3 Macam Mati Syahid

27 Mei 2012

Orang yang mati karena mempertahankan agama Islam, maka orang tersebut tergolong dalam mati syahid. Sungguh orang yang mati syahid akan ditempatlan di Surga oleh Allah SWT.

Orang yang mempertahankan agama islam tanpa menghiraukan ancaman apapun untuk merubah keyakinannya, maka orang tersbut tergolong orang yang ingin hidup dan mati di jalan Allah SWT.

Mati Syahid dikategorikan dalam berbagau sebutan sebagai berikut:

1. Syahid Dunia Akhirat.
Yaitu orang-orang islam yang telah gugur di medan pertempuran untuk membela agama Allah SWT.

2. Mati Syahid Akhirat.
Yaitu orang-orangislam yang mati akibat kecelakaan, sakit perut, melahirkan, tenggelam, tertimpa longsoran batu dan sebagainya.

3. Mati Syahid Dunia.
Yaitu seorang prjurit yang telah gugur di medan perang dengan niat untuk membela agama Allah SWT dan mengharap rampasan perang.

Dan diantara syahid yang paling utama adalah mati syahid dunia dan akhirat.
Begitu mulianya orang yang mati membela agama Allah SWT, hingga jasadnya mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Kondisi Manusia Menuju Padang Mahsyar

Umat islam dibagi menjasi 12 Baris :
 
Ada riwayat yang mengatakan 12 baris , dan ada juga riwayat lain yang mengatakan 120  baris.Ada yang mengatakan 120 baris adalah seluruh umat manusia , sedangkan umat islam hanya 3 baris . 
 
Ada al hadits : saat itu Mu’adz bin  Jabal  bertanya kepada rasulullah saw : 
 
“Terangkanlah kepada saya maksud dari firman Allah Ta’ala yang artinya “Pada hari sangkakala ditiup , maka  kalian semua datang dengan berbondong – bondong.” (QS.78 An Naba’ : 18)
 
Tiba – tiba beliau saw menangis , sampai pakaiannya basah karena air matanya.Kemudian beliau bersabda : “Wahai Mu’adz , engkau bertanya kepada saya mengenai masalah yang sangat besar , (ketahuilah ) umatku akan digiring menjadi 12 baris . 
 
BARISAN PERTAMA 
Mereka digiring dari kuburannya dalam kondisi tidak bertangan dan berkaki . Kemudian Allah Ta’ala menyerukan : Mereka adalah orang – orang yang ahli menyakiti tetangganya , maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka ke neraka.
 
BARISAN KEDUA
Mereka digiring dari kuburannya berbentuk babi.Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang meremehkan shalatnya , maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka ke neraka.
 
BARISAN KETIGA
Mereka digiring dari kuburannya dalam keadaan perutnya ibarat gunung yang penuh dengan ular , kalajengking dan berbentuk keledai . Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang enggan mengeluarkan zakat , maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka ke neraka.
 
BARISAN KEEMPAT
Mereka digiring dari kuburannya dalam keadaan mulut mereka mengeluarkan darah. Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :‘ Mereka adalah orang – orang yang berdusta dalam berdagang , maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka ke neraka.
 
BARISAN KELIMA
Mereka digiring dari kuburannya menjadi angin yang berhembus , dimana baunya lebih busuk daripada bangkai . Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang menyembunyikan perbuatan durhakanya , sebab takut diketahui oleh manusia dan tidak takut diketahui oleh Allah  , kemudian mereka mati . maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka di neraka.
 
BARISAN KEENAM
Mereka digiring dari kuburannya dengan keadaan tenggorokan dan tengkuk nya terputus. Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang suka berbuat saksi palsu , maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka di neraka.
 
BARISAN KETUJUH
Mereka digiring dari kuburannya dan keadaan mereka tidak memiliki lidah,serta dari mulutnya keluar kotoran nanah bercampur darah. Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala : Mereka adalah orang – orang yang enggan memberikan kesaksian , maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka di neraka.
 
BARISAN  KEDELAPAN
Mereka digiring dari kuburannya dengan kondisi terbalik , dimana kepalanya dibawah dan kakinya diatas. Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang berbuat zina dan mati sebelum bertobat , maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka di neraka.
 
BARISAN KESEMBILAN
Mereka digiring dari kuburannya dengan berwajah hitam , mata biru , dan perutnya penuh dengan api. Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang tidak dibenarkan.Sebagaimana ada firman Allah ta’ala : Sesungguhnya orang – orang yang meakan harta anak yatim dengan cara yang tidak dibenarkan , maka sesungguhnya mereka itu (sama dengan ) makan api , dan akan masuk neraka Sya’iir.
 
BARISAN KESEPULUH
Mereka digiring dari kuburannya dengan keadaan tubuh yang penuh penyakit kusta dan penyakit kudis. Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang durhaka kepada orang tuanya.’Sebagaimana ada Firman Allah Ta’ala : ‘Berbuat Baiklah Kepada Kedua Orang Tua’.
 
BARISAN KESEBELAS
Mereka digiring dari kuburannya dengan keadaan buta mata dan buta hatinya , dimana giginya sesperti tanduk sapi jantan dan bibirnya terbuka lebar sampai ke dada , lidahnya menjulur panjang sampaii keperut bahkan ada yang sampai ke paha mereka , dan perut mereka keluar kotoran. Maka ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang meminum minuman keras.
 
BARISAN KEDUABELAS
Mereka digiring dari kuburannya dengan wajah mereka yang seperti bulan purnama . Mereka melaui jembatan SYIROTH secepat kilat yang menyambar . Kemudian ada suara yang menyerukan dari sisi Allah ta’ala :  Mereka adalah orang – orang yang melakukan perbuatan shaleh dan perbuatan baik , menjauhi perbuatan durhaka , memelihara shalat lima waktu , dan mereka meninggalkan dunia dalam keadaan tobat.Maka balasannya adalah  surga dan ampunan.

313 Rosul Utusan Allah SWT

26 Mei 2012

Saudaraku mungkin kita sudah ma'lum bahwa ternyata julah RASUL ITU ADA 313 (dalam keterangan yang lain 314). walaupun yang wajib diketahui hanya 25 saja. Berikuit ini saya share nama nama Rasul yang 313 itu sebagian tambahan ilmu yang bermanfa'at atau barang kali kita bisa memakai salah satu nama para beliau tersebut untuk generasi kita ...

1 Adam
2 Tsits
3 Anuwsy
4 Qiynaaq
5 Mahyaa'iyl
6 Akhnuwkh
7 Idris
8 Mutawatsilakh
9 Nuh
10 Hud
11 Abhaf
12 Murdaaziyman
13 Tsari'
14 Sholeh
15 Arfakhtsyad
16 Shofwaan
17 Handholah
18 Luth
19 Ishoon
20 Ibrahim
21 Isma'il
22 Ishaq
23 Ya'qub
24 Yusuf
25 Tsama'il
26 Tsu'ayb
27 Musa
28 Luthoon
29 Ya'wa
30 Harun
31 Kaylun
32 Yusya'
33 Daaniyaal
34 Bunasy
35 Balyaa
36 Armiyaa
37 Yunus
38 Ilyas
39 Sulaiman
40 Daud
41 Ilyasa'
42 Ayub
43 A'us
44 Dzanin
45 Alhami'
46 Tsabits
47 Ghobir
48 Hamilan
49 Dzulkifli
50 Uzair
51 Azkolan
52 Izan
53 Alwun
54 Zayin
55 Aazim
56 Harbad
57 Syadzun
58 Sa'ad
59 Gholib
60 Syamaas
61 Syam'un
62 Fiyaadh
63 Qidhon
64 Saarom
65 Ghinadh
66 Saanim
67 Ardhun
68 Babuzir
69 Kazkol
70 Baasil
71 Baasan
72 Lakhin
73 Ilshots
74 Rasugh
75 Rusy'in
76 Alamun
77 Lawqhun
78 Barsuwa
79 Al'azhim
80 Ratsaad
81 Syarib
82 Habil
83 Mublan
84 Imron
85 Harib
86 Jurits
87 Tsima'
88 Dhorikh
89 Sifaan
90 Qubayl
91 Dhofdho
92 Ishoon
93 Ishof
94 Shodif
95 Barwa'
96 Haashiim
97 Hiyaan
98 Aashim
99 Wijaan
100 Mishda'
101 Aaris
102 Syarhabil
103 Harbiil
104 Hazqiil
105 Asymu'il
106 Imshon
107 Kabiir
108 Saabath
109 Ibaad
110 Basylakh
111 Rihaan
112 Imdan
113 Mirqoon
114 Hanaan
115 Lawhaan
116 Walum
117 Ba'yul
118 Bishosh
119 Hibaan
120 Afliq
121 Qoozim
122 Ludhoyr
123 Wariisa
124 Midh'as
125 Hudzamah
126 Syarwahil
127 Ma'na'il
128 Mudrik
129 Hariim
130 Baarigh
131 Harmiil
132 Jaabadz
133 Dzarqon
134 Ushfun
135 Barjaaj
136 Naawi
137 Hazruyiin
138 Isybiil
139 Ithoof
140 Mahiil
141 Zanjiil
142 Tsamithon
143 Alqowm
144 Hawbalad
145 Solih
146 Saanukh
147 Raamiil
148 Zaamiil
149 Qoosim
150 Baayil
151 Yaazil
152 Kablaan
153 Baatir
154 Haajim
155 Jaawih
156 Jaamir
157 Haajin
158 Raasil
159 Waasim
160 Raadan
161 Saadim
162 Syu'tsan
163 Jaazaan
164 Shoohid
165 Shohban
166 Kalwan
167 Shoo'id
168 Ghifron
169 Ghooyir
170 Lahuun
171 Baldakh
172 Haydaan
173 Lawii
174 Habro'a
175 Naashii
176 Haafik
177 Khoofikh
178 Kaashikh
179 Laafats
180 Naayim
181 Haasyim
182 Hajaam
183 Miyzad
184 Isyamaan
185 Rahiilan
186 Lathif
187 Barthofun
188 A'ban
189 Awroidh
190 Muhmuthshir
191 Aaniin
192 Namakh
193 Hunudwal
194 Mibshol
195 Mudh'ataam
196 Thomil
197 Thoobikh
198 Muhmam
199 Hajrom
200 Adawan
201 Munbidz
202 Baarun
203 Raawan
204 Mu'biin
205 Muzaahiim
206 Yaniidz
207 Lamii
208 Firdaan
209 Jaabir
210 Saalum
211 Asyh
212 Harooban
213 Jaabuk
214 Aabuj
215 Miynats
216 Qoonukh
217 Dirbaan
218 Shokhim
219 Haaridh
220 Haarodh
221 Harqiil
222 Nu'man
223 Azmiil
224 Murohhim
225 Midaas
226 Yanuuh
227 Yunus
228 SaaSaan
229 Furyum
230 Farbusy
231 Shohib
232 Ruknu
233 Aamir
234 Sahnaq
235 Zakhun
236 Hiinyam
237 Iyaab
238 Shibah
239 Arofun
240 Mikhlad
241 Marhum
242 Shonid
243 Gholib
244 Abdullah
245 Adruzin
246 Idasaan
247 Zahron
248 Bayi'
249 Nuzhoyr
250 Hawziban
251 Kaayiwuasyim
252 Fatwan
253 Aabun
254 Rabakh
255 Shoobih
256 Musalun
257 Hijaan
258 Rawbal
259 Rabuun
260 Mu'iilan
261 Saabi'an
262 Arjiil
263 Bayaghiin
264 Mutadhih
265 Rahiin
266 Mihros
267 Saahin
268 Hirfaan
269 Mahmuun
270 Hawdhoon
271 Alba'uts
272 Wa'id
273 Rahbul
274 Biyghon
275 Batiihun
276 Hathobaan
277 Aamil
278 Zahirom
279 Iysaa
280 Shobiyh
281 Yathbu'
282 Jaarih
283 Shohiyb
284 Shihats
285 Kalamaan
286 Bawumii
287 Syumyawun
288 Arodhun
289 Hawkhor
290 Yaliyq
291 Bari'
292 Aa'iil
293 Kan'aan
294 Hifdun
295 Hismaan
296 Yasma'
297 Arifur
298 Aromin
299 Fadh'an
300 Fadhhan
301 Shoqhoon
302 Syam'un
303 Rishosh
304 Aqlibuun
305 Saakhim
306 Khoo'iil
307 Ikhyaal
308 Hiyaaj
309 Zakariya
310 Yahya
311 Jurhas
312 Isa Ibnu Maryam
313 Muhammad SAW

Kisah Nabi Uzair Bin Imron

Al Qur’an Surat ke 2 Al Baqoroh ayat 259 : 

"Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Alloh menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Alloh mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari". Alloh berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Alloh menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: "Saya yakin bahwa Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS 2 Al Baqoroh 259).

Hadis Nabi SAW
Hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdulloh bin Abdurrohman bin Abu Bakar AsShidiq, di Kitab Nuril Akwan yang ditulis oleh Abi Hasan Al Bishri, Rasulullah SAW bersabda :

Man syahida anna ‘Uzair ‘abdullohir Rokhman, fatahalloohu abwaabal jannah wa ba’ada ‘anhu makayidas syaitooni wa hasyarohu ma’a ‘ibadir Rokhmaan (wa dzalikas syahadah ba’da syahadatillaah wa syahadati Rasuulih).

Artinya : Barang siapa bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Uzair itu adalah hamba Allooh yang maha pemurah, maka Alloh membukakan baginya pintu surga dan menjauhkannya dari rekayasa setan dan menyatukannya bersama hamba-hamba Alloh yang maha pemurah. (Syahadat ini dibaca setelah syahadat kepada Alloh dan RasulNya)

Hadis Nabi SAW yg diriwayatkan Ubadah bin Ash-Shamit r.a. berkata: Nabi saw. Bersabda: Siapa yang membaca  

asyadu anlaa ilahaillallah wahdahu laa syariika lahu wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, wa anna Isa ‘abdullahi wa rasuluhu (wabnu amatihi) wa kalimatuhu alqaaha ila Maryam waruhun minhu, wal jannatu haq wannaru haq.
 
Artinya : Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah yang Esa dan tidak bersekutu, dan bahwa nabi Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya, dan bahwa Isa juga hamba Allah dan utusan-Nya (putra dari hamba-Nya), dan kalimat Allah yang telah diturunkan kepada Maryam, juga Isa sebagai ruh yang diciptakan allah, dan surga itu haq(benar) juga neraka haq(benar), pasti Allah akan memasukkannya kedalam surga meskipun bagaimana amalnya).(Yakni jika dibaca dengan penuh iman keyakinan).
 
Kisah Nabi Uzair AS.
Nabi Uzair AS adalah seorang hamba Alloh yang hidup pada jaman antara Nabi Shaleh AS dan Nabi Ibrahim AS, yaitu sekitar 5000 sampai dengan 4000 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa AS.

Nabi Uzair AS adalah seorang Nabi dan Rasul utusan Alloh SWT,  satu diantara 313  Rasul utusan Alloh.Dari segi bahasa, kata UZAIR berasal dari kata AZARO, yang artinya "mengkoreksi", yaitu mengkoreksi kebenaran dengan kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan menjadi suatu kebenaran yang semestinya.

Suatu saat Nabi Uzair AS berjalan-jalan dengan keledainya, sehingga sampai ke suatu wilayah yang sunyi dan yang telah hancur, yang sangat gersang dan tidak ada satupun tanamannnya yang hidup.  Wilayah itu kira-kira berada di daerah Mesir yang berbatasan dengan negeri Palestina.
Beliau kemudian, turun dari keledainya dan bersujud kepada Alloh SWT, dengan berkata "Bagaimana Alloh menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?.

Mendengar perkataan beliau itu, kemudian Alloh SWT menidurkan atau mematikan beliau dan memanggilnya untuk pindah ke alam batiniyyah selama 100 tahun. Dalam tidur/matinya itu, beliau berkumpul dengan para nabi terdahulu dan melalui para nabi itu Alloh  mengajarkan berbagai ilmu kepada beliau, terutama ilmu pengelolaan negara.

Setelah 100 tahun tertidur itu, Alloh SWT membangunkan atau menghidupkan kembali beliau dengan jasadnya sebagaimana semula saat mulai tertidur. Kemudian Alloh bertanya kepada beliau:

 "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Beliau menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari". Alloh berfirman:"Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Alloh menghidupkanyang telah mati) beliau pun berkata: "Saya yakin bahwa Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS 2 Al Baqoroh 259).

Setelah bangun/hidup kembalinya Nabi Uzair AS dari tidur/kematiannya itu, beliau mengelola wilayah itu, dari kegersangan, kesunyian tanpa kehidupan sampai menjadi suatu wilayah dengan masyarakat yang beriman kepada Alloh SWT yang sejahtera. Beliau mengelola wilayah itu selama 75 tahun. Tersebarlah keadaan beliau dan wilayah itu ke semua penjuru bumi hingga ke kerajaan Namrud (jaman sebelum kelahiran Nabi Ibrahim AS).

Kemudian tentara kerajaan Namrud itu menyerang wilayah itu, sehingga akhirnya beliau dipindahkan dan diangkat oleh Alloh SWT ke alam batiniyyah, sebagaimanayang terjadi pada Nabi Isa AS.

Setelah kehilangan Nabi Uzair AS, rakyat di wilayah itu menjadi kebingungan karena tidak ada pengelola wilayah yang mampu meneruskan tata kelola wilayah nya sebaik Nabi Uzair AS. Maka datanglah sesosok setan yang berjasad manusia dan berkata kepada penduduk daerah itu, "Jika kamu sekalian menginginkan keadaan sejahtera lagi, maka buatlah patung Uzair, dan sembahlah dan mintalah kepada patung itu, karena Uzair adalah anak Alloh (audzubillahi min dzalik), kata si setan laknatullohalaih itu.

"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruhkamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami"."(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS 2 AlBaqoroh 169-170).

Maka patung itu diwujudkan oleh Raja Namrud dan dijadikan sesembahan. Demikianlah jadinya Raja Namrud menyembah patung Uzair.

Dan terjadilah kekosongan keimanan kepada Alloh SWT di negerimitu dan mereka mendewakan patung Uzair sehingga Alloh SWT mengutus Nabi Ibrahim AS bin Tarih bin Azir untuk memperingatkan Raja Namrud dan penduduk kerajaannya.

"Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka" (QS 4 An Nisa 117).

"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".  (QS 4 4 Al An’aam 74).

Kemusyrikan Orang-Orang Kafir Yahudi
Kebiasaan menyembah patung Uzairi tu ditiru oleh orang-orang kafir musyrik Yahudi, sebagaimana firman Alloh SWT:
(QS 9 At Taubah 30-31)

"Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah".  Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?." (QS 9 At Taubah 30) 

"Mereka menjadikan rabbi-rabbi (orang-orang alimnya) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh, dan (juga mereka mempertuhankan Uzair putra Imron dan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan.(QS 9 At Taubah 31).

Mereka menirunya karena setan juga berkata atau berbisik kepada orang-orang kafir musyrik Yahudi sebagaimana setan berkata kepada orang-orang kafir yang terdahulu itu. Orang-orang kafir musyrik Yahudi, melalui rabbi-rabbinya membuat-buat kisah Nabi Uzair itu, seakan-akan Nabi Uzair itu adalah dari golongan Bani Israel, sebagaimana kisah-kisah israiliyat yang sering didengar oleh kalangan umat Islam.

Disinyalir patung-patung Uzair itu diwujudkan oleh orang-orang kafir musyrik Yahudi, sampai saat ini,  untuk dijadikan sesembahan dalam rangka memperoleh kekuasaan dan kekayaan duniawi dengan membolehkan segala cara.  Melalui kemusyrikan itulah setan dengan mudah membantu orang-orang kafir musyrik Yahudi dalam menguasai dunia sampai saat ini.
Oleh karena itu setan akan sangat marah apabila kaum muslim yang beriman, mengatakan bantahan kemusyrikan orang-orang kafir musyrik Yahudi dengan kalimat bantahan :

Nabi Uzair adalah hamba Alloh dan hayatNya (Uzair 'abdulloh wa hayatuh),

karena setan sulit merekayasa atau mengganggu mereka yang mengucapkan kalimat itu dengan keyakinan..

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdulloh bin Abdurrohman bin Abu Bakar AsShidiq, di Kitab Nuril Akwan yang ditulis oleh Abi Hasan Al Bishri, Rasulullah SAW bersabda :

Man syahida anna 'Uzair 'abdullohir Rokhman, fatahalloohu abwaabal jannah wa ba'ada 'anhu makayidas syaitooni wa hasyarohuma'a 'ibadir Rokhmaan (wa dzalikas syahadah ba'da syahadatillaah wa syahadatiRasuulih).

Artinya : Barang siapa bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Uzair itu adalah hamba Alloh yang maha pemurah, maka Alloh membukakan baginya pintu surga dan menjauhkannya dari rekayasa setan dan menyatukannya bersama hamba-hamba Alloh yang maha pemurah. (Syahadat ini dibaca setelah syahadat kepada Alloh dan RasulNya)

Kesimpulan :

Berdasarkan Al Qur’an Surat Al Baqoroh 259, At Taubah 30-31 dan Hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdulloh bin Abdurrohman, serta Hadis Nabi SAW yg diriwayatkan Ubadah bin Ash-Shamit r.a. berkata: Nabi saw. Bersabda: Siapa yang membaca asyadu anlaa ilahaillallah wahdahu laa syariika lahu wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, wa anna Isa ‘abdullahi wa rasuluhu (wabnu amatihi) wa kalimatuhu alqaaha ila Maryam waruhun minhu, wal jannatu haq wannaru haq. (Aku percaya bahwa tiada Tuhan Selain Allah yang Esa dan tidak bersekutu, dan bahwa nabi Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya, dan bahwa Isa juga hamba Allah dan utusan-Nya (putra dari hamba-Nya), dan kalimat Allah yang telah diturunkan kepada Maryam, juga Isa sebagai ruh yang diciptakan allah, dan surga itu haq(benar) juga neraka haq(benar), pasti Allah akan memasukkannya kedalam surga meskipun bagaimana amalnya).(Yakni jika dibaca dengan penuh iman keyakinan).

Maka seharusnya kaum yang beriman kepada Alloh Yang Maha Esa, selalu berdzikir dengan kalimat thoyyibah :

Asyhadu an laa ilaa ha ilallooh, wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadur Rasululloh, al khotimu anbiya wa laa nabiya ba’da, wa anna Uzair anna ‘Uzair ‘abdulloohir Rokhman, wa anna ‘Isa abdulloh wa rosuuluh, wa anna Ummu Maryam amatulloh, hiya laisat bishohibah.

Kalimah thoyyibah ini akan memperkuat keimanan dan menjadikan benteng terhadap segala fitnah, makar, gangguan atau rekayasa setan yang terkutuk, terutama sekali pada saat menghadapi sakaratul maut

Amr Ibnul Ash (Penakluk Laut Di Era Kejayaan Islam)

Ada tiga orang gembong Quraisy yang amat menyusahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan sengitnya perlawanan mereka terhadap da’wahnya dan siksaan mereka terhadap shahabatnya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdo’a dan memohon kepada Tuhannya agar menurunkan adzabnya pada mereka.
Tiba-tiba sementara ia berdo’a dan memohon itu, turunlah wahyu atas kalbunya berupa ayat yang mulia ini: 

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (Q.S. 3 Ali Imran: 12 )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memahami bahwa maksud ayat itu ialah menyuruhnya agar menghentikan do’a untuk menyiksa mereka serta menyerahkan urusan mereka kepada Allah semata. Kemungkinan, mereka tetap berada dalam keaniayaan hingga akan menerima adzab-Nya. Atau mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka hingga akan memperoleh rahmat karunia-Nya.

Amr bin Ash bin Wa’il bin Hisyam(583-664) (Arab:عمرو بن العاص) atau lebih dikenal dengan nama Amr bin Ash adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat, maka ditunjukiNya mereka jalan untuk menganut Islam, dan ‘Amr bin ‘Ash pun beralih rupa menjadi seorang Muslim pejuang, dan salah seorang panglima yang gagah berani.

Dan bagaimana pun juga sebagian dari pendiriannya yang arah pandangannya tak dapat kita terima, namun peranannya sebagai seorang shahabat yang mulia, yang telah memberi dan berbuat jasa, berjuang dan berusaha, akan selalu membuka mata dan hati kita terhadap dirinya.

Dan di sini di bumi Mesir sendiri, orang-orang yang memandang Islam itu adalah Agama yang lurus dan mulia, dan melihat pada diri Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam rahmat dan ni’mat serta karunia, serta penyampai kebenaran utama, yang menyeru kepada Allah berdasarkan pemikiran dan mengilhami kehidupan ini dengan sebagian besar dari kebenaran dan ketaqwaan… , orang-orang yang beriman itu akan memendam rasa cinta kasih kepada laki-laki, yang oleh taqdir dijadikan alat-alat bagaimanapun untuk memberikan Islam ke haribaan Mesir, dan menyerahkan Mesir ke pangkuan Islam … ! Maka alangkah tinggi nilai hadiah itu, dan alangkah besar jasa Pemberinya … ! Sementara laki-laki yang menjadi taqdir dan dicintai oleh mereka itu, itulah dia ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu.

Para muarrikh atau ahli-ahli sejarah biasa menggelari ‘Amr radhiyallahu ‘anhu dengan “Penakluk Mesir”. Tetapi, menurut kita gelar ini tidaklah tepat dan bukan pada tempatnya. Mungkin gelar yang paling tepat untuk ‘Amr radhiyallahu ‘anhu ini dengan memanggilnya “Pembebas Mesir”. Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya tiada lain ialah membebaskannya dari cengkraman dua kerajaan besar yang menimpakan kepada negeri ini serta rakyatnya perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persi dan Romawi.

Mesir sendiri, ketika pasukan perintis tentara Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Romawi, sementara perjuangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa …. Maka tatkala dari tapal batas kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: “Allahu Akbar, Allahu Akbar …. “, mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengannya mereka menemukan kebebasan mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.

Jika demikian halnya, ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir! Mereka hanyalah merintis serta membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikat norma dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami… !

‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, amat berharap sekali akan dapat menghindarkan penduduk Mesir dan orang-orang Kopti dari peperangan agar pertempuran terbatas antaranya dengan tentara Romawi saja, yang telah menduduki negeri orang secara tidak sah, dan mencuri harta penduduk dengan sewenang-wenang.

Oleh sebab itulah kita dapati ia berbicara ketika itu kepada pemuka-pemuka golongan Nasrani dan uskup-uskup besar mereka, katanya: “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membawa kebenaran dan menitahkan kebenaran itu …. Dan sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah menunaikan tugas risalahnya kemudian berpulang setelah meninggalkan kami di jalan lurus terang benderang.

Di antara perintah-perintah yang disampaikannya kepada kami ialah memberikan kemudahan bagi manusia. Maka kami menyeru kalian kepada Islam ….Barang siapa yang memenuhi seruan kami, maka ia termasuk golongan kami, beroleh hak seperti hak-hak kami dan memikul kewajiban seperti kewajiban-kewajiban kami …. dan barang siapa yang tidak memenuhi seruan kami itu, kami tawarkan membayar pajak, dan kami berikan padanya keamanan serta perlindungan. Dan sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami telah memberitakan bahwa Mesir akan menjadi tanggung jawab kami untuk membebaskannya dari penjajah, dan diwasiatkannya kepada kami agar berlaku baik terhadap penduduknya, sabdanya: -

“Sepeninggalku nanti, Mesir, menjadi kewajiban kalian untuk membebaskannya, maka perlakukanlah penduduknya dengan baik, karena mereka masih mempunyai ikatan dan hubungan kekeluargaan dengan kita … !”‘) HR. Muslim (1)

Maka jika kalian memenuhi seruan kami ini, hubungan kita semakin kuat dan bertambah erat … !”
‘Amr radhiyallahu ‘anhu menyudahi ucapannya, dan sebagian uskup dan pendeta menyerukan: “Sesungguhnya hubungan silaturrahmi yang diwasiatkan Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah suatu pendekatan dengan pandangan jauh, yang tak mungkin disuruh hubungkan kecuali oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam… !”

Percakapan ini merupakan permulaan yang baik untuk tercapainya saling pengertian yang diharapkan antara ‘Amr radhiyallahu ‘anhu dan orang Kopti penduduk Mesir, walau panglima-panglima Romawi berusaha untuk menggagalkannya.

‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak lama sebelum dibebaskannya kota Mekah.

Anehnya keislamannya itu diawali dengan bimbingan Negus raja Habsyi. Sebabnya ialah karena Negus ini kenal dan menaruh rasa hormat terhadap ‘Amr radhiyallahu ‘anhu yang sering bolak-balik ke Habsyi dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah bagi raja …. Di waktu kunjungannya yang terakhir ke negeri itu, tersebutlah berita munculnya Rasul yang menyebarkan tauhid dan akhlaq mulia di tanah Arab.

(1) Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa orang-orang Kopti di Mesir merupakan paman-paman dari Ismail shallallahu ‘alaihi wasallam. …. Karena ibunda Ismail Siti Hajar seorang wanita warga Mesir, diambil oleh Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam. menjadi isterinya, sewaktu ia datang ke Mesir dan diberi hadiah oleh Fir’aun dan kemudian melahirkan Ismail ‘alaihissalam.

Maharaja Habsyi itu menanyakan kepada ‘Amr radhiyallahu ‘anhu kenapa ia tak hendak beriman dan mengikutinya, padahal orang itu benar-benar utusan Allah? “Benarkah begitu…?” tanya ‘Amr radhiyallahu ‘anhu kepada Negus. “Benar”, ujar Negus, “Turutlah petunjukku, hai ‘Amr dan ikutilah dia ! Sungguh dan demi Allah, ia adalah di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menentangnya… !”

Secepatnya ‘Amr radhiyallahu ‘anhu terjun mengarungi lautan kembali ke kampung halamannya, lalu mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk menyerahkan diri kepada Allah Robbul’alamin.

Dalam perjalanan ke Madinah itu ia bertemu dengan Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dan Utsman bin Thalhah, yang juga datang dari Mekah dengan maksud hendak bai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ketiga orang itu datang, wajahnya pun berseri-seri, lalu katanya pada shahabat-shahabatnya : “Mekah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita …. ” Mula-mula tampil Khalid radhiyallahu ‘anhu dan mengangkat bai’at. Kemudian majulah ‘Amr radhiyallahu ‘anhu dan katanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam … ! Aku akan bai’at kepada anda, asal saja Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu … !”

Maka jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Hai ‘Amr! Bai’atlah, karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya … !”
‘Amr radhiyallahu ‘anhu pun bai’at, dan diletakkannya kecerdikan dan keberaniannya dalam darmabaktinya kepada Agamanya yang baru.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpindah ke Rafiqul A’la, ‘Amr radhiyallahu ‘anhu sedang berada di Oman menjadi gubernurnya. Dan di masa pemerintah Umar radhiyallahu ‘anhu, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Syria, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.

Wahai, kenapa ‘Amr bin ‘Ash tidak menahan ambisi pribadinya untuk dapat berkuasa! Seandainya demikian, tentulah ia akan dapat mengatasi dengan mudah sebagian kesulitan yang dialaminya disebabkan ambisinya ini … !

Tetapi ambisinya ingin berkuasa ini, sampai suatu batas tertentu, hanyalah merupakan gambaran lahir dari tabiat bathinnya yang bergejolak dan dipenuhi bakat … !

Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan bercakapnya, memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa … ! Hingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu katanya: “Tidak pantas bagi Abu Abdillah untuk berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir … !”

Sungguh, sebenarnya ‘Amr atau Abu Abdillah tidak mengurangkan hak dirinya ini … ! Bahkan ketika bahaya-bahaya besar datang mengancam Kaum Muslimin, ‘Amr radhiyallahu ‘anhu menghadapi peristiwa-peristiwa itu dengan cara seorang amir … seorang amir yang cerdik dan licin serta berkemampuan, menyebabkannya percaya akan dirinya, serta yakin akan keunggulannya … !

Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanat, menyebabkan Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu -seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya – menetapkannya sebagai gubernur di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Amirul Mu’minin ini.

Bahkan ketika Amirul Mu’minin radhiyallahu ‘anhu mengetahui bahwa ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dalam kesenangan hidup telah melampaui batas yang telah digariskannya terhadap para pembesamya, dengan tujuan agar taraf hidup mereka setingkat atau hampir setingkat dengan taraf hidup umumnya rakyat biasa, maka khalifah tidaklah memecatnya, hanya mengirimkan Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu dan memerintahkannya agar membagi dua semua harta dan barang ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, lalu meninggalkan untuknya separohnya, sedang yang separuhnya iagi hendaklah dibawanya ke Madinah untuk Baitul mal.

Seandainya Amirul Mu’minin radhiyallahu ‘anhu mengetahui bahwa ambisi ‘Amr radhiyallahu ‘anhu terhadap kekuasaan sampai menyebabkannya agak lalai terhadap tanggung jawabnya, tentulah jiwanya yang waspada itu tidak akan membiarkannya memegang kekuasaan walau agak sekejap pun … !

‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang berfikiran tajam, cepat tanggap dan jauh pandang … hingga Amirul Mu’minin Umar radhiyallahu ‘anhu, setiap ia melihat seorang yang singkat akal, dipertepukkannya kedua telapak tangannya dengan keras karena herannya, Seraya katanya:

“Subhanallah … ! Sesungguhnya Pencipta orang ini dan Pencipta ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu hanyalah Tuhan Yang Tunggal, keduanya sama benar … !”

Di samping itu ia juga seorang yang amat berani dan berkemauan keras….
Pada beberapa peristiwa dan suasana, keberaniannya itu disisipinya dengan kelihaiannya, hingga disangka orang ia sebagai pengecut atau penggugup. Padahal itu tiada lain dari tipu muslihat yang istimewa yang oleh ‘Amr radhiyallahu ‘anhu digunakannya secara tepat dan dengan kecerdikan mengagumkan untuk membebaskan dirinya dari bahaya yang mengancam … !

Amirul Mu’minin Umar radhiyallahu ‘anhu mengenal bakat dan kelebihannya ini sebaik-baiknya, serta menghitungkannya dengan sepatutnya.

Oleh sebab itu sewaktu ia dikirimnya ke Syria sebelum pergi ke Mesir, dikatakan orang kepada Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa tentara Romawi dipimpin oleh Arthabon, maksudnya panglima yang lihai dan gagah berani.

Jawaban Umar radhiyallahu ‘anhu ialah: “Kita hadapkan arthabon Romawi kepada arthabon Arab, dan baiklah kita saksikan nanti bagaimana akhir kesudahannya Ternyata bahwa pertarungan itu berkesudahan dengan kemenangan mutlak bagi arthabon Arab dan ahli tipu muslihat mereka yang ulung ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, sehingga arthabon Romawi, meninggalkan tentaranya menderita kekalahan dan meluputkan diri ke Mesir …, yang tak lama antaranya akan disusul oleh ‘Amr radhiyallahu ‘anhu ke negeri itu untuk membiarkan bendera dan panji-panji Islam di angkasanya yang aman damai.

Tidak sedikit peristiwa, di mana kecerdikan dan kelicinan ‘Amr radhiyallahu ‘anhu menonjol dengan gemilang! Dalam hal ini kita tidak memasukkan perbuatan sehubungan dengan Abu Musa al-’Asy’ari pada peristiwa tahkim, yakni ketika kedua mereka menyetujui bahwa masing-masing akan menanggalkan Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma dari jabatan mereka, agar urusan itu dikembalikan kepada Kaum Muslimin untuk mereka musyawarahkan bersama. Ternyata Abu Musa radhiyallahu ‘anhu melaksanakan hasil persetujuan tersebut, sementara ‘Amr radhiyallahu ‘anhu tidak melaksanakannya.

Sekiranya kita ingin menyaksikan bagaimana kelicinan serta kesigapan tanggapnya, maka pada peristiwa yang dialaminya bersama komandan benteng Babilon di saat peperangannya dengan orang-orang Romawi di Mesir, atau menurut riwayat-riwayat lain, bersama arthabon Romawi di pertempuran Yarmuk di Syria … !

Yakni ketika ia diundang oleh komandan benteng atau oleh arthabon untuk berunding, dan sementara itu komandan Romawi telah menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk menggulingkan batu besar ke atas kepalanya sewaktu ia hendak pulang meninggalkan benteng itu, sementara segala sesuatu dipersiapkan, agar rencana tersebut dapat berjalan lancar dan menghasilkan apa yang dimaksud mereka.

‘Amr pun berangkat menemui komandan, tanpa sedikit pun menaruh curiga, dan setelah berunding mereka berpisahlah.

Tiba-tiba dalam perjalanannya ke luar benteng, terkilaslah olehnya di atas tembok, gerakan yang mencurigakan, hingga membangkitkan gerakan refleknya dengan amat cepatnya, dan dengan tangkas berhasil menghindarkan diri dengan cara yang mengagumkan.

Dan sekarang ia kembali mendapatkan komandan benteng dengan langkah-langkah yang tepat dan tegap serta kesadaran tinggi yang tak pernah goyah, seolah-olah ia tak dapat dikejutkan oleh sesuatu pun dan tidak dapat dipengaruhi oleh rasa curiga Kemudian ia masuk ke dalam, lalu katanya kepada komandan: “timbul dalam hatiku suatu fikiran yang ingin kusampaikan kepada anda sekarang ini ….. Di pos komandoku sekarang ini sedang menunggu segolongan shahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam angkatan pertama masuk Islam, yang pendapat mereka biasa didengar oleh Amirul Mu’minin radhiyallahu ‘anhu untuk mengambil sesuatu keputusan penting. Bahkan setiap mengirim tentara, mereka selalu diikutsertakan untuk mengawasi tindakan tentara dan langkah-langkah yang mereka ambil. Maka maksudku hendak membawa mereka ke sini agar dapat mendengar dari mulut anda apa yang telah kudengar, hingga mereka beroleh penjelasan yang sebaik-baiknya mengenai urusan kita ini … !”

Komandan Romawi itu secara bersahaja maklum karena nasib mujurnya, ‘Amr lolos dari lobang jarum, dengan sikap gembira ia menyetujui usul ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, hingga bila ‘Amr radhiyallahu ‘anhu nanti kembali dengan sejumlah besar pimpinan dan panglima Islam pilihan, ia akan dapat menjebak mereka semua, daripada hanya ‘Amr seorang Dan secara sembunyi-sembunyi hingga tidak diketahui oleh ‘Amr, dipertahankannyalah untuk tidak mengganggu ‘Amr dan menyiapkan kembali perangkap yang disediakan untuk panglima Islam tadi, guna menghabisi para pemimpin mereka yang utama.

Lalu dilepasnya ‘Amr dengan besar hati, dan disalaminya amat hangat sekali …, disambut oleh ahli siasat dan tipu muslihat Arab itu dengan tertawa dalam hati.Dan di waktu subuh keesokan harinya, dengan memacu kudanya yang meringkik keras dengan nada bangga dan mengejek, ‘Amr radhiyallahu ‘anhu kembali memimpin tentaranya menuju benteng.

Memang, kuda itu merupakan suatu makhluq lain yang banyak mengetahui kelihaian dan kecerdikan tuannya … !

Dan pada tahun ke-43 Hijrah, wafatlah ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu di Mesir, sewaktu ia menjadi gubernur di sana…. Di saat-saat kepergiannya itu, ia mengemukakan riwayat hidupnya, itu secara bersahaja maklum bahwa kepergiannya katanya: “Pada mulanya aku ini seorang kafir, dan orang yang amat keras sekali terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga seandainya aku meninggal pada saat itu, pastilah masuk neraka … !

Kemudian aku bai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tak seorang pun di antara manusia yang lebih kucintai, dan lebih mulia dalam pandangan mataku, daripada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam Dan seandainya aku diminta untuk melukiskannya, maka aku tidak sanggup karena disebabkan hormatku kepadanya, aku tak kuasa menatapnya sepenuh mataku … !
 
Maka seandainya aku meninggal pada saat itu, besar harapan akan menjadi penduduk surga Kemudian setelah itu, aku diberi ujian dengan beroleh kekuasaan begitupun dengan hal-hal lain. Aku tidak tahu, apakah ujian itu akan membawa keuntungan bagi diriku ataukah kerugian… !”

Lalu diangkatnya kepalanya ke arah langit dengan hati yang tunduk, sambil bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Pengasih, katanya: “Ya Allah, daku ini orang yang tak luput dari kesalahan, maka mohon dimaafkan Daku tak sunyi dari kelemahan, maka mohon diberi pertolongan… ! Sekiranya daku tidak beroleh rahmat karunia-Mu, pasti celakalah nasibku… !”

Demikianlah ia asyik dalam bermohon dan berhina diri hingga akhirnya ruhnya naik ke langit tinggi, di sisi Allah Rabbul- ‘izzatl, sementara akhir ucapan penutup hayatnya, ialah : La ilaha illallah. Di pangkuan bumi Mesir, negeri yang diperkenalkannya dengan ajaran Islam itu, bersemayamlah tubuh kasamya.

Dan di atas tanahnya yang keras, majlisnya yang selama ini digunakannya untuk mengajar, mengadili dan mengendalikan pemerintahan, masih tegak berdiri melalui kurun waktu, dinaungi oleh atap mesjidnya yang telah berusia lanjut “Jami’u ‘Amr”, yakni mesjid yang mula pertama didirikan di Mesir, yang disebut di dalamnya asma Allah Yang Tunggal lagi Esa serta dikumandangkan ke setiap pojoknya dari atas mimbarnya kalimat-kalimat Allah serta pokok-pokok Agama Islam.

Uqbah Bin Amir Al-Juhani (Tinggalkan Harta Dampingi Rosulullah SAW)

Akhirnya Rasulullah Saw. tiba di pinggir kota Madinah setelah menempuh perjalanan melelahkan bersama Abu Bakar. Hijrah meninggalkan kota kelahirannya, Mekkah. Penduduk Madinah berdesak-desakan di jalan-jalan dan di loteng-loteng rumah menyambut kedatangan Rasul yang dicintai. Mereka mengucapkan takbir dan tahlil sebagai ungkapan gembira bertemu Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar Shiddiq. Gadis-gadis remaja keluar rumah membawa rebana dengan wajah penuh ceria. Mereka melantunkan nasyid syahdu:

"Thaala'al badru 'alaina
min tsaniiyatil wadaa'
wajabaa syukru 'alaina
mada'aa lillahi daa'"

Arak-arakan mengiringi Rasulullah yang berjalan perlahan-lahan di antara barisan orang banyak. Ucapan takbir dan talil memenuhi langit Madinah. Kerinduan yang selama ini mereka pendam, pecah dengan cucuran air mata bahagia.

Suasan gembira itu merebak ke segenap pelosok kota Madinah dan sekitarnya, menembus lembah dan bukit. Tak terkecuali pada Uqbah bin Amir Al-Juhani yang saat itu tengah sibuk menggembalakan domba-dombanya di gurun pasir dekat kaki bukit. Ia khawatir domba-dombanya itu mati kehausan dan kelaparan.

Namun, setelah ia tahu Rasulullah tiba di Madinah, Uqbah meninggalkan domba-dombanya, dan segera menemui Rasulullah. Saat berhadapan dengan Rasulullah Saw., Uqbah berkata, "Berkenankah Tuan membai'at saya, ya Rasulullah?"
"Siapakah anda?" tanya Rasulullah.
Uqbah menjawab, "Saya Uqbah bin Amir Al-Juhani".
"Bai'at seperti apa yang anda kehendaki. Bai'at 'arabi atau bai'at hijrah?" tanya Rasulullah.
"Saya ingin bai'at hijrah," jawab Uqbah.

Rasululullah membai'at Uqbah seperti bai'at kaum Muhajirin. Setelah itu, ia bermalam di tempat beliau. Esok harinya, Uqbah kembali menggembalakan domba-dombanya.

Uqbah mengajak teman-temannya sesama penggembala untuk bai'ah kepada Rasulullah. Mereka jumlahnya dua belas orang. Mereka tinggal jauh dari keramaian kota Madinah, menggembalakan domba-dombanya di gurun-gurun dan lembah-lembah. Salah seorang dari mereka berkata, "Tidak baik, bila kita tidak mendatangi Rasulullah untuk belajar agama dan mendengarkan wahyu Allah darinya. Setiap hari seorang di antara kita harus pergi ke kota menemui beliau, dan yang tinggal harus bertanggung jawab menggembalakan domba-dombanya."

"Baiklah," jawab Uqbah. "Pergilah kalian satu per satu menemui Rasulullah. Siapa yang mendapat giliran pergi, biarlah aku yang menggembalakan dombanya. Biarlah aku tetap tinggal di sini. Aku bisa menimba ilmu dari kalian. Aku khawatir meninggalkan domba-dombaku kepada siapa pun."

Teman-teman Uqbah pergi satu per satu secara bergantian menemui Rasulullah. Domba yang ditinggalkannya dipecayakan kepada Uqbah untuk digembalakan. Setiap kali mereka pulang, Uqbah selalu menanyakan tentang pelajaran yang baru diterimanya dari Rasulullah.

Lama kelamaan, Uqbah merasa rugi tidak bisa bertemu langsung dengan Rasulullah. 'Aku tak peduli domba-domba ini makan atau tidak. Aku ingin bertemu dengan Rasulullah,' pikirnya dalam hati. Lalu ia tinggalkan domba-domba itu dan berangkat ke Madinah menemui Rasulullah. Di Madinah, Uqbah tinggal di masjid di samping tempat tinggal Rasulullah.

Sejak itu, Uqbah bin Amir Al-Juhani selalu berdampingan dengan Rasulullah Saw. bagaikan bayang-bayang dengan orangnya. Ialah pemegang tali kendali keledai Rasulullah dan menuntunnya kemana pun beliau pergi. Ia selalu berjalan di depan setiap Rasulullah bepergian. Tapi, kadang-kadang Rasulullah memboncenginya di belakang, sehingga Uqbah dijuluki "Radif Rasulullah" (boncengan Rasulullah). Bahkan, pernah Rasulullah Saw. turun dari keledainya dan menyilakan Uqbah mengendarai keledainya.

Suatu ketika, Rasulullah Saw. turun dari keledainya, dan aku disuruh naik menggantikannya. Tak lama kemudian aku turun, dan Rasulullah naik. Beliau bertanya kepadaku, "Hai Uqbah, sukakah engkau aku ajarkan dua buah surat yang tak ada bandingannya?"
"Tentu, ya Rasulullah!" jawabku. Lalu beliau membacakan kepadaku surat "Al-Falaq" dan "An-Naas."

Setelah waktu shalat tiba, beliau membaca kedua surat itu dalam shalat. Beliau berkata kepada Uqbah, "Bacalah kedua surat itu setiap engkau hendak tidur, dan ketika bangun dari tidur." Sejak itu Uqbah selalu membaca kedua surat itu sepanjang hidupnya.


Uqbah bin Amir Al-Juhani (2): Ilmu dan Jihad adalah Jalanku
Tgl. publikasi: 27/10/2000 16:38 WIB
Uqbah bin Amir Al-Juhani memusatkan perhatiannya kepada dua bidang, yaitu ilmu dan jihad. Ia tekuni kedua bidang itu dengan seluruh jiwa raganya. Bahkan ia tak segan-segan mengorbankan apa saja yang dimilikinya hanya untuk memperoleh keduanya.

Bidang ilmu ia reguk langsung dari Rasulullah Saw. Uqbah berhasil menjadi ahli Al-Qur`an, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli fara`id. Ia pun berhasil menjadi seorang sastrawan. Uqbah memiliki suara terindah di antara para ahli baca Al-Qur`an. Hati para sahabat tergugah dan tunduk bila mendengarkan bacaannya yang merdu menggetarkan kalbu. Sehingga air mata mereka bercucuran, karena takut kepada Allah Swt.

Uqbah meninggalkan sebuah mushhaf hasil karyanya sendiri. Mushhaf ini tersimpan di Jami'ah 'Uqbah Ibnu 'Amir (Universitas 'Uqbah Ibnu 'Amir). Di akhir mushhaf tersebut tercantum kalimat "Katabahu 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani" (Ditulis oleh 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani).

Dalam bidang jihad, ia turut berperang bersama Rasulullah Saw. dalam perang Uhud dan peperangan-peperangan sesudahnya. Uqbah termasuk salah seorang sahabat ahli straegi. Dalam peperangan menaklukkan Damsyik, ia mendapat luka. Meski demikian, panglima Abu 'Ubaidah mengirimnya ke Madinah untuk menyampaikan kemenangan demi kemenangan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Tujuh hari tujuh malam, Uqbah mengendarai kudanya untuk menemui Umar.

Pada masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, Uqbah diangkat menjadi gubernur Mesir. Tiga tahun kemudian, Muawiyah menugasinya memimpin peperangan menaklukkan Rodhes di Laut Tengah.

Tatkala mendekati ajal, Uqbah berwasiat kepada anak-anaknya: "Hai anak-anakku! Aku larang kalian melakukan tiga hal. Pertama, jangan menerima hadits Rasulullah, kecuali dari orang yang dipercaya. Kedua, jangan berutang, sekalipun pakaian kalian compang-camping. Ketiga, jangan menulis syair yang menyebabkan lalai dari Al-Qur`an.

Thariq Bin Ziyad (Panglima Pembebasan Spanyol)

Thariq bin Ziyad berasal dari bangsa Barbar, saat ini merupakan daerah sekitar Algeria. Mengenai sukunya, para sejarawan masih berbeda pendapat, dari suku Nafza atau suku Zanata. Ia bekas seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh Musa bin Nushair, Gubernur Afrika Utara dari dinasti Umayyah ketika menaklukkan daerah Tanja (ujung Maroko). Di tangan Musa ini pula ia memeluk Islam bersama orang-orang Barbar lainnya. 
 
Setelah masuk Islam, mereka menjalankan seluruh syariat Islam dengan taat. Oleh karena itu, sebelum Musa bin Nushair pulang ke Afrika, ia meninggalkan beberapa orang Arab untuk mengajari mereka Al-Qur’an dan syariat Islam. Setelah itu Musa bin Nushair mengangkat Thariq, yang merupakan prajurit Musa yang terkuat, menjadi penguasa daerah Tanja dengan 19.000 tentara dari bangsa Barbar, lengkap dengan persenjataannya. 

Pada bulan Rajab tahun 97 H (Juli 711 M), Thariq bin Ziyad mendapat perintah dari Musa bin Nushair untuk membebaskan semenajung Andalusia. Maka, dengan 7000 prajurit yang sebagian besar dari bangsa Barbar, Thariq berangkat menyeberangi selat Andalusia yang jaraknya 13 mil dengan perahu-perahu pemberian Julian, gubernur Ceuta di Afrika Utara, yang bersekutu dengan kaum muslimin untuk menentang raja Roderick, penguasa kerajaan Visigoth di Andalusia.

 

Pada bulan Ramadhan 97 H pasukan kamum muslimin mendarat di pantai karang Andalusia. Thariq beserta pasukannya dihadapkan dengan 25.000 prajurit Visigoth. Sebuah peperangan yang tidak seimbang dalam segi jumlah. Tapi tentu saja, bagi kaum muslimin hal itu sama sekali bukan masalah. Bukankah sekian banyak peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslim, adalah ketika jumlah mereka jauh lebih sedikit dari musuh.

Pada mulanya kedatangan pasukan Thariq ini membuat heran Tudmir, penguasa setempat yang berada di bawah kekuasaan Raja Roderick, karena mereka datang dari arah yang tidak diduga-duga, yaitu dari arah laut.

Namun, yang fenomenal adalah, tindakan yang diambil oleh sang panglima Thariq bin Ziyad yang memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa para pasukan kaum muslimin!!! Sebuah langkah yang sampai sekarang dicatat dalam sejarah sebagai suatu bentuk keberanian dan keyakinan yang tiada banding, yang hanya bisa dilakukan atas dasar keimanan yang besar dan keyakinan akan pertolongan Allah SWT ditengah suasana pertempuran dan  kondisi pasukan muslim yang saat itu sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Sebuah pidato panjang yang disampaikan oleh panglima mereka, Thariq bin Ziyad yang membuat jiwa kaum muslimin yang siap berjihad menggelora……

“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!!”

Akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh Thariq beserta pasukan kaum muslimin. Raja Roderick sendiri tewas dalam pertempuran tersebut, Andalusia pun terbebas.

Thariq kemudian meminta tambahan pasukan kepada Gubernur Musa. Lalu dikirimlah 5000 prajurit yang sebagian besar berasal dari bangsa Barbar. Satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduduki tentara Thariq: Elvira, Granada, Cordoba, Malaga dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Visigoth. Antara musim semi sampai musim panas tahun 711 H, Thariq telah berhasil menguasai separuh wilayah Andalusia. 

Dalam kitab Tarikh al-Andalus, disebutkan bahwa sebelum meraih keberhasilan ini, Thariq telah mendapatkan firasat bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah SAW bersama keempat khulafa’ al-Rasyidin berjalan di atas air hingga menjumpainya, lalu Rasulullah SAW memberitahukan kabar gembira bahwa ia akan berhasil menaklukkan Andalusia. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk selalu bersama kaum muslimin dan menepati janji.

Setelah meraih kemenangan ini, Thariq menulis surat kepada Khalifah Musa, mempersembahkan kemenangan kaum muslimin ini. Dalam suratnya itu ia menulis: 

“Saya telah menjalankan perintah anda. Allah telah memudahkan kami memasuki negeri Andalusia.”

Nama pejuang Islam ini begitu harum, hingga harus diabadikan untuk sebuah semenanjung perbukitan karang setinggi 425 m tempat pasukan Thariq mendarat pertama kali di pantai tenggara Spanyol, yaitu Gibraltar atau Jabal Tariq

Umair Bin Sa'ad (Guberhur yang Zuhud dan Wara')

 Khalifah Umar bin Khaththab RA mengutus Umair bin Sa'ad RA untuk menjadi gubernur Himsha. Namun setelah memerintah selama satu tahun Umar tidak pernah mendapat kabar darinya sedikit pun. Lalu Umar meminta kepada sekretarisnya, "Tulislah surat untuk Umair, demi Allah dia telah mengkhianati kita."
 
Surat itu berbunyi,

"Jika engkau telah menerima suratku ini maka segeralah menghadap membawa pajak kaum muslimin, langsung setelah engkau melihat surat ini."

Umair bergegas mengambil kantong kulitnya. Ia memasukkan bekal perjalanannya dan tempat makannya. Kemudian menggantungkan peralatan-peralatan tersebut pada bahunya, juga membawa tongkat besi. Ia berjalan kaki dari Himsha menuju Madinah.Diriwayatkan bahwa saat tiba di Madinah beliau kelihatan pucat wajahnya, lusuh dengan rambut panjang. Kemudian beliau menghadap Umar seraya mengucapkan salam, "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai Amirul Mukminin."
Umar bertanya, "Bagaimana kabarmu?"
Umair menjawab, "Sebagaimana yang anda lihat! Bukankah badanku sehat, darahku suci, aku membawa kebaikan isi dunia!"
 
Umar bertanya, "Apa yang kau bawa?" (Umar RA mengira ia telah membawa harta pajak)
Umair menjawab, "Aku membawa kantong kulit, tas tempat aku menaruh bekal perjalananku; mangkuk besar yang aku gunakan untuk makan atau aku jadikan sebagai tempat air ketika aku mandi dan mencuci pakaian, ember tempat aku membawa air wudhu dan air minumku, tongkat yang aku gunakan untuk bersandar atau melawan musuh jika sewaktu-waktu bertemu. Demi Allah sesungguhnya tiada barang dunia kecuali telah aku bawa bersama bawaanku." Umar bertanya, "Kamu datang kemari dengan berjalan kaki?"
 
Umair menjawab, "Betul" Umar bertanya, "Apakah tidak ada orang yang memberi kendaraan kepadamu untuk engkau tunggangi?"Umair menjawab, "Mereka tidak memberi karena aku tidak meminta mereka untuk itu."Umar berkomentar, "Mereka adalah seburuk-buruknya orang Islam."Umair berkata kepada Umar, "Bertawakallah kepada Allah wahai Umar, sesungguhya Allah melarangmu berghibah. Padahal aku senantiasa melihat mereka melaksanakan shalat Shubuh."Umar berkata, "Lalu mana laporanmu? Dan apa yang telah engkau lakukan?"Umair menjawab, "Apa maksud pertanyaanmu wahai Amirul Mukminin?"Umar mengucapkan, "SubhanallahUmair berkata, "Kalau bukan karena aku khawatir membuatmu susah hati aku tidak akan melaporkan kepadamu. Engkau mengutusku ke suatu wilayah sehingga setibanya aku di negeri itu aku mengumpulkan orang-orang shalih dari penduduk tersebut, aku memungut pajak dari mereka, sampai jika mereka telah mengumpulkannya, maka aku bagikan kepada yang berhak. Kalau engkau berhak menerima bagiannya pasti aku membawakan bagian itu untukmu."
Umar berkata, "Lalu engkau datang tidak membawa sesuatu?"Umair menjawab, “Tidak.”Umar berkata, "Perpanjanglah masa tugas Umair."
 
Umair berkata, "Sesungguhnya tugas ini tidak akan saya tunaikan untukmu juga pemimpin sesudahmu. Demi Allah, dengan jabatan tersebut aku tidak selamat juga tidak pernah akan selamat. Telah aku katakan kepada staffku, 'Allah telah merendahkan martabatmu wahai Umair, dengan jabatan itu,' apakah untuk hal demikian itu engkau tawarkan jabatan kepadaku lagi wahai Umar? Sesungguhnya hari-hariku yang paling tidak menguntungkan adalah saat aku menjadi wakilmu." Kemudian Umair minta pamit untuk pulang ke rumahnya, Umar pun mengizinkan.

Seorang perawi berkata, "Jarak antara Himsha dengan Madinah adalah beberapa mil. Ketika Umair pulang ke Himsha Umar berkata, 'Sepertinya Umair menghianati kami.' Kemudian Umar mengutus seorang ajudan yang sering dipanggil dengan nama al-Harits dan dibekali 100 dinar. Umar berpesan, 'Pergilah ke tempat Umair usahakan engkau menginap di rumahnya sebagai seorang tamu. Apabila engkau melihat bukti-bukti kekayaan, kembalilah! Namun jika kondisinya memprihatinkan berikanlah 100 dinar ini kepadanya.

Kemudian al-Harits berangkat menuju Himsha. Setibanya di kediaman Umair, ia lihat Umair sedang duduk menenun jubahnya dengan disandarkan ke sisi dinding. Al-Harits mengucapkan salam kepadanya, lalu Umair berkata, 'Mampirlah kemari, semoga Allah mencurahkan kasih sayangNya kepadamu.' Benar lelaki tersebut mampir, Umair menyapa, 'Dari mana anda datang?'
Ia menjawab, 'Dari Madinah.'
Umair berkata, 'Bagaimana kondisi Amirul Mukminin ketika kamu berangkat kemari?'Ia menjawab, 'Baik-baik saja.' Umair bertanya, 'Bagaimana pula kondisi umat Islam?'Ia menjawab, 'Mereka juga baik-baik saja.' Umair bertanya, 'Bukankah beliau (Khalifah Umar) akan menegakkan hudud (hukuman)?'

Ia menjawab, 'Benar. Beliau memukul anaknya yang melakukan pelanggaran, sehingga meninggal dunia karena kerasnya pukulan itu.'Umair berkata, 'Ya Allah, tolonglah Umar. Sesungguhnya aku tidak mengenalnya kecuali ia seorang yang tegas (keras) karena kecintaanya kepadaMu.'

Diriwayatkan bahwa al-Harits tinggal di rumah Umair selama tiga hari. Keluarga ini tidak memiliki bahan makanan kecuali gandum sedikit, mereka sengaja menyisihkan untuk disuguhkan pada tamu. Sampai datang suatu hari mereka kelihatan sangat susah, ketika itu Umair berkata, 'Kamu tinggal di sini tapi kami tidak mampu melayani dengan baik, jika ingin berpindah dari sini silahkan.' Kemudian al-Harits mengeluarkan uang dinar tersebut dan memberikan kepada Umair. Al-Harits berkata, 'Uang dinar ini diberikan Amirul Mukminin kepadamu, gunakanlah untuk memenuhi kebutuhanmu.' Seketika itu Umair berteriak sambil berkata, 'Saya tidak membutuhkan uang ini, kembalikan.' Isteri Umair berkata, 'Kalau engkau membutuhkan ambillah, jika tidak maka berikan pada yang berhak.' Umair berkata, 'Demi Allah aku tidak memiliki kepentingan dengan dinar itu.' Kemudian Isteri Umair merobek bagian bawah pakaiannya, lalu ia memberikan sobekan kain itu kepada suaminya. Uang itu dimasukkan Umair ke dalam kain sobek tersebut lalu keluar rumah untuk membagi-bagikannya kepada anak-anak para syuhada dan fakir miskin.Setelah selesai ia pulang ke rumah.Ajudan Umar mengira dirinya akan mendapat bagian dinar itu sekalipun sedikit (ternyata tidak -pent). Umair berkata, 'Aku berkirim salam kepada Amirul Mukminin.'
 
Sekarang al-Harits kembali menghadap Umar. Ketika itu Umar bertanya, 'Apa yang kamu saksikan di sana?'Al-Harits menjawab, 'Wahai Amirul Mukminin, aku lihat kondisinya sangat memprihatinkan.'Umar bertanya, 'Bagaimana dia menggunakan dinar tersebut?' Al-Harits menjawab, 'Aku tidak tahu.' Lalu Umar menulis surat kepada Umair, 'Jika suratku ini datang kepadamu, janganlah engkau letakkan dari tanganmu kecuali engkau segera menghadap kepadaku.' Umair pun datang menghadap Umar RA, setelah ia masuk ruangan, Umar bertanya, 'Apa yang engkau lakukan dengan uang dinar tersebut?'Ia menjawab, 'Terserah aku bagaimana memanfaatkannya, mengapa engkau menanyakan kegunaan uang dinar itu?' Umar berkata, 'Aku mohon padamu, berikan laporan kepadaku tentang penggunaan uang dinar itu!'

Umair menjawab, 'Aku pergunakan untuk diriku.'Umar berkata, 'Semoga Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepadamu.' Kemudian Umar memerintahkan agar Umair dibekali tepung makanan dan dua helai pakaian. Umair berkata, 'Kalau berupa makanan, aku tidak membutuhkannya, karena aku telah meninggalkan dua sha’ gandum untuk kebutuhan keluargaku, makanan itu akan cukup sampai aku pulang lagi dan memakannya karena Allah senantiasa melimpahkan rizkiNya.' Umair tidak mengambil makanan yang ditawarkan tadi. Adapun mengenai dua helai pakaian, Umair berkata, 'Ummu fulan tidak memiliki pakaian,' lalu beliau mengambil keduanya kemudian pulang ke rumah (Himsha).
 
Tidak berselang lama, Umair meninggal dunia, semoga Allah mencurahkan rahmatNya. Berita wafatnya sampai ke Umar. Beliau merasa terpukul dan iba. Kemudian pada suatu hari beliau keluar dengan berjalan kaki bersama para sahabat menuju Baqi'ul Garqad. Umar berkata kepada para sahabat, 'Hendaknya setiap kalian mempunyai harapan (cita-cita).' Salah seorang di antara mereka berkata, 'Wahai Amirul Mukminin aku ingin sekiranya aku mempunyai harta maka harta itu akan aku gunakan untuk memerdekakan budak karena Allah Ta’ala sekian dan untuk anu sekian.'


Sahabat yang lain berkata, 'Wahai Amirul Mukminin aku ingin sekiranya mempunyai harta maka akan aku infakkan di jalan Allah.' Yang lain berkata, 'Sekiranya aku mempunyai kekuatan tentu aku akan membuka saluran air Zam-zam untuk jamaah haji Baitullah.'
Lalu Umar berkata, 'Kalau aku, ingin memiliki seseorang seperti Umair bin Sa'ad, aku meminta pertolongan kepadanya dalam urusan kaum Muslimin'."

Abu Ubaid Bin Mas'ud (Penaklukan Diirak Periode II)

24 Mei 2012

Penaklukan daerah Irak pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq di bawah komando Khalid bin al-Walid pada fase awal dari penaklukan-penaklukan Islam terhadap daerah Timur adalah langkah awal dari penaklukan-penaklukan berikutnya yang terjadi pada masa Khulafa’ur Rasyidin, dan pada masa Umar ra. langkah-langkah penaklukan ini disempurnakan dengan beberapa tahap, inilah salah satunya:

A. PENGANGKATAN ABU UBAID ATS-TSAQAFI SBG  PANGLIMA PERANG DI IRAK

Setelah Abu Bakar ash-Shiddiq Wafat dan dikuburkan pada malam selasa tepatnya tanggal 22 bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, Umar ra. segera naik menjadi penggantinya. Kebijakan pertamanya adalah memberikan motivasi langsung kepada kaum muslimin untuk memerangi Irak dengan besarnya ganjaran pahala yang akan mereka dapatkan atas penaklukan ini. Namun tidak satupun yang berdiri memenuhi ajakannya. Mereka tidak ingin memerangi bangsa Persia disebabkan kekuatan mereka yang begitu dahsyatnya dan betapa sulitnya untuk dapat menaklukkan mereka.

Pada hari kedua dan ketiga Umar ra. kembali memotivasi kaum muslimin untuk berperang menaklukkan Persia, namun tidak satupun dari mereka bersemangat menyambut seruannya, maka Mutsanna bin Haritsah turut berbicara dengan baik, sambil memberitakan kepada mereka bagaimana Allah telah menaklukkan sebagian besar wilayah Irak di bawah komando Khalid, dan betapa banyaknya harta, perbendaharaan, serta kekayaan yang mereka miliki, tetapi tidak seorangpun yang menyambut seruan ini menjelang hari ketiga.

Pada hari ke empat orang yang pertama kali menjawab seruan Jihad ini adalah Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi, setelah itu maka mulailah satu persatu mendaftarkan dirinya sebagai pasukan sukarelawan. Sebagian dari warga Madinah ada yang diwajibkan Umar ra. untuk ikut terjun dalam penaklukan ini, dan Umar ra. mengangkat Abu Ubaid sebagai pimpinan mereka padahal dia tidak tergolong sahabat Nabi, ada yang bertanya tentang kebijakan Umar ra. ini, “Kenapa tidak anda tunjuk sebagai pimpinan seorang dari Sahabat Nabi?” Maka Umar ra. menjawab, “Sesungguhnya aku akan memilih sebagai pemimpin pasukan orang yang pertama kali menjawab seruan jihadku, sesungguhnya kalian akan dinilai sebagai orang-orang terdepan disebabkan menolong agama ini, ternyata dialah (Abu Ubaid) yang telah mendahuli kalian.” Setelah itu Umar ra. memanggilnya dan memberikan wasiat kepada Abu Ubaid agar selalu bertakwa dan wasiat-wasiat kebaikan lainnya untuk dirinya dan kaum muslimin. Umar ra. memerintahkannya agar selalu bermusyawarah dengan para sahabat Rasulullah, dan bermusyawarah dengan Salith bin Qeis461 yang telah banyak berpengalaman dalam bertempur.

Pasukan Islam mulai bergerak menuju Negeri Irak dengan personil pasukan sebanyak 7000 orang. Umar ra. Telah menulis surat kepada Abu Ubaidah agar mengembalikan bala bantuan yang datang dari Irak di bawah komando Khalid ke negeri Syam agar dikembalikan ke posisi mereka semula di Irak. Segera Abu Ubaidah me-nyiapkan sepuluh ribu personil pasukan dengan pimpinan Hasyim bin Utbah. Umar ra. juga mengirim Jarir bin Abdillah al-Bajali menuju Irak dengan memba-wa pasukan sebanyak 4000 orang, maka dia segera berangkat ke Kufah.462

Ketika kaum muslimin telah sampai di Irak mereka mendapati suasana politik di kerajaan itu dalam keadaan goncang, terakhir mereka mengangkat Buran, puteri Kisra, sebagai raja mereka setelah menggulingkan bahkan membunuh raja sebelumnya yaitu Azar Maidakhat. Sejak itu Buran menyerahkan urusan pemerintahan secara total kepada Rustam bin Farrakhzad selama sepuluh tahun ke depan untuk mengurusi peperangan, dan setelah sepuluh tahun berlalu maka kerajaan akan kembali dipegang oleh keluarga Kisra. Maka Rustam bersedia menerima ketentuan itu. Rustam adalah seorang ahli nujum (astronom) yang cukup handal, ketika ditanyakan kepadanya mengapa dia bersedia rnenerima jabatan itu padahal dia tahu bahwa dia tidak akan mampu melaksanakannya, maka dia menjawab, “Karena Tamak dan cinta jabatan.”463

B. PEPERANGAN NAMARIQ TAHUN 13 H.

Rustam mengutus pasukannya di bawah pimpinan seorang panglimanya yang bernama Jaban, dan diiringi Jusynus dan Mardiansyah di sayap kiri dan kanan pasukan. Panglima tersebut adalah seorang yang dikebiri dan sebe-lumnya adalah pengawal istana Persia. Akhirnya mereka bertemu dengan Abu Ubaid di suatu tempat yang bernama an-Namariq464 -yang terletak antara Hirah dan Qadisiyah- ketika itu pasukan berkuda tentara Islam dipimpin oleh al-Mutsanna bin Haritsah, sayap kanan pasukan dipimpin oleh Walid bin Jidarah, sementara sayap kiri pasukan dipimpin oleh Amr al-Haitsam as-Sulami.

Akhirnya pecah pertempuran yang sangat sengit antara dua pasukan. Allah mengalahkan tentara Persia, bahkan Jaban dan Mardiansyah keduanya tertawan. Adapun Mardiansyah terakhir dibunuh oleh orang yang menawannya, sementara Jaban berhasil mengelabui orang yang menawannya hingga akhirnya dibebaskan, namun kaum muslimin segera menangkapnya dan mereka tidak akan melepaskannya. Mereka berkata, “Yang kita tawan ini adalah panglima mereka!” Mereka segera menggiringnya ke hadapan Abu Ubaid sambil berkata, “Bunuhlah orang ini, dialah pemimpin pasukan Persia.” Abu Ubaid menjawab, “Walaupun dia pemimpin mereka namun aku tidak akan membunuhnya sebab seorang tentara Muslim telah memberikan jaminan keamanan baginya.”465

C. PEPERANGAN SAQQATIYAH DI KASKAR.

Setelah itu Abu Ubaid mengejar pasukan Persia yang melarikan diri dan bersembunyi di dalam kota Kaskar466 milik anak dari bibi Kisra yang bernama Narsi. Maka Narsi segera mengajak mereka kembali memerangi Abu Ubaid. Akhirnya mereka bertemu dengan pasukan Abu Ubaid di Saqqatiyah467 dan kaum muslimin kembali mengalahkan mereka serta berhasil mendapatkan harta rampasan perang yang banyak dan makanan yang berlimpah, bagi Allah segala puji.

Setelah itu Abu Ubaid mengirim seperlimanya kepada Umar bin al-Khaththab ra.di Madinah. Dalam peristiwa ini salah seorang melantunkan bait syairnya,468

Demi sumpahku, dan urnurku bukanlah hal yang sederhana.
Ketika aku berada di pagi hari aku melihat tentara Namariq dihinakan

Oleh para pasukan yang telah bersiap-siap hijrah menuju Rabb mereka
Menyeret-nyeret tentara Namariq antara Durta dan Bariq
Kami telah menglmbisi mereka antara Marj Musllah dan Hawafi di sisijalan
Bazariq

D.PEPERANGAN BARUSMA TAHUN 13 H.

Setelah itu mereka bertemu di suatu tempat yang terletak antara Kaskar dan Saqqatiyah yang disebut Barusma. Di sayap kanan dan kiri Nursi dipimpin oleh dua anak bibinya Bandawaih dan Bairuwaih. Sementara Rustam telah mempersiapkan pasukan tambahan yang dipimpin oleh Jalinius. Ketika mendengar berita tentang mereka, Abu Ubaid segera menyerang Nursi terlebih dahulu sebelum pasukan bantuan dari Rustam tiba ke tempat itu.

Akhirnya terjadilah peperangan yang dahsyat antara kedua pasukan, namun akhirnya tantara Persia terkalahkan dan Nursi melarikan diri. Abu Ubaid segera mengirim al-Mutsanna binHaritsah dan sekelompok tentara untuk menaklukkan daerah-daerah yang berada disekitar tempat itu seperti daerah sungai Jur dan lain-lainnya.

Maka al-Mutsanna berhasil menaklukkan seluruh daerah baik dengan perang ataupun dengan damai. Kemudian mereka diwajibkan membayar jizyah (pajak diri) serta kharaj (hasil dari bumi mereka). Waktu itu kaum muslimin mendapatkan harta rampasan perang yang banyak, alhamdulillah. Mereka juga dapat mengalahkan Jalinius yang datang ingin membantu Jaban, serta mengambil seluruh ramapasan perang yang mereka bawa. Sementara Jalinius berhasil lolos melarikan diri kembali kepada kaumya dalam keadaan hina dina.469

E.PEPERANGAN AL-JISR (JEMBATAN) YANG DIPIMPIN OLEH ABU UBAID ATS-TSAQAFI

Jalinius berhasil melarikan diri setelah pasukannya porak-poranda di-habisi oleh pasukan kaum muslimin. Maka para panglima Persia bermusyawarah antara sesama mereka, dan berkumpul di tempat Rustam. Rustam segera mengirim pasukan dalam jumlah yang sangat besar di bawah komando Panglima Zal Hajib Bahman Jazawaih. 

Rustam menyerahkan kepadanya panji Kisra yang diberi nama Dirafsy (Panji agung) yang dijadikan Persia sebagai lambang kemenangan jika membawanya berperang. Bendera tersebut terbuat dari kulit harimau yang lebarnya sebanyak 8 depa, dan panjangnya 12 depa. Mereka bergerak hingga tiba tidak jauh dari tentara kaum muslimin. Jarak antara mereka dan tentara kaum muslimin hanya dibatasi oleh sungai besar yang terbentang di atasnya jembatan panjang.

Maka tentara Persia mengirim utusan kepada kaum muslimin dan berkata, “Silahkan kalian yang datang kepada kami, atau kami yang akan datang kepada kalian.” Kaum muslimin berkata kepada Amir mereka Abu Ubaid, “Suruh mereka menyeberangi sungai dan datang ke kita.” Namun Abu Ubaid berkata, “Mereka tidak lebih berani mati dibandingkan kita.” Maka dia segera mengerahkan pasukannya menyerbu musuh dan bertemulah dua pasukan di atas jenbatan yang sangat sempit, maka pecahlah pertempuran yang sangat dahsyat dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Pasukan Islam hanya berjumlah 10.000 personil. Di sisi lain tentara Persia datang dengan pasukan bergajah yang membawa gemerincing untuk menakut-nakuti kuda kaum muslimin. Setiap kali mereka menerobos kaum muslimin, pasukan berkuda kaum muslimin lari ketakutan dari pasukan bergajah disebabkan suara gemerincing lonceng yang dibawa gajah-gajah tersebut Hanya sedikit sekali kuda yang dapat bertahan. Jika kaum muslimin ingin menyerbu ke dalam pasukan lawan maka kuda-kuda mereka tidak berani maju mendekati pasukan bergajah, sementara tentara Persia memanahi mereka dari atas dengan leluasa hingga banyak tentara muslim terluka.

Telah terbunuh 6000 tentara kaum muslimin, maka segera Abu Ubaid merubah taktik perang dan menginstruksikan kepada kaum muslimin untuk membunuh gajah-gajah itu terlebih dahulu. Maka dengan segera pasukan Islam melompat dan berhasil membunuh seluruh gajah-gajah tersebut. ketika itu pasukan Persia menempatkan seekor gajah putih yang paling besar di depan pasukannya. Maka dengan segera Abu Ubaid maju dan memotong belalainya dengan pedangnya. Gajah itu menjadi marah dan menjerit sekuatnya kemudian Abu Ubaid berusaha kembali menyerang, namun Gajah putih itu berhasil menginjaknya hingga tewas. Setelah itu pengganti Abu Ubaid maju dan dia telah diwasiatkan sebelumnya untuk menjadi pimpinan, namun orang tersebut kembali gugur.

Kemudian digantikan oleh pemimpin yang selanjutnya dari Bani Tsaqif hingga tujuh dari mereka telah tewas -sebelumnya mereka telah ditunjuk oleh Abu Ubaid untuk saling menggantikan yang lain jika tewas terbunuh- kemudian kepemimpinan pindah ke tangan al-Mutsanna bin Haritsah atas dasar wasiat dari Abu Ubaid pula. Ketika kaum mulimin melihat peristiwa ini mereka melemah, padahal ham-pir saja mereka memperoleh kemenangan seandainya mereka dapat bersabar. 

Tetapi mereka menjadi lemah dan kekuatan mereka hilang, mereka lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran, sementara tentara Persia dengan leluasa membunuhi mereka dari belakang hingga banyak sekali korban yang berjatuhan dan barisan tentara Islam telah kacau balau, mereka berlari menuju jembatan, dan akhirnya jembatan runtuh. Akhirnya sisa pasukan yang berada di medan pertempuran benar-benar tidak berdaya dan pasrah ditangan tentara Persia dan sebagian hanyut tenggelam di Sungai Eufrat kira-kira sebanyak 4000 orang. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

F.Tindakan al-Mutsanna Menyelamatkan Pasukan

Kemudian al-Mutsanna berjalan dan berhenti di tepi jembatan dari arah mereka datang ketika mereka mulai kalah sebagian tentara melompat ke sungai dan tenggelam maka al-Mutsanna menyeru, “Wahai manusia menyingkirlah dan aku akan bertahan di sisi jembatan ini dan tidak akan melewatinya hingga kita seluruhnya selamat dan pergi dari sini tanpa ada yang tersisa” ketika orang-orang mulai mundur teratur ke arah yang lain maka al-Mutsanna berjalan menjaga mereka bersama para jagoan Islam yang telah banyak terluka parah. Diantara pasukannya ada yang pergi ke padang luas tidak diketahui rimbanya, ada yang kembali ke Madinah dalam keadaan ketakutan.470

Berita kekalahan ini dibawa oleh Abdullah bin Zaid bin Asim al-Mazini kepada Umar bin al-Khaththab ra.yang sedang berada di atas mimbar. Maka Umar ra. segera bertanya kepadanya, “Apa berita yang kau bawa wahai Abdullah bin Zaid?” Dia berkata, “Telah datang kepadamu berita yang pasti wahai Amirul mukminin.” Kemudian Abdullah naik ke mimbar dan membisikkan padanya tentang kekalahan tentara kaum muslimin, sebagian ulama sejarah menyebutkan bahwa yang membawa berita adalah Abdullah bin Yazid bin Husain al-Khutami,471 wallahu a’lam.

G.PEPERANGAN BUWAIB DAN KAUM MUSLIMIN MEMBALAS KEKALAHAN MEREKA

Ketika para pemimipin Persia mendengar berita kekalahan kaum muslimin di peristiwa jembatan sungai Eufrat, dan mendengar banyaknya jumlah tentara al-Mutsanna, maka mereka mengutus pasukan lain di bawah koman-do Mihran, dan akhirnya dua pasukan yang berseteru ini bertemu di suatu tempat yang disebut dengan al-Buwaib sekarang berada dekat dengan kota Kufah dan pembatas antara dua pasukan ini hanyalah sungai Eufrat.

Tentara Persia kembali mengirimkan utusannya dan bertanya, “Menyeberanglah kepada kami atau kami yang menyeberang kepada kalian!” Tentara Islam menjawab, “Kalianlah yang seharusnya menyeberang kepada kami.” Akhirnya tentara Persia menyeberangi jembatan dan bertemulah dua pasukan. Kejadian ini bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 13 H. Maka al-Mutsanna mengharuskan kaum muslimin unruk

berbuka dan tidak berpuasa waktu itu Maka seluruhnya sepakat berbuka agar mereka lebih kuat dalam menghadapi musuh. al-Mutsanna melewati tiap panjipanji yang dibawa masing-masing pemimpin pasukan sambil memberikan nasehat kepada mereka agar semangat berjihad, banyak bersabar dan diam.

Di antara pasukannya terdapat Jarir bin Abdillah al-Bajali dan beberapa orang dari kalangan senior sahabat. Al-Mutsanna menginstruksikan kepada mereka, “Aku akan bertakbir sebanyak tiga kali maka bersiap-siaplah, jika aku bertakbir yang keempat kalinya maka serbulah musuh dan tembus pertahanan mereka.” Maka seluruh prajurit siap patuh dan taat dengan aba-aba yang akan diserukan al-Mutsanna kelak.

Ketika dia mulai mengumandangkan takbir yang pertama, tentara Persia segera mendahului dan menyerbu mereka, dan pertempuran sengit kembali pecah. Al-Mutsanna melihat ada celah-celah terbuka di barisan tentaranya, maka segera dia mengutus seseorang dan berkata, “Amir kalian menyampaikan kepada kalian salam dan berkata, ‘Jangan kalian permalukan kaum muslimin sekali ini’.” Maka mereka menjawab, “Ya.” Mereka segera mengisi celah-celah yang terbuka dari barisan mereka.

Tatkala al-Mutsanna melihat itu dan mereka dari Bani Ijl- dia tertawa kagum dan kembali mengutus seseorang agar menyampaikan pesannya, “Wahai kaum muslimin ingatlah kebiasaan kalian jika kalian menolong agama Allah pasti Dia akan menolong kalian.” Maka al-Mutsanna dan kaum muslimin berdoa kepada Allah agar memenangkan mereka. Ketika peperangan berjalan dengan alot, al-Mutsanna mengumpulkan sebagian dari sahabatnya para pejuang dan pahlawan yang gagah berani agar melindungi dirinya dari belakang. Setelah itu al-Mutsanna menyerang Mihran dan menariknya dari tempatnya hingga masuk ke sisi kanan. Kemudian datang al-Munzir bin Hasan bin Dhirar adh-Dhabbi turut menyerang dan menikamnya. Setelah itu jarir bin Abdillah al-Bajali secepat kilat memenggal lehernya hingga kepalanya terpisah dari badan.

Keduanya pun memperebutkan salb (harta maupun senjata yang ada pada musuh, pent.) milik Mihran, Jarir mengambil senjatanya dan al-Mundzir mengambil ikatpinggangnya. Melihat kejadian itu kaum Majusi kocar-kacir berlari meyelamatkan diri.

Sementara kaum muslimin dengan leluasa menghabisi mereka dari belakang sambil menceraiberaikan anggota tubuh mereka. Kemudian al-Mutsanna mendahuli mereka di dekat jembatan sambil menghalangi kaum Persia yang akan melarikan diri agar seluruhnya dapat dimusnahkan.

Maka sejak siang hingga malam hari mereka sibuk menghabisi pasukan musuh, hingga ada yang mengatakan bahwa saat itu pasukan Persia yang terbunuh maupun tenggelam mencapai 100.000 orang. Alhamdulillah, segala puji atas nikmat-Nya. Ketika itu kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan perang dalam jumlah yang sangat besar lengkap dengan bahan makanan yang ber-limpah ruah. Kemudian dengan segera berita kemenangan ini beserta seper-lima dari rampasan perang di kirimkan kepada Umar ra.
Pada peristiwa ini banyak juga di antara senior pasukan yang terbunuh. Setelah pertempuran ini hancurlah reputasi Persia diseluruh wilayah. Dengan demikian para sahabat semakin mudah menaklukkan wilayah-wilayah mereka yang terletak antara sungai Eurfat dan dan sungai Tigris. Mereka juga berhasil membawa harta rampasan perang yang tidak terhitung banyaknya.472 Banyak kisah yang terjadi setelah peperangan Buwaib yang terlalu panjang jika dikisahkan, peperangan besar di Irak ini setara dengan pertempuran Yarmuk yang terjadi di wilayah Syam.

H.KESEPAKATAN PERSIA UNTUK MENGANGKAT YAZDIGRID 

Konon Syira berhasil mengumpulkan seluruh keluarga Kisra dalam istana putih, mereka kemudian menyembelih seluruh anak lelakinya. Tetapi ibu Yazdigrid berhasil menyembunyikan anaknya, dan memberikanya kepada paman-pamannya untuk kemudian dilarikan secara diam-diam hingga sampai di negeri mereka. Ketika terjadi kekalahan mereka yang telak di peperangan Buwaib dan banyak pasukan mereka yang terbunuh -sebagaimana yang telah kita sebutkan- dan kaum muslimin mengejar mereka dan berhasil memenangkan pertempuran, bahkan dapat menguasai seluruh wilayah mereka dan tempat yang mereka duduki sebelumnya, maka mereka berkumpul dan bermusyawarah.Mereka menghadirkan dua panglima senior mereka yaitu Rustam dan Fairuzan.

Akhirnya mereka saling bermufakat dan terakhir berkata kepada dua panglima ini, “Jika kalian berdua tidak dapat bertempur dengan baik dan mengalahkan mereka maka kami akan membunuh kalian berdua untuk mengobati rasa geram kami.” Kemudian mereka mengusulkan agar mendatangkan seluruh istri-istri kisra dari seluruh penjuru. Jika ada di antara mereka yang memiliki anak maka dia akan dinobatkan menjadi raja. Akhirnya mereka ditunjukkan kepada Ibu Yazdigrid dan mereka segera memanggilnya beserta anaknya.

Maka sejak itu mereka menobatkan Yazdigrid menjadi raja mereka yang masih berusia 21 tahun. Dia adalah anak keturunan Syahriyar bin Kisra. Setelah itu mereka mencopot Buran, dan berusaha mengambil alih kekuasaan darinya. Mereka bergembira di bawah pemerintahan raja baru mereka, dan mereka siap untuk mempertahankan negeri mereka sebaik-baiknya, dengan itu kekuatan mereka menjadi pulih kembali.

Setelah itu mereka mengirim surat ke seluruh wilayah bekas jajahan mereka agar membatalkan kesepakatan damai yang telah dibuat dengan para sahabat Nabi. Maka para sahabat segera memberitahukan hal ini kepada Umar ra.. Umar ra. menginstruksikan kepada mereka untuk meninggalkan wilayah ter-sebut dengan segera dan berkumpul di seluruh ujung wilayah Persia sambil mengitari mereka di sepanjang sungai. Umar ra. memesankan agar setiap kabilah selalu mengawasi kabilah lainnya agar segala kejadian yang terjadi pada satu kabilah dapat diketahui oleh kabilah yang berdekatan dengannya, peristiwa ini terjadi pada tahun 13 H.473