaian di Palestina, banyak peziarah, baik muslim maupun non-muslim, datang ke Masjidil Aqsha dan Qubbatush Sakhra. Di samping untuk tujuan keagamaan, sekaligus juga untuk menikmati keindahan seni arsitektur Islam Abad Pertengahan yang menghiasi Masjidil Aqsha dan Qubbatush Sakhra, di tengah lingkunagn yang sangat sejuk dengan hamparan rerumputan hijau dan naungan teduh pohon zaitun.